Senin, 05 November 2012

“KONSEP DASAR TASAWUF” penulis malakah Umi Nadhiroh


 “KONSEP DASAR TASAWUF”
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manusia sebagaimana yang disebutkan Ibnu Khaldun memiliki panca indra (anggota Tubuh), akal pikiran dan hati sanubari. Ketiganya harus bersih, optimal dan sehat sehingga dapat berfungsi secara harmonis. Maka untuk mengoptimalkan ketiganya tersebut dibutuhkan beberapa ilmu yang sesuai dengan fungsinya masing-masing.[1]
Persoalan mengenai Tasawwuf sering menjadi tajuk perbincangan golongan yang prihatin terhadap pengamalan agama dalam kehidupan. Ada pihak yang menyokong dan memperjuangkannya bahkan meletakkan ia sebagai salah satu bagian sendi agama ini. Ada juga pihak yang mempertikaikan kebenaran ajarannya adakah benar-benar Islami? Atau ia hanya hasil serapan budaya dan kelompok ciptaan barat yang masuk dalam umat Islam?
Kajian ringkas ini mencoba menjelaskan tentang makna Tasawwuf dan asal-usulnya juga sejauh mana hubunganya dengan syariat Islam. yang bertujuan untuk menerangkan kebaikan-kebaikan yang mungkin diperoleh dari latihan kerohanian golongan Tasawwuf
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Pengertian tasawuf ?
2.      Bagaimana Obyek Studi Ilmu Tasawuf ?
3.      Bagaimana Asal Usul/akar Kata Tasawu?f
4.      Bagaimana Teori Tentang Asal Usul Kata Tasawuf  dalam Islam ?
5.      Apa saja Sumber dan Dasar-dasar Tasawuf ?
6.      Bagaimanakah Hakikat Tasawuf ?
7.      Bagaimanakah Korelasi antara Ilmu Pengetahuan dan Tasawuf ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.  KONSEP DASAR TASAWUF
Pengertian Tasawuf Secara Etimologi, para ahli berselisih tentang asal kata tasawuf, antara lain :
Shuffah ( serambi tempat duduk ), yakni serambi masjid nabawi di Madinah yang disediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dan kalangan Muhajirin di masa Rasulullah SAW. Mereka biasa dipanggil ahli shuffah (pemilik serambi) karena di serambi masjid itulah mereka bernaung. Shaf ( barisan ), karena kaum shufi mempunyai iman kuat, jiwa bersih, ikhlas, dan senantiasa memilih barisan yang paling depan dalam sholat berjamaah atau dalam perang suci.[2]
Shafa : bersih atau jernih. Shufanah : Sebutan nama kayu yang bertahan tumbuh di padang pasir.
Shuf (bulu domba), disebabkan karena kaum sufi biasa menggunakan pakaian dari bulu domba yang kasar, sebagai lambang akan kerendahan hati mereka, juga menghindari sikap sombong, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Orang yang berpakaian bulu domba disebut “ mutashawwif ”, sedangakan perilakunya disebut “ tasawuf ”Theosofi : Ilmu ketuhanan. Tetapi yang terakhir ini tidak disetujui oleh H.A.R.Gibb. Dia cenderung kata tasawuf berasal dari Shuf (bulu domba). [3]
1.    Pengertian Tasawuf Secara Terminologi
Sedangkan menurut terminologis pun, tasawuf diartikan secara variatif oleh para ahli sufi, antara lain yaitu : Imam Junaid dari Baghdad (m. 910), mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan” . Sahal al-Tustury (w 245) mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil” .
Syeikh Ahmad Zorruq (m. 1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut : “Ilmu yang denganya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan anda tentang jalan islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal anda dan menjaganya dalam batas batas syariat islam agar kebijaksanaan menjadi nyata”.
Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa tasawuf itu adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.
Dengan pengertian seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah bagian ajaran Islam, karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagaan dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, siapapun boleh menyandang predikat mutasawwif sepanjang berbudi pekerti tinggi, sanggup menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh rizki tidak lekat di dalam hatinya, dan begitu seterusnya yang pada pokoknya sifat-sifat mulia, dan terhindar dari sifat-sifat tercela.
B.  OBYEK STUDI ILMU TASAWUF
Objek Tasawuf adalah Dzat Maha Tinggi. Tasawuf membahas Dzat Yang Maha tinggi dengan pengenalan (makrifat), biak memalui pendekat yang dalil, atau melalui penyaksian dan pandangan. Cara pertama adalah bagi para pecinta Tuhan, dan cara kedua bagi mereka yang telah sampai pada Tuhan. Menurut yang lain, objek tasawuf adalah jiwa, hati dan ruh, karena tasawuf membahas tentang cara membersihkan dan mendidiknya.
Objek kedua ini lebih mudah di mengerti dari pada yang pertama, karena siapa yang mengenal dirinya niscaya ia mengenal Tuhannya.

Mengenai obyek ilmu tasawuf, dapat dilihat dari dua aspek yaitu obyek materia dan obyek forma .
Untuk obyek materianya, menurut al-Kurdi yang menjadi obyek kajian ilmu tasawuf adalah amalan hati (batin) dan perasaan dalam hal membersihkan atau menyucikan diri .Sedangkan menurut Ibn ‘Ata-illah dalam kitabnya al-Hikam mengemukakan bahwa obyek ilmu tasawuf adalah al-Nufus wa al-Qulub wa al-Arwah (masalah jiwa, hati dan ruh).
Dari pendapat Amin al-Kurdi dan Ibn ‘Ata-illah tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa yang menjadi obyek kajian ilmu tasawuf adalah hal-ihwal batin, yang menyangkut jiwa, hati dan ruh.
Adapun obyek formanya, menurut Asmaran yang menjadi obyek kajian ilmu tasawuf adalah aspek esoteris yang berorientasi kepada pembinaan moral dan ibadah . Dari sini dapat diambil pengertian bahwa yang menjadi obyek forma dari ilmu tasawuf itu adalah segala usaha yang dilakukan untuk tujuan membentuk kepribadian yang baik dan bersih hingga dekat dengan Allah Swt.
C.  ASAL USUL/AKAR KATA TASAWUF
Asal kata tasawuf  berasal dari Tasawwuf ( التصوف ) berasal dari kata sufi ( صوفي ). Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata sufi adalah seorang zahid atau ascetic bernama Abu Hasyim Al-Kufi di Irak ( w.150 H ). Adapun perkembangan atas dasar pengaruh budaya dan misrik timur melahirkan ajaran sufisme-sufisme atau tasawuf yang mulai dirintis oleh orang-orang muslim semenjak pertengahan dari abad ke 2 H.[4]
D.  BEBERAPA TEORI TENTANG ASAL USUL KATA TASAWUF DALAM ISLAM
Mengenai asal atau etimologi kata sufi, teori-teori berikut selalu dikemukakan :

1.      .Ahla al-suffah (اهل الصفة ) yang artinya: Orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, dank arena miskin dan tak mempunyai apa-apa. Sungguhpun miskin ahl-suffah berhati baik dan mulia, sifat tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia itulah sifat-sifat kaum sufi.
2.      Saf (صف ) yang artinya pertama, sebagaimana halnya dengan orang sembahyang di saf pertama mendapat kemuliaan dan pahala, demikian pula kaum sufi yang dimuliakan Allah dan diberi pahala.
3.       Sufiصوفي ) dari ( صفافي ) dan ( صفي ) yang artinya suci. Seorang sufi Allah adalah orang yang disucikan, dan kaum sufi adalah orang-orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.
4.      Sophos kata Yunani yang artinya berarti hikmat. Orang sufi benar ada hubungannya dengan hikmat, hanya huruf s dalam sophos jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi س dan bukan ص , sehingga kelihatan dalam kata فلسفة dari kata philosophia. Dengan demikian seharusnya sufi ditulis dengan سوفي dan bukan صوفي .
5.      Suf ( صوف ) , yang artinya kain yang dibuat dari bulu yaitu wol, hanya saja kain wol yang dipakai kaum sufi adalah kain wol kasar dan bukan wol halus yang dianggap simbol kesederhanaan dan kemiskinan bagi kaum sufi. Kaum sufi sendiri merupakan golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia, dan menjauhi pemakaian sutra sebagai gantinya mereka memakai wol kasar.
Diantara kelima teori diatas, teori nomor limalah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi.
Dari Ensiklopedi Islam dapat ditambahkan pengertian sebagai berikut:
1.    Sufi merujuk pada kata safwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik. Dikatakan demikian, karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang terbaik.
2.    Tasawuf merujuk pada kata safa atau safw yang artinya bersih atau suci. Maksudnya, kehidupan seorang sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci.

Adapun asal - usul aliran sufisme diantaranya:
Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini dalam Islam banyak berbeda-beda, antara lain:
1.    Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasuingkan diri dalam biara-biara. Dikatakan bahwa Zahid dan sufi Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen.
2.    Falsafat Mistik pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh adalah di alam samawi. untuk memeproleh hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi, yaitu Zuhud. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontlemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang yang mempengaruhi timbulya Zuhud san Sufisme dalam Islam.
3.    Falsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari Zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya kealam materi , roh jadi kotor, dan untuk dapat kembali keasalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah dengan dunia dan mendekati Tuhan dengan sedekat mungkin. Dikatan pula bahwa falsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum Zahid dan Sufi dalam Islam.
4.    Ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus bisa meninggalkan Dunia dan memasuki hidup Kontemplasi. Faham Fana yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham Nirwana.
5.    Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhanuntuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.
Inilah beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya mempengaruhi timbul dan munculya sufisme dikalangan umat Islam.
Yang menarik, penerimaan umat Islam terhadap zuhud ternyata dengan signifikan dibarengi munculnya kesadaran rohani. Apalagi bila mengingat bahwa zuhud yang pada hakikatnya merupakan benih-benih tasawuf ternyata tergambar dalam pribadi Nabi. Dalam kehidupan Nabi, umat bisa berkaca dan mengambil contoh bagaimana siklus kehidupan Nabi sangatlah sufistik.
Tetapi bagaimanapun, dengan ataupun tampa pengaru-pengaruh dari luar, sufisme bisa timbul dalam Islam. Di dalam Islam terdapat ayat-ayat yang mengatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan. Diantaranya:
واذسالك عبادي عني فاني قريب اجيب دعوة الدا عي اذا دعا ن : ( البقرة 186 )

“ Jika hambamu bertanya tentang diriku, maka Aku dekat dan mengabulkan semua yang memanggil jika Aku dipanggil “. Al –Baqoroh ayat 186.
Tuhan disini menyatakan bahwa ia dekat pada manusia dan mengabulkan permintaan yang meminta. Oleh kaum sufi do’a disini diartikan berseru, yaitu Tuhan mengabulkan seruan orang yang ingin dekat dengan-Nya.

ولله المشرقوالمغرب فا ينما تولوا فثم و جه الله

“ Timur dan Barat adalah kepunyaan Tuhan, ke mana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan “ Al-Baqoroh ayat 115
E.  SUMBER DAN DASAR-DASAR TASAWUF
Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan kezuhudan sebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw, dan sebahagian besar dari kalangan sahabat dan tabi’in. Kezuhudan ini merupakan implementasi dari nash-nash al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Saw yang berorientasi akhirat dan berusaha untuk menjuhkan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan yang bertujuan untuk mensucikan diri, bertawakkal kepada Allah Swt, takut terhadap ancaman-Nya, mengharap rahmat dan ampunan dari-Nya dan lain-lain.
1. Dasar-dasar dari Al-Qur’an
Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata shufyakan tetapi jalan yang ditempuh kaum sufi berlandasakan Islam. Diantara ayat-ayat Allah yang dijadikan landasan akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia adalah firman Allah dalam al-Qur’an yang berbunyi:
Artinya:
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Q.S Asy-Syuura [42] : 20)
Diantara nash-nash al-Qur’an yang mememerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk akhirat adalah firman Allah dalam Q.S al-Hadid [57] ayat: 20
Artinya:
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Ayat ini menandaskan bahwa kebanyakan manusia melaksanakan amalan-amalan yang menjauhkannya dari amalan-amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarganya, sehingga mereka dapat kita temukan menjajakan diri dalam kubangan hitamnya kesenangan dan gelapnya hawa nafus mulai dari kesenangan dalam berpakaian yang indah, tempat tinggal yang megah dan segala hal yang dapat menyenangkan hawa nafsu, berbangga-bangga dengan nasab dan banyaknya harta serta keturunan (anak dan cucu). Akan tetapi semua hal tesebut bersifat sementar dan dapat menjadi penyebab utama terseretnya seseorang kedalam azab yang sangat pedih pada hari ditegakkannya keadilan di sisi Allah, karena semua hal tersebut hanyalah kesenangan yang melalaikan, sementara rahmat Allah hanya terarah kepada mereka yang menjauhkan diri dari hal-hal yang melallaikan tersebut.
Ayat al-Qur’an lainnya yang dijadikan sebagai landasan kesufian adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang mu’min untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah swt semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah sebagai tempat menggantungkan segala urusan, ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut cukup variatif tetapi penulis mmencukupkan pada satu diantara ayat –ayat tersebut yaitu firman Allah dalam Q.S ath-Thalaq [65] ayat : 3
Artinya:
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Dianatra ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepadan Allah dan hanya berharap kepada-Nya diantaranya adalah firman Allah dalam Q.S as-Sajadah [ ] ayat : 16 yang berbunyi :
Artinya:
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap
Maksud dari perkataan Allah Swt : “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya adalah bahwa mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.
Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang urgensi rasa takut dan pengharapan hanya kepada Allah semata akan tetapi penulis cukupkan pada kedua ayat terdahulu.
Diantara ayat-ayat yang menjadi landasan tasawuf adalah nash-nash Qura’ny yang menganjurkan untuk beribadah pada malam hari baik dalam bentuk bertasbih ataupun quyamullail diantaranya adalah firman Allah :
Artinya:
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.(Q.S al-Isra’ [17] ayat : 79
Artinya:
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. (Q.S al-Insan [76] ayat : 25-26)
Artinya:
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka
Tiga ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang senantiasa menjauhi tempat tidur di malam hari dengan menyibukkan diri dalam bertasbih dan menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan ibadah-ibadah sunnah lainnya hanya semata-mata untuk mengharapkan rahmat, ampunan, ridha, dan cinta Tuhannya kepadanya akan mendapatkan maqam tertinggi di sisi Allah.
Selain daripada hal-hal yang telah penulis uraikan sbelumnya, diantara pokok-pokok ajaran tasawuf adalah mencintai Allah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan hal ini berlandaskan kepada firman Allah swt dalam Q.S at-Taubah [ayat : 24]
Artinya:
Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya harus menjadi prioritas utama di atas segala hal, bahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus melebihi di atas kecintaan kepada ayah, ibu, anak, istri, keluarga, harta, perniagaan dan segala hal yang bersifat duniawi, atau dengan kata lain bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan mendambakan tempat terbaik diakhirat hendaknya menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai kecintaan tertinggi dalam dirinya.
2. Dasar-dasar Dari Hadis
Jika kita melihat dengan seksama akan sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad Saw beserta para sahabat beliau yang telah mendapatkan keridhaan Allah, maka akan ditemukan sikap kezuhudan dan ketawadhu’an yang terpadu dengan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah bahkan secara individu Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan shalat lail hingga lutut beliau memar akibat kebanyakan berdiri, ruku’ dan sujud di setiap malam dan beliau Saw tidak pernah meninggalkan amalan tersebut hingga akhir hayat beliau Saw, hal ini dilakukan oleh beliau Saw karena kecintaan beliau kepada sang penggenggam jiwa dan alam semesta yang mencintainya Dia-lah Allah yang cinta-Nya tidak pernah terputus kepada orang-orang yang mencintai-Nya.
Uaraian tentang hadis fi’liyah di atas merupakan salah satu bentuk kesufian yang dijadikan landasan oleh kaum sufi dalam menjalankan pahamnya.
Selain itu terdapat pula hadis-hadis qauliyah yang menjadi bagian dari dasar-dasar ajaran tasawuf dalam Islam, diantara hadis-hadis tersebut adalah:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Artinya:
Dari sahabat Sahal bin Saad as-Sa’idy beliau berkata: datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah ! tunjukkanlah kepadaku sutu amalan, jika aku mengerjakannya maka Allah akan mencintaiku dan juga manusia’, Rasulullah Saw bersabda: “berlaku zuhudalah kamu di dunia, maka Allah akan mencintaimu, dan berlaku zuhudlah kamu atas segala apa yang dimiliki oleh manusia, maka mereka (manusia) akan mencintaimu”. [5]
عَن زَيْدُ بْنُ ثَابِت قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Artinya:
“Dari Zaid bin Tsabit beliau berkata : Aku mendengarkan Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan berlepas diri dari segala urusannya dan tidaklah ia mendapatkan dari dunia sesuatu apapun keculi apa yang telah di tetapkan baginya. Dan barang siapa yang sangat menjadikan akhirat sebaga tujuannya, maka Allah akan mengumpulkan seluruh harta kekayaan baginya, dan menjadikan kekayaan itu dalam hatinya, serta mendapatkan dunia sedang ia dalam keadaan tertindas”. [6]
Hadis pertama menunjukkan perintah untuk senantiasa berlaku zuhud di dunia, sementara hadis kedua menjelaskan akan tercelanya kehidupan yang bertujuan berorientasi keduniaan belaka, dan mulianya kehidupan yang berorientasi akhirat. Kedua hadis tersebut menjelaskan kemuliaan orang-orang yang hanya menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam hidupnya dan merasa cukup atas segala yang Allah telah karunianakan kepadanya.
Selain dari kedua hadis di atas terdapat pula banyak hadis yang memberikan wasiat kepada orang-orang mu’min agar tidak bertumpu pada kehidupan dunia semata, dan hendaklah ia senantiasa memangkas segala angan-angan keduniaan, serta tidak mematrikan dalam dirinya untuk hidup kekal di dunia dan tidak pula berusaha untuk memperkaya diri di dalamnya kecuali sesuai dengan apa yang ia butuhkan, oleh karena itu Rasulullah Saw berwasiat kepada Abdullah bin Umar sambil menepuk pundaknya dan bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيل
Artinya:
“Hiduplah kamu di dunia seolah-seolah kamu adalh orang asing atau seorang musafir” [7]
Selain tiga hadis di atas masih terdapat banyak hadis lainnya yang menjadi landasan munculnya tasawuf atau sufisme.
Dari keterangan-keterangan yang berdasarkan al-Qur’an dan hadis di atas menunjukkan bahwa ajaran tasawuf yang menjadi landasan utamanya adalah kezuhudan terhadap dunia demi mencapai tingkatan atau maqam tertinggi di sisi Allah yaitu ketika seseorang menjadikan dunia sebagai persinggahan sementara dan menjadikan rahmat, ridha, dan kecintaan Allah sebagai tujuan akhir.
F.   HAKIKAT TASAWUF
“Dan barang siapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nisaa'(4):69)
Bagi orang yang belum mengenal apa itu Ilmu Tasawwuf atau Sufi tentu akan merasa asing untuk keduanya, karena tidak tahu orang cendrung untuk menjauhi atau enggan untuk mempelajarinya bahkan sampai mengejeknya. Hal ini serupa dengan awal kedatangan Islam tempo dulu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: "Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing (orang-orang Islam)." HR. Muslim dari Abi Hurairah. Kaum Sufi bukanlah sekelompok aliran bid'ah yang ajarannya masih saja diperdebatkan, namun dalam memahami Ilmu kesufian hati perlu benar-benar bersih dan jeli untuk menangkap doktrin-doktrin yang diajarkan dalam sufi itu sendiri dengan catatan tidak melenceng dari Islam. Tanpa didampingi ilmu sebagai manusia terlalu gampang untuk mencoreng, mencela dan berprasangka buruk terhadap sesama. Dalam sebuah hadits Nabi Saw.: "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta." HR. Bukhari & Muslim. Tasawuf adalah segi batin dari agama. Segi lahirnya biasanya disebut syari'ah, yang terutama berisi hukum-hukum keagamaan formal, mengenai apa yang seorang beragama harus lakukan, dan apa yang dilarang. Tasawuf di samping memberi segi batin dari aspek formal keagamaan itu, juga memberi visi mengenai arti hidup beragama. Ibn al-Arabi seorang filsuf mistik paling terkemuka, membagi empat tingkat praktek dalam memahami tasawuf, yaitu (1) syari'ah (segi esoterik hukum-hukum agama), thariqah (sebagai jalan mistik), haqiqah (mengenai kebenaran), dan ma'rifah (gnosis, pengalaman kesatuan dengan Yang Ilahi). Dalam keberagamaan tasawuf ini, pengertian yang mendalam mengenai "jalan hati" (the path of heart)-yang tidak lain adalah "jalan kepada cinta, the path to love-mendapat perhatian, sehingga segi-segi psikologi-spiritual menjadi begitu penting dalam jalan ini, khususnya dalam mencapai tingkat kedirian (nafs) yang dari sini kita bisa sampai pada pengalaman kesatuan dengan yang Ilahi itu (yang disebut ihsan, yaitu "seolah-olah kita melihat Tuhan, kalaupun tidak, kita tahu bahwa Tuhan melihat kita"). Ilmu kesufian atau Ilmu Tasawwuf adalah ilmu yang didasari oleh Al-Qur'an dan Hadits dengan tujuan utamanya amar ma'ruf nahi munkar. Sejak jaman sahabat Nabi Saw. tanda-tanda sufi dan ilmu kesufian sudah ada, namun nama sufi dan ilmu tersebut belum muncul, sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqh dan lain sebagainya. Barulah pada tahun 150 H atau abad ke-8 M Ilmu Sufi atau Ilmu Tasawwuf ini berdiri sebagai ilmu yang berdiri sendiri yang bersifat Keruhanian. Kontribusi Ilmu Tasawwuf ini banyak dibukukan oleh kalangan orang-orang Sufi sendiri seperti Hasan al-Basri, Abu Hasyim Shufi al-Kufi, al-Hallaj bin Muhammad al-Baidhawi, Sufyan ibn Sa'id ats-Tsauri, Abu Sulaiman ad-Darani, Abu Hafs al-Haddad, Sahl at-Tustari, al-Qusyairi, ad-Dailami, Yusuf ibn Asybat, Basyir al-Haris, as-Suhrawardi, Ain Qudhat al-Hamadhani dan masih banyak yang lainnya hingga kini terus berkembang.
Dalam praktek realisasi ilmu Sufi khusunya tempo dulu, mutasawwif (orang Sufi) memerlukan adaptasi yang amat sangat ketat. Hal ini agar mampu untuk menarik orang-orang yang belum masuk muslim dengan jalan tanpa kekerasan dan paksaan, dengan kata lain berdakwah yang tidak keluar dari tujuan utama yang membuktikan akan cintanya kepada Maha Pencipta yakni Allah SWT. Disisi lain orang-orang sufi menjauhkan diri dari hal keduniaan yang dapat menghijab antara hamba-Nya dengan Allah Swt dalam beribadah. Disinilah Sufi mulai mengembangkan metode-metode bagaimana cara untuk membersihkan jiwa, pembinaan lahir batin, berdzikir, mendekatkan diri pada Allah, membangun jiwa mulia dalam mengenal Allah atau ber-ma'rifat, selain itu berintrospeksi diri siapa diri ini sebenarnya, sesuai dengan hadits Nabi Saw. "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu" (Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya)".
Jelas bahwa Ilmu Tasawwuf dan Sufi adalah merupakan salah satu ilmu dalam Agama Islam yang sangat halus dan mendalam yang mampu menembus alam batin serta sulit sekali untuk di ilmiahkan dan diterangkan secara kongkrit. Hal ini bukan berarti tidak dapat dibuktikan secara ilmiah namun seseorang yang memiliki kebersihan hati dan kecerdasan yang luar biasa yang mampu mecahkannya. Sebab "Al-Islaamu 'ilmiyyun wa 'amaliyyun" (Islam adalah ilmiah dan amaliah) HR. Bukhari. Karena halusanya ilmu ini persoalan-persoalan didalamnya bagi orang awam dapat menimbulkan khilafiyah (perbedaan) dan pertentangan-pertentangan. Tapi inilah keindahan Islam berlomba dalam kebaikan selama tidak menyimpang dari aturan Islam.Tasawuf
G.  KORELASI ANTARA ILMU PENGETAHUAN DAN TASAWUF
Ilmu Pengetahuan Yang kami maksudkan hubungan tasawuf dengan ilmu pengetahuan agama, bukanlah kebenaran atau kekeliruan Ilmu Tasawuf itu sendiri, tetapi apakah benar atau keliru untuk makrifat kepada Allah melalu jalan tasawuf. Ada beberapa teori atau aliran menuju makrifat kepada Allah, antara lain : aliran Al-Mutakallimin (ahli logika dan rasio), aliran Al-Batiniah (mengikuti petunjuk imam yang maksum), aliran Al-Falasifah (ahli filsafat, ahli logika dan ahli berhujjah, berdalil), aliran As-Sufiyah (Al-Hawaasul Hadrat, ahli musyahadat dan mukasyafah). Masing-masing golongan atau aliran itu mengatakan bahwa jalan golongan atau aliran merekalah yang benar.[8]
Untuk membahas masalah ini, kami mengemukakan pendapat, pemikiran, Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali. Kami mengikuti pendapat dan pemikiran Al-Ghazali, karena beliau telah memasuki, meneliti setiap aliran itu secara ilmiah dan secara amaliah dalam waktu bertahun-tahun yang cukup lama. Beliau meneliti dan mengarungi setiap aliran itu dalam waktu yang lama dan tidak mengenal lelah, sehingga beliau mengatakan:
"Semua kegelapan harus aku tembus, semua kerumitan harus aku hadapi dan aku senantiasa menyelidiki benar-benar setiap akidah dan setiap golongan, aku berusaha sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan semua rahasia mazhab/golongan/aliran pada masing- masingnya, agar aku dapat membedakan mana yang benar dan mana yang palsu, mana yang mengikuti sunnah dan mana pula yang bid'ah (tidak mengikuti sunnah)”.
Penegasan beliau selanjutnya dalam menjelaskan ketekunan beliau menyelidiki, membahas dan meneliti setiap golongan atau aliran itu sebagai berikut,  "Tidak aku tinggalkan seorang ahli kebatinan, kecuali telah aku ketahui tentang kebatinannya. Tidak aku tinggalkan seorangpun dari ahli zahir, kecuali setelah aku ketahui kezahirannya. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli filsafat, sebelum aku pahami maksud dari filsafatnya. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli teologi Ilmu Kalam, kecuali aku berusaha sekerasnya untuk mempelajari ilmu teologinya dan cara berdebatnya sampai sedalam-dalamnya. Tidak seorangpun aku tinggalkan dari ahli sufi, kecuali aku selidiki segala rahasia yang ada pada tasawufnya. Tidak seorang pun aku tinggalkan ahli ibadat, kecuali harus kucari hasil yang diperoleh dari ibadatnya itu. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli zindiq (seorang ahli agama yang kafir tapi pura-pura beriman), kecuali setel ah aku selidiki dirinya agar aku waspada terhadap sebab-sebab penyelewengan dan kezindiqannya".
Imam Al-Ghazali sebagai seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, sebagai seorang teolog, sebagai seorang filosof dan sebagai seorang sufi yang masyhur dan konsekwen, dalam menekuni ajaran dan mengamalkan kesufiannya. Ia adalah seorang manusia yang mempunyai bakat, mempunyai kelebihan, sebagai karunia Allah SWT. Ad-Diebury memberikan komentar tentang imam Al-Ghazali sebagai berikut,  Artinya : Sesungguhnya pemuda ini (imam Al-Ghazali) telah dianugerahi kecerdasan akal yang luar biasa dan kekuatan daya hayal yang tidak mau terikat dengan ikatan apapun yang akan membelenggunya. 
Imam Al-Ghazali memiliki latar belakang pendidikan yang amat kuat, baik di kota Khurasan, di kota Jurjan maupun di kota Naisabur, membuat dia menjadi orang yang ahli dalam bahasa Arab dan Persia dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Kalam (teologi Islam), Fikih (hukum Islam), Tasawuf, Filsafat dan Akhlak.
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kmiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada, sementara itu objek kajian tasawuf adalah tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Argumentasi filsafat, sebagaimana ilmu kalam di bangun di atas dasar logika. Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan beragamnya kebenaran yang di hasilkan. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan yang berkaitan dengannya. filsafat dengan wataknya sendiri pula berusaha menghampiri kebenaran baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak dapat di jangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar atau di atas jangkauannya) atau tentang tuhan sementara itu tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal, berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan Tuhan spiritual menuju Tuhan. Titik perbedaan Perbedaan di antara tiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliah. Berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya. Sebagai sebuah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang di pertahankan melalui argument-argumen rasional. Sementara itu filsafat adalah sebuah ilmu yang di gunakan untuk memperoleh kebenaran rasional, peranan filsafat sebagaimana di katakana Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of conceptual clarity). Di dalam filsafat di kenal apa yang di sebut kebebaran korespondensi. Dalam pandangan korespondensi, kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam rasio dengan kenyataan sebenarnya di alam nyata. Di dalam pandangan koheransi, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah di akui kenenarannya, secara umum dan permanen. Di dalam filsafat di kenal juga kebnaran pragmatik. Dalam pandangan pragnatisme kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat ( utility ) dan mungkin dapat di kerjakan (workability) dengan dampak yang memuaskan. Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menkankan rasa dari pada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Bahasa tasawuf sering tampak aneh bila di lihat dari aspek rasio. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi atau ilham, atau inspirasi yang datang dari tuhan. Kebenaran yang di hasilkan berkembang ilmu tasawuf di kenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu sesuatu yang kebenaran objeknya dating dari dalam diri subjeknya sendiri. Ilmu seperti ini dalam sains di kenal dengan ilmu yang di ketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu professional. Ilmu kalam atau (teologi) menjadi teologi rasional dan teologi tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains filosafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains ke alaman social, dan humaniora, sedangkan filsafat berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoritis. Adapun filsafat lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio sangat prima di harapkan dapat mengenal tuhan secara meyakinkan melalui rasionya.
Adapun tasawuf lebih berperan sebagai ilmu yang member kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak di peroleh apa yang ingin di carinya. Sebagian orang memandang bahwa ke tiga ilmu memiliki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian filsafat dan yang terkhir adalah ilmu tasawuf. Titik singgung antara ilmu kalam dan ilmu tasawuf. Argumentasi rasional yang di maksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Al-qur’an dan Hadist. Ilmu kalam sering mendapatkan dirinya pada kedua pendekatan ini atau (aqli dan naqli). Ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya. Yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman ke jiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. As-sunah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah tasdzawuq. Ada tiga perkara yang mengakibatkan seorang dapat merasakan seorang lezatnya iman yaitu orang yang mencintai karena Allah, dan takut kembali kepada kekufuran, orang yang mencintai Allah dan rasulnya lebih dari yang lain. Adapun pada ilmu tasawuf di temukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakn keyakinan dan ketentraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunfikan.
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Dengan demikian ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika di lihat bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid. Ilmu kalam pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu jika timbul suatu aliran yang bertentangan denga akidah atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-qur’an dan As-sunnah. Selain itu ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pmberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana di sebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung rasional di samping muatan naqliah. Di snilah ilmu tasawuf berfungsi member muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak di kesani sebagai dialetika ke islaman belaka, yang kering kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qabliah. Jika cahaya tauhid telah lenyap akan timbulah penyakit-penyakit qalbu, seperti ujub, congkak, riya, dengki, hasud dan sombong. Dari sinilah dapat di lihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi).
Menurut nama tuhan Ar-rahman dan Ar-rahim, pada aplikasi rohaniahnya merupakan sebuah sifat yang harus di teldani. Jika sifat Ar-rahman di aplikasikan, seorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran, melihat orang dengan mata rahim, bukan dengan mata yang menghina. Dengan ilmu tasawuf semua persoalan dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna tidak kaku tetapi ,lebih dinamis dan aplikatif.

BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
Tasawuf merupakan fenomena spiritual dan kultural yang tunduk kepada berbagai factor dan pengaruh yang melingkupi fenomena-fenomena social. Tak diragukan lagi bahwa ajaran dan prinsip Islam mempunyai peran utama di mata kaum Muslimin pada umumnya, yang mereka pegang dan jadikan petunjuk jalan. Pada tingkah laku Rasulullah dan para sahabatnya,dan berlandaskan pada hikmah dan mau’izah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat memberi panutan yang terbaik bagi mereka.
2.    Saran
Tulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu sudikiranya pembaca memberikan atau menuangkan kritik serta sarannya agar pemakalah dalam pembuatan makalah selanjutnya lebih baik lagi. Semoga tulisan ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
1.      PROF.DR.Harun Nasution, Falsafat Mistisisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang.

2.      Drs. K. Permadi, S.H.,Pengantar Ilmu Tasawuf,1997,Jakarta : Rineka Cipta.

3.      PROF.DR.HM.Amin Syukur, dan Dr.Abdul Muhayya, MA., 2001, Tasawuf dan Krisis , Semarang : Pustaka Pelajar


5.      Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

6.      Haeiri, Fadhlalla. Dasar-Dasar Tasawuf, terj. Tim Forstudia. Yogjakarta:  Penerbit Pustaka Sufi, 2003.

[1] Ali Rayyan, Qira’at Fi al-fasafah, Mesir, darul Qoumiyah, 1997 Hal 11

[2] K. Permadi, S.H.,Pengantar Ilmu Tasawuf,1997
[3] Ibid, Pengantar Ilmu Tasawuf,1997
[4] PROF.DR.HM.Amin Syukur, dan Dr.Abdul Muhayya, MA., 2001, Tasawuf dan Krisis , Semarang : Pustaka Pelajar

[5] Lihat Muhammad bin Yazid al-Qazwiny Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab; Zuhud, Bab; Zuhud di Dunia, No Hadis; 4102. (Cet. I; Bandung: Maktabah Dakhlan, T.Th), Jld. II, h. 1373

[6] Ibid., Bab; Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan, No Hadis: 4105.,h. 1375

[7] Lihat Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhary, Shahih al-Bukhary, Kitab: Riqaq, Bab: Jadilah kamu manusi asing di dunia atau seorang pejalan jauh. (Cet. I; Beirut: al-Makatabah al-Ilmiyah, 1417 H), Jld. III, h. 3347