“KONSEP DASAR TASAWUF”
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagaimana yang disebutkan Ibnu Khaldun memiliki panca indra
(anggota Tubuh), akal pikiran dan hati sanubari. Ketiganya harus bersih,
optimal dan sehat sehingga dapat berfungsi secara harmonis. Maka untuk
mengoptimalkan ketiganya tersebut dibutuhkan beberapa ilmu yang sesuai dengan
fungsinya masing-masing.[1]
Persoalan mengenai Tasawwuf sering menjadi tajuk
perbincangan golongan yang prihatin terhadap pengamalan agama dalam kehidupan.
Ada pihak yang menyokong dan memperjuangkannya bahkan meletakkan ia sebagai
salah satu bagian sendi agama ini. Ada juga pihak yang mempertikaikan kebenaran
ajarannya adakah benar-benar Islami? Atau ia hanya hasil serapan budaya dan
kelompok ciptaan barat yang masuk dalam umat Islam?
Kajian ringkas ini mencoba menjelaskan tentang makna Tasawwuf dan
asal-usulnya juga sejauh mana hubunganya dengan syariat Islam. yang bertujuan
untuk menerangkan kebaikan-kebaikan yang mungkin diperoleh dari latihan
kerohanian golongan Tasawwuf
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Pengertian
tasawuf ?
2.
Bagaimana Obyek Studi
Ilmu Tasawuf ?
3.
Bagaimana Asal
Usul/akar Kata Tasawu?f
4.
Bagaimana Teori
Tentang Asal Usul Kata Tasawuf dalam
Islam ?
5.
Apa saja Sumber dan
Dasar-dasar Tasawuf ?
6.
Bagaimanakah Hakikat
Tasawuf ?
7.
Bagaimanakah Korelasi
antara Ilmu Pengetahuan dan Tasawuf ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KONSEP DASAR TASAWUF
Pengertian Tasawuf Secara Etimologi, para ahli
berselisih tentang asal kata tasawuf, antara lain :
Shuffah ( serambi tempat duduk ), yakni serambi masjid nabawi di Madinah
yang disediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dan
kalangan Muhajirin di masa Rasulullah SAW. Mereka biasa dipanggil ahli shuffah
(pemilik serambi) karena di serambi masjid itulah mereka bernaung.
Shaf ( barisan ), karena kaum shufi mempunyai iman kuat, jiwa bersih, ikhlas,
dan senantiasa memilih barisan yang paling depan dalam sholat berjamaah atau
dalam perang suci.[2]
Shafa : bersih atau jernih. Shufanah : Sebutan nama kayu yang bertahan
tumbuh di padang pasir.
Shuf (bulu domba), disebabkan karena kaum sufi biasa menggunakan pakaian
dari bulu domba yang kasar, sebagai lambang akan kerendahan hati mereka, juga
menghindari sikap sombong, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat
duniawi. Orang yang berpakaian bulu domba disebut “ mutashawwif ”, sedangakan
perilakunya disebut “ tasawuf ”Theosofi : Ilmu ketuhanan. Tetapi yang terakhir
ini tidak disetujui oleh H.A.R.Gibb. Dia cenderung kata tasawuf berasal dari
Shuf (bulu domba). [3]
1. Pengertian Tasawuf Secara Terminologi
Sedangkan menurut terminologis pun, tasawuf diartikan secara
variatif oleh para ahli sufi, antara lain yaitu : Imam Junaid dari Baghdad (m.
910), mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan
meninggalkan setiap sifat rendah”.
Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara,
mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang
dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan” . Sahal
al-Tustury (w 245) mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih
dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang
antara emas dan kerikil” .
Syeikh Ahmad Zorruq (m. 1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai
berikut : “Ilmu yang denganya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya
semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan anda tentang jalan
islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal
anda dan menjaganya dalam batas batas syariat islam agar kebijaksanaan menjadi
nyata”.
Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa tasawuf itu
adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah) untuk
membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan
(taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang
hanya tertuju kepada-Nya.
Dengan pengertian seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah
bagian ajaran Islam, karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga
diturunkan dalam rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar
tercapai kebahagaan dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, siapapun boleh menyandang predikat mutasawwif sepanjang
berbudi pekerti tinggi, sanggup menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh
rizki tidak lekat di dalam hatinya, dan begitu seterusnya yang pada pokoknya
sifat-sifat mulia, dan terhindar dari sifat-sifat tercela.
B. OBYEK STUDI ILMU TASAWUF
Objek Tasawuf adalah Dzat Maha
Tinggi. Tasawuf membahas Dzat Yang Maha tinggi dengan pengenalan (makrifat),
biak memalui pendekat yang dalil, atau melalui penyaksian dan pandangan. Cara
pertama adalah bagi para pecinta Tuhan, dan cara kedua bagi mereka yang telah
sampai pada Tuhan. Menurut yang lain, objek tasawuf adalah jiwa, hati dan ruh,
karena tasawuf membahas tentang cara membersihkan dan mendidiknya.
Objek kedua ini lebih mudah di
mengerti dari pada yang pertama, karena siapa yang mengenal dirinya niscaya ia
mengenal Tuhannya.
Mengenai obyek ilmu
tasawuf, dapat dilihat dari dua aspek yaitu obyek materia dan obyek forma .
Untuk obyek materianya, menurut al-Kurdi yang
menjadi obyek kajian ilmu tasawuf adalah amalan hati (batin) dan perasaan dalam
hal membersihkan atau menyucikan diri .Sedangkan menurut Ibn ‘Ata-illah dalam
kitabnya al-Hikam mengemukakan bahwa obyek ilmu tasawuf adalah al-Nufus wa
al-Qulub wa al-Arwah (masalah jiwa, hati dan ruh).
Dari pendapat Amin al-Kurdi dan Ibn
‘Ata-illah tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa yang menjadi obyek kajian ilmu
tasawuf adalah hal-ihwal batin, yang menyangkut jiwa, hati dan ruh.
Adapun obyek formanya, menurut Asmaran yang
menjadi obyek kajian ilmu tasawuf adalah aspek esoteris yang berorientasi
kepada pembinaan moral dan ibadah . Dari sini dapat diambil pengertian bahwa
yang menjadi obyek forma dari ilmu tasawuf itu adalah segala usaha yang
dilakukan untuk tujuan membentuk kepribadian yang baik dan bersih hingga dekat
dengan Allah Swt.
C. ASAL USUL/AKAR KATA TASAWUF
Asal kata tasawuf berasal dari Tasawwuf ( التصوف )
berasal dari kata sufi ( صوفي ).
Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata sufi adalah seorang zahid atau
ascetic bernama Abu Hasyim Al-Kufi di Irak ( w.150 H ). Adapun perkembangan
atas dasar pengaruh budaya dan misrik timur melahirkan ajaran sufisme-sufisme
atau tasawuf yang mulai dirintis oleh orang-orang muslim semenjak pertengahan
dari abad ke 2 H.[4]
D. BEBERAPA TEORI TENTANG ASAL USUL KATA TASAWUF
DALAM ISLAM
Mengenai
asal atau etimologi kata sufi, teori-teori berikut selalu dikemukakan :
1. .Ahla al-suffah
(اهل الصفة )
yang artinya: Orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi Muhammad dari Mekah ke
Madinah, dank arena miskin dan tak mempunyai apa-apa. Sungguhpun miskin
ahl-suffah berhati baik dan mulia, sifat tidak mementingkan keduniaan, miskin
tetapi berhati baik dan mulia itulah sifat-sifat kaum sufi.
2. Saf (صف )
yang artinya pertama, sebagaimana halnya dengan orang sembahyang di saf pertama
mendapat kemuliaan dan pahala, demikian pula kaum sufi yang dimuliakan Allah
dan diberi pahala.
3. Sufi ( صوفي )
dari ( صفافي )
dan ( صفي )
yang artinya suci. Seorang sufi Allah adalah orang yang disucikan, dan kaum
sufi adalah orang-orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan
lama.
4. Sophos kata
Yunani yang artinya berarti hikmat. Orang sufi benar ada hubungannya dengan
hikmat, hanya huruf s dalam sophos jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab
menjadi س dan
bukan ص ,
sehingga kelihatan dalam kata فلسفة dari
kata philosophia. Dengan demikian seharusnya sufi ditulis dengan سوفي dan
bukan صوفي .
5. Suf ( صوف )
, yang artinya kain yang dibuat dari bulu yaitu wol, hanya saja kain wol yang
dipakai kaum sufi adalah kain wol kasar dan bukan wol halus yang dianggap
simbol kesederhanaan dan kemiskinan bagi kaum sufi. Kaum sufi sendiri merupakan
golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan
mulia, dan menjauhi pemakaian sutra sebagai gantinya mereka memakai wol kasar.
Diantara
kelima teori diatas, teori nomor limalah yang banyak diterima sebagai asal kata
sufi.
Dari
Ensiklopedi Islam dapat ditambahkan pengertian sebagai berikut:
1. Sufi merujuk pada kata
safwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik. Dikatakan demikian,
karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau
orang terbaik.
2. Tasawuf merujuk pada
kata safa atau safw yang artinya bersih atau suci. Maksudnya, kehidupan seorang
sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri kepada
Allah SWT, sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci.
Adapun asal - usul aliran sufisme
diantaranya:
Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini
dalam Islam banyak berbeda-beda, antara lain:
1. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasuingkan diri
dalam biara-biara. Dikatakan bahwa Zahid dan sufi Islam meninggalkan dunia,
memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah pengaruh cara hidup
rahib-rahib Kristen.
2. Falsafat Mistik pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat
kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara
bagi roh. Kesenangan roh adalah di alam samawi. untuk memeproleh hidup senang
di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup
materi, yaitu Zuhud. Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi
berkontlemplasi, inilah menurut pendapat sebagian orang yang mempengaruhi
timbulya Zuhud san Sufisme dalam Islam.
3. Falsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari Zat
Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.
Tetapi dengan masuknya kealam materi , roh jadi kotor, dan untuk dapat kembali
keasalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah dengan
dunia dan mendekati Tuhan dengan sedekat mungkin. Dikatan pula bahwa falsafat
ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum Zahid dan Sufi dalam Islam.
4. Ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus
bisa meninggalkan Dunia dan memasuki hidup Kontemplasi. Faham Fana yang
terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham Nirwana.
5. Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan
dunia dan mendekati Tuhanuntuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.
Inilah beberapa faham dan ajaran yang menurut teorinya
mempengaruhi timbul dan munculya sufisme dikalangan umat Islam.
Yang
menarik, penerimaan umat Islam terhadap zuhud ternyata dengan signifikan
dibarengi munculnya kesadaran rohani. Apalagi bila mengingat bahwa zuhud yang
pada hakikatnya merupakan benih-benih tasawuf ternyata tergambar dalam pribadi
Nabi. Dalam kehidupan Nabi, umat bisa berkaca dan mengambil contoh bagaimana
siklus kehidupan Nabi sangatlah sufistik.
Tetapi bagaimanapun, dengan ataupun tampa
pengaru-pengaruh dari luar, sufisme bisa timbul dalam Islam. Di dalam Islam
terdapat ayat-ayat yang mengatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan.
Diantaranya:
واذسالك عبادي عني فاني
قريب اجيب دعوة الدا عي اذا دعا ن : ( البقرة 186 )
“ Jika hambamu
bertanya tentang diriku, maka Aku dekat dan mengabulkan semua yang memanggil
jika Aku dipanggil “. Al –Baqoroh ayat 186.
Tuhan disini menyatakan bahwa ia dekat pada manusia
dan mengabulkan permintaan yang meminta. Oleh kaum sufi do’a disini diartikan
berseru, yaitu Tuhan mengabulkan seruan orang yang ingin dekat dengan-Nya.
ولله المشرقوالمغرب فا
ينما تولوا فثم و جه الله
“ Timur dan Barat
adalah kepunyaan Tuhan, ke mana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan “
Al-Baqoroh ayat 115
E. SUMBER DAN DASAR-DASAR TASAWUF
Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan
kezuhudan sebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw, dan sebahagian besar
dari kalangan sahabat dan tabi’in. Kezuhudan ini merupakan implementasi dari
nash-nash al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Saw yang berorientasi akhirat dan
berusaha untuk menjuhkan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan yang
bertujuan untuk mensucikan diri, bertawakkal kepada Allah Swt, takut terhadap
ancaman-Nya, mengharap rahmat dan ampunan dari-Nya dan lain-lain.
1. Dasar-dasar dari Al-Qur’an
Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata shufyakan
tetapi jalan yang ditempuh kaum sufi berlandasakan Islam. Diantara ayat-ayat
Allah yang dijadikan landasan akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia
adalah firman Allah dalam al-Qur’an yang berbunyi:
Artinya:
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di
akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang
menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan
dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Q.S Asy-Syuura [42]
: 20)
Diantara nash-nash al-Qur’an yang
mememerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk akhirat
adalah firman Allah dalam Q.S al-Hadid [57] ayat: 20
Artinya:
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia
ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti
hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu
menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di
akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.
dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Ayat ini menandaskan bahwa kebanyakan manusia
melaksanakan amalan-amalan yang menjauhkannya dari amalan-amalan yang
bermanfaat untuk diri dan keluarganya, sehingga mereka dapat kita temukan
menjajakan diri dalam kubangan hitamnya kesenangan dan gelapnya hawa nafus
mulai dari kesenangan dalam berpakaian yang indah, tempat tinggal yang megah
dan segala hal yang dapat menyenangkan hawa nafsu, berbangga-bangga dengan
nasab dan banyaknya harta serta keturunan (anak dan cucu). Akan tetapi semua
hal tesebut bersifat sementar dan dapat menjadi penyebab utama terseretnya
seseorang kedalam azab yang sangat pedih pada hari ditegakkannya keadilan di
sisi Allah, karena semua hal tersebut hanyalah kesenangan yang melalaikan,
sementara rahmat Allah hanya terarah kepada mereka yang menjauhkan diri dari
hal-hal yang melallaikan tersebut.
Ayat al-Qur’an lainnya yang dijadikan sebagai
landasan kesufian adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang
mu’min untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah swt
semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah sebagai tempat menggantungkan
segala urusan, ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut cukup variatif
tetapi penulis mmencukupkan pada satu diantara ayat –ayat tersebut yaitu firman
Allah dalam Q.S ath-Thalaq [65] ayat : 3
Artinya:
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.
Dianatra ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi
landasan munculnya kezuhudan dan menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang
berbicara tentang rasa takut kepadan Allah dan hanya berharap kepada-Nya
diantaranya adalah firman Allah dalam Q.S as-Sajadah [ ] ayat : 16 yang
berbunyi :
Artinya:
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan
mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap
Maksud dari perkataan Allah Swt : “Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya” adalah bahwa mereka tidak
tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.
Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang
urgensi rasa takut dan pengharapan hanya kepada Allah semata akan tetapi
penulis cukupkan pada kedua ayat terdahulu.
Diantara ayat-ayat yang menjadi landasan tasawuf
adalah nash-nash Qura’ny yang menganjurkan untuk beribadah pada malam hari baik
dalam bentuk bertasbih ataupun quyamullail diantaranya adalah firman Allah :
Artinya:
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang
tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.(Q.S al-Isra’ [17] ayat : 79
Artinya:
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan
petang. Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan
bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. (Q.S al-Insan
[76] ayat : 25-26)
Artinya:
Dan orang yang melalui malam hari dengan
bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka
Tiga ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang
senantiasa menjauhi tempat tidur di malam hari dengan menyibukkan diri dalam
bertasbih dan menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan ibadah-ibadah
sunnah lainnya hanya semata-mata untuk mengharapkan rahmat, ampunan, ridha, dan
cinta Tuhannya kepadanya akan mendapatkan maqam tertinggi di sisi Allah.
Selain daripada hal-hal yang telah penulis
uraikan sbelumnya, diantara pokok-pokok ajaran tasawuf adalah mencintai Allah
dengan penuh ketulusan dan keikhlasan hal ini berlandaskan kepada firman Allah
swt dalam Q.S at-Taubah [ayat : 24]
Artinya:
Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak ,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad
di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap
Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya harus menjadi prioritas utama di
atas segala hal, bahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus melebihi di
atas kecintaan kepada ayah, ibu, anak, istri, keluarga, harta, perniagaan dan
segala hal yang bersifat duniawi, atau dengan kata lain bahwa seseorang yang
ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan mendambakan tempat terbaik
diakhirat hendaknya menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai kecintaan tertinggi
dalam dirinya.
2. Dasar-dasar
Dari Hadis
Jika kita melihat dengan seksama akan sejarah
kehidupan Rasulullah Muhammad Saw beserta para sahabat beliau yang telah
mendapatkan keridhaan Allah, maka akan ditemukan sikap kezuhudan dan
ketawadhu’an yang terpadu dengan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah bahkan
secara individu Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan shalat lail hingga
lutut beliau memar akibat kebanyakan berdiri, ruku’ dan sujud di setiap malam
dan beliau Saw tidak pernah meninggalkan amalan tersebut hingga akhir hayat beliau
Saw, hal ini dilakukan oleh beliau Saw karena kecintaan beliau kepada sang
penggenggam jiwa dan alam semesta yang mencintainya Dia-lah Allah yang
cinta-Nya tidak pernah terputus kepada orang-orang yang mencintai-Nya.
Uaraian tentang hadis fi’liyah di atas merupakan
salah satu bentuk kesufian yang dijadikan landasan oleh kaum sufi dalam
menjalankan pahamnya.
Selain itu terdapat pula hadis-hadis qauliyah
yang menjadi bagian dari dasar-dasar ajaran tasawuf dalam Islam, diantara
hadis-hadis tersebut adalah:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ
وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ
يُحِبُّوكَ
Artinya:
Dari sahabat Sahal bin Saad as-Sa’idy beliau
berkata: datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah
! tunjukkanlah kepadaku sutu amalan, jika aku mengerjakannya maka Allah akan
mencintaiku dan juga manusia’, Rasulullah Saw bersabda: “berlaku zuhudalah kamu
di dunia, maka Allah akan mencintaimu, dan berlaku zuhudlah kamu atas segala
apa yang dimiliki oleh manusia, maka mereka (manusia) akan mencintaimu”. [5]
عَن زَيْدُ بْنُ ثَابِت قال : سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كَانَتْ
الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ
عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ
الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ
وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Artinya:
“Dari Zaid bin Tsabit
beliau berkata : Aku mendengarkan Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang
menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan berlepas diri dari segala
urusannya dan tidaklah ia mendapatkan dari dunia sesuatu apapun keculi apa yang
telah di tetapkan baginya. Dan barang siapa yang sangat menjadikan akhirat sebaga
tujuannya, maka Allah akan mengumpulkan seluruh harta kekayaan baginya, dan
menjadikan kekayaan itu dalam hatinya, serta mendapatkan dunia sedang ia dalam
keadaan tertindas”. [6]
Hadis pertama menunjukkan perintah untuk
senantiasa berlaku zuhud di dunia, sementara hadis kedua menjelaskan akan
tercelanya kehidupan yang bertujuan berorientasi keduniaan belaka, dan mulianya
kehidupan yang berorientasi akhirat. Kedua hadis tersebut menjelaskan kemuliaan
orang-orang yang hanya menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam hidupnya dan
merasa cukup atas segala yang Allah telah karunianakan kepadanya.
Selain dari kedua hadis di atas terdapat pula
banyak hadis yang memberikan wasiat kepada orang-orang mu’min agar tidak
bertumpu pada kehidupan dunia semata, dan hendaklah ia senantiasa memangkas
segala angan-angan keduniaan, serta tidak mematrikan dalam dirinya untuk hidup
kekal di dunia dan tidak pula berusaha untuk memperkaya diri di dalamnya kecuali
sesuai dengan apa yang ia butuhkan, oleh karena itu Rasulullah Saw berwasiat
kepada Abdullah bin Umar sambil menepuk pundaknya dan bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ
عَابِرُ سَبِيل
Artinya:
“Hiduplah kamu di dunia
seolah-seolah kamu adalh orang asing atau seorang musafir” [7]
Selain tiga hadis di atas masih terdapat banyak
hadis lainnya yang menjadi landasan munculnya tasawuf atau sufisme.
Dari keterangan-keterangan yang berdasarkan
al-Qur’an dan hadis di atas menunjukkan bahwa ajaran tasawuf yang menjadi
landasan utamanya adalah kezuhudan terhadap dunia demi mencapai tingkatan atau
maqam tertinggi di sisi Allah yaitu ketika seseorang menjadikan dunia sebagai
persinggahan sementara dan menjadikan rahmat, ridha, dan kecintaan Allah
sebagai tujuan akhir.
F.
HAKIKAT TASAWUF
“Dan barang siapa yang
menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang
yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang
sebaik-baiknya. (QS. An Nisaa'(4):69)
Bagi orang yang belum mengenal
apa itu Ilmu Tasawwuf atau Sufi tentu akan merasa asing untuk keduanya, karena
tidak tahu orang cendrung untuk menjauhi atau enggan untuk mempelajarinya
bahkan sampai mengejeknya. Hal ini serupa dengan awal kedatangan Islam tempo
dulu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: "Permulaan Islam ini asing,
dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing
(orang-orang Islam)." HR. Muslim dari Abi Hurairah. Kaum Sufi bukanlah
sekelompok aliran bid'ah yang ajarannya masih saja diperdebatkan, namun dalam
memahami Ilmu kesufian hati perlu benar-benar bersih dan jeli untuk menangkap
doktrin-doktrin yang diajarkan dalam sufi itu sendiri dengan catatan tidak
melenceng dari Islam. Tanpa didampingi ilmu sebagai manusia terlalu gampang
untuk mencoreng, mencela dan berprasangka buruk terhadap sesama. Dalam sebuah
hadits Nabi Saw.: "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena
sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta." HR.
Bukhari & Muslim. Tasawuf adalah segi batin dari agama. Segi lahirnya
biasanya disebut syari'ah, yang terutama berisi hukum-hukum keagamaan formal,
mengenai apa yang seorang beragama harus lakukan, dan apa yang dilarang.
Tasawuf di samping memberi segi batin dari aspek formal keagamaan itu, juga
memberi visi mengenai arti hidup beragama. Ibn al-Arabi seorang filsuf mistik
paling terkemuka, membagi empat tingkat praktek dalam memahami tasawuf, yaitu
(1) syari'ah (segi esoterik hukum-hukum agama), thariqah (sebagai jalan
mistik), haqiqah (mengenai kebenaran), dan ma'rifah (gnosis, pengalaman
kesatuan dengan Yang Ilahi). Dalam keberagamaan tasawuf ini, pengertian yang
mendalam mengenai "jalan hati" (the path of heart)-yang tidak lain
adalah "jalan kepada cinta, the path to love-mendapat perhatian, sehingga
segi-segi psikologi-spiritual menjadi begitu penting dalam jalan ini, khususnya
dalam mencapai tingkat kedirian (nafs) yang dari sini kita bisa sampai pada
pengalaman kesatuan dengan yang Ilahi itu (yang disebut ihsan, yaitu "seolah-olah
kita melihat Tuhan, kalaupun tidak, kita tahu bahwa Tuhan melihat kita"). Ilmu
kesufian atau Ilmu Tasawwuf adalah ilmu yang didasari oleh Al-Qur'an dan Hadits
dengan tujuan utamanya amar ma'ruf nahi munkar. Sejak jaman sahabat Nabi Saw.
tanda-tanda sufi dan ilmu kesufian sudah ada, namun nama sufi dan ilmu tersebut
belum muncul, sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu
Tafsir, Ilmu Fiqh dan lain sebagainya. Barulah pada tahun 150 H atau abad ke-8
M Ilmu Sufi atau Ilmu Tasawwuf ini berdiri sebagai ilmu yang berdiri sendiri
yang bersifat Keruhanian. Kontribusi Ilmu Tasawwuf ini banyak dibukukan oleh
kalangan orang-orang Sufi sendiri seperti Hasan al-Basri, Abu Hasyim Shufi
al-Kufi, al-Hallaj bin Muhammad al-Baidhawi, Sufyan ibn Sa'id ats-Tsauri, Abu
Sulaiman ad-Darani, Abu Hafs al-Haddad, Sahl at-Tustari, al-Qusyairi,
ad-Dailami, Yusuf ibn Asybat, Basyir al-Haris, as-Suhrawardi, Ain Qudhat
al-Hamadhani dan masih banyak yang lainnya hingga kini terus berkembang.
Dalam praktek realisasi ilmu Sufi
khusunya tempo dulu, mutasawwif (orang Sufi) memerlukan adaptasi yang amat
sangat ketat. Hal ini agar mampu untuk menarik orang-orang yang belum masuk
muslim dengan jalan tanpa kekerasan dan paksaan, dengan kata lain berdakwah
yang tidak keluar dari tujuan utama yang membuktikan akan cintanya kepada Maha
Pencipta yakni Allah SWT. Disisi lain orang-orang sufi menjauhkan diri dari hal
keduniaan yang dapat menghijab antara hamba-Nya dengan Allah Swt dalam
beribadah. Disinilah Sufi mulai mengembangkan metode-metode bagaimana cara
untuk membersihkan jiwa, pembinaan lahir batin, berdzikir, mendekatkan diri
pada Allah, membangun jiwa mulia dalam mengenal Allah atau ber-ma'rifat, selain
itu berintrospeksi diri siapa diri ini sebenarnya, sesuai dengan hadits Nabi
Saw. "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu" (Barang siapa yang
mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya)".
Jelas bahwa Ilmu Tasawwuf dan Sufi
adalah merupakan salah satu ilmu dalam Agama Islam yang sangat halus dan
mendalam yang mampu menembus alam batin serta sulit sekali untuk di ilmiahkan
dan diterangkan secara kongkrit. Hal ini bukan berarti tidak dapat dibuktikan
secara ilmiah namun seseorang yang memiliki kebersihan hati dan kecerdasan yang
luar biasa yang mampu mecahkannya. Sebab "Al-Islaamu 'ilmiyyun wa
'amaliyyun" (Islam adalah ilmiah dan amaliah) HR. Bukhari. Karena
halusanya ilmu ini persoalan-persoalan didalamnya bagi orang awam dapat
menimbulkan khilafiyah (perbedaan) dan pertentangan-pertentangan. Tapi inilah
keindahan Islam berlomba dalam kebaikan selama tidak menyimpang dari aturan
Islam.Tasawuf
G. KORELASI ANTARA ILMU PENGETAHUAN DAN TASAWUF
Ilmu Pengetahuan Yang kami maksudkan hubungan tasawuf dengan
ilmu pengetahuan agama, bukanlah kebenaran atau kekeliruan Ilmu Tasawuf itu
sendiri, tetapi apakah benar atau keliru untuk makrifat kepada Allah melalu
jalan tasawuf. Ada
beberapa teori atau aliran menuju makrifat kepada Allah, antara lain : aliran
Al-Mutakallimin (ahli logika dan rasio), aliran Al-Batiniah (mengikuti petunjuk
imam yang maksum), aliran Al-Falasifah (ahli filsafat, ahli logika dan ahli
berhujjah, berdalil), aliran As-Sufiyah (Al-Hawaasul Hadrat, ahli musyahadat
dan mukasyafah). Masing-masing golongan atau aliran itu mengatakan bahwa jalan
golongan atau aliran merekalah yang benar.[8]
Untuk membahas masalah ini,
kami mengemukakan pendapat, pemikiran, Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali. Kami
mengikuti pendapat dan pemikiran Al-Ghazali, karena beliau telah memasuki,
meneliti setiap aliran itu secara ilmiah dan secara amaliah dalam waktu bertahun-tahun
yang cukup lama. Beliau meneliti dan mengarungi setiap aliran itu dalam waktu
yang lama dan tidak mengenal lelah, sehingga beliau mengatakan:
"Semua kegelapan harus
aku tembus, semua kerumitan harus aku hadapi dan aku senantiasa menyelidiki
benar-benar setiap akidah dan setiap golongan, aku berusaha sekeras-kerasnya untuk
mengungkapkan semua rahasia mazhab/golongan/aliran pada masing- masingnya, agar
aku dapat membedakan mana yang benar dan mana yang palsu, mana yang mengikuti
sunnah dan mana pula yang bid'ah (tidak mengikuti sunnah)”.
Penegasan beliau selanjutnya
dalam menjelaskan ketekunan beliau menyelidiki, membahas dan meneliti
setiap golongan atau aliran itu sebagai berikut, "Tidak aku tinggalkan seorang ahli
kebatinan, kecuali telah aku ketahui tentang kebatinannya. Tidak aku tinggalkan
seorangpun dari ahli zahir, kecuali setelah aku ketahui kezahirannya. Tidak
seorang pun aku tinggalkan dari ahli filsafat, sebelum aku pahami maksud dari
filsafatnya. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli teologi Ilmu Kalam,
kecuali aku berusaha sekerasnya untuk mempelajari ilmu teologinya dan cara
berdebatnya sampai sedalam-dalamnya. Tidak seorangpun aku tinggalkan dari ahli
sufi, kecuali aku selidiki segala rahasia yang ada pada tasawufnya. Tidak seorang
pun aku tinggalkan ahli ibadat, kecuali harus kucari hasil yang diperoleh dari
ibadatnya itu. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli zindiq (seorang ahli
agama yang kafir tapi pura-pura beriman), kecuali setel ah aku selidiki dirinya
agar aku waspada terhadap sebab-sebab penyelewengan dan kezindiqannya".
Imam Al-Ghazali sebagai
seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, sebagai seorang teolog, sebagai
seorang filosof dan sebagai seorang sufi yang masyhur dan konsekwen, dalam
menekuni ajaran dan mengamalkan kesufiannya. Ia adalah seorang manusia yang
mempunyai bakat, mempunyai kelebihan, sebagai karunia Allah SWT. Ad-Diebury
memberikan komentar tentang imam Al-Ghazali sebagai berikut, Artinya
: Sesungguhnya pemuda ini (imam Al-Ghazali) telah dianugerahi kecerdasan akal
yang luar biasa dan kekuatan daya hayal yang tidak mau terikat dengan ikatan
apapun yang akan membelenggunya.
Imam Al-Ghazali memiliki
latar belakang pendidikan yang amat kuat, baik di kota Khurasan, di kota Jurjan
maupun di kota Naisabur, membuat dia menjadi orang yang ahli dalam bahasa Arab
dan Persia dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Kalam (teologi Islam),
Fikih (hukum Islam), Tasawuf, Filsafat dan Akhlak.
Ilmu kalam,
filsafat, dan tasawuf mempunyai kmiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam
adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Objek kajian
filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia dan segala
sesuatu yang ada, sementara itu objek kajian tasawuf adalah tuhan, yakni
upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Argumentasi filsafat, sebagaimana ilmu
kalam di bangun di atas dasar logika. Kerelatifan hasil karya logika itu
menyebabkan beragamnya kebenaran yang di hasilkan. Ilmu
kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan
yang berkaitan dengannya. filsafat dengan wataknya sendiri pula berusaha
menghampiri kebenaran baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak
dapat di jangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar atau di atas
jangkauannya) atau tentang tuhan sementara itu tasawuf juga dengan metodenya
yang tipikal, berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan
Tuhan spiritual menuju Tuhan. Titik perbedaan Perbedaan di antara tiga ilmu
tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam sebagai ilmu yang
menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliah. Berfungsi untuk
mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.
Sebagai sebuah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan
kebenaran agama yang di pertahankan melalui argument-argumen rasional.
Sementara itu filsafat adalah sebuah ilmu yang di gunakan untuk memperoleh
kebenaran rasional, peranan filsafat sebagaimana di katakana Socrates adalah
berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep
(the gaining of conceptual clarity). Di dalam filsafat di kenal apa yang di
sebut kebebaran korespondensi. Dalam pandangan korespondensi, kebenaran adalah
persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri. Dengan bahasa yang
sederhana, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam rasio
dengan kenyataan sebenarnya di alam nyata. Di dalam pandangan koheransi, kebenaran
adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang
telah di akui kenenarannya, secara umum dan permanen. Di dalam filsafat di
kenal juga kebnaran pragmatik. Dalam pandangan pragnatisme kebenaran adalah
sesuatu yang bermanfaat ( utility ) dan mungkin dapat di kerjakan (workability)
dengan dampak yang memuaskan. Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih
menkankan rasa dari pada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat
distingtif. Bahasa tasawuf sering tampak aneh bila di lihat dari aspek rasio.
Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi atau ilham,
atau inspirasi yang datang dari tuhan. Kebenaran yang di hasilkan berkembang
ilmu tasawuf di kenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu sesuatu yang kebenaran
objeknya dating dari dalam diri subjeknya sendiri. Ilmu seperti ini dalam sains
di kenal dengan ilmu yang di ketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan
ilmu professional. Ilmu kalam atau (teologi) menjadi teologi rasional dan
teologi tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains filosafat sendiri. Sains
berkembang menjadi sains ke alaman social, dan humaniora, sedangkan filsafat
berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan filsafat modern.
Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.
Adapun filsafat lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang
mempunyai rasio sangat prima di harapkan dapat mengenal tuhan secara meyakinkan
melalui rasionya.
Adapun tasawuf lebih berperan sebagai ilmu yang
member kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena
tidak di peroleh apa yang ingin di carinya. Sebagian orang memandang bahwa ke
tiga ilmu memiliki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam,
kemudian filsafat dan yang terkhir adalah ilmu tasawuf. Titik
singgung antara ilmu kalam dan ilmu tasawuf. Argumentasi rasional yang di
maksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir
filosofis, sedangkan argumentasi naqliah biasanya bertendensi pada argumentasi
berupa dalil-dalil Al-qur’an dan Hadist. Ilmu kalam sering mendapatkan dirinya
pada kedua pendekatan ini atau (aqli dan naqli). Ilmu kalam atau ilmu tauhid
tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa
Allah mendengar dan melihatnya. Yang membicarakan tentang penghayatan sampai
pada penanaman ke jiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. As-sunah memberikan
perhatian yang begitu besar terhadap masalah tasdzawuq. Ada tiga perkara yang
mengakibatkan seorang dapat merasakan seorang lezatnya iman yaitu orang yang
mencintai karena Allah, dan takut kembali kepada kekufuran, orang yang
mencintai Allah dan rasulnya lebih dari yang lain. Adapun pada ilmu tasawuf di
temukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakn keyakinan dan
ketentraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunfikan.
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu
tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam.
Dengan demikian ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika di lihat
bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid. Ilmu kalam
pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu jika timbul
suatu aliran yang bertentangan denga akidah atau lahir suatu kepercayaan baru
yang bertentangan dengan Al-qur’an dan As-sunnah. Selain itu ilmu tasawuf
mempunyai fungsi sebagai pmberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan
kalam. Sebagaimana di sebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung
menjadi sebuah ilmu yang mengandung rasional di samping muatan naqliah. Di
snilah ilmu tasawuf berfungsi member muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak
di kesani sebagai dialetika ke islaman belaka, yang kering kesadaran
penghayatan atau sentuhan secara qabliah. Jika cahaya tauhid telah lenyap akan
timbulah penyakit-penyakit qalbu, seperti ujub, congkak, riya, dengki, hasud
dan sombong. Dari sinilah dapat di lihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang
pertama dalam pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi).
Menurut nama tuhan Ar-rahman dan Ar-rahim,
pada aplikasi rohaniahnya merupakan sebuah sifat yang harus di teldani. Jika
sifat Ar-rahman di aplikasikan, seorang akan memandang orang yang durhaka
dengan kelembutan bukan kekasaran, melihat orang dengan mata rahim, bukan
dengan mata yang menghina. Dengan ilmu tasawuf semua persoalan dalam kajian
ilmu tauhid terasa lebih bermakna tidak kaku tetapi ,lebih dinamis dan
aplikatif.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Tasawuf
merupakan fenomena spiritual dan kultural yang tunduk kepada berbagai factor
dan pengaruh yang melingkupi fenomena-fenomena social. Tak diragukan lagi bahwa
ajaran dan prinsip Islam mempunyai peran utama di mata kaum Muslimin pada
umumnya, yang mereka pegang dan jadikan petunjuk jalan. Pada tingkah laku
Rasulullah dan para sahabatnya,dan berlandaskan pada hikmah dan mau’izah yang
terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat memberi panutan yang terbaik
bagi mereka.
2.
Saran
Tulisan ini sangat jauh dari
kesempurnaan oleh karena itu sudikiranya pembaca memberikan atau menuangkan
kritik serta sarannya agar pemakalah dalam pembuatan makalah selanjutnya lebih
baik lagi. Semoga tulisan ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya
bagi kita semua. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
1. PROF.DR.Harun
Nasution, Falsafat Mistisisme dalam Islam, Jakarta :
Bulan Bintang.
2. Drs. K. Permadi, S.H.,Pengantar
Ilmu Tasawuf,1997,Jakarta : Rineka Cipta.
3. PROF.DR.HM.Amin
Syukur, dan Dr.Abdul Muhayya, MA., 2001, Tasawuf dan Krisis ,
Semarang : Pustaka Pelajar
5.
Nasution,
Harun. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
6.
Haeiri,
Fadhlalla. Dasar-Dasar Tasawuf, terj. Tim Forstudia. Yogjakarta: Penerbit Pustaka Sufi, 2003.
[4] PROF.DR.HM.Amin
Syukur, dan Dr.Abdul Muhayya, MA., 2001, Tasawuf dan Krisis , Semarang :
Pustaka Pelajar
[5] Lihat Muhammad bin Yazid al-Qazwiny Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah,
Kitab; Zuhud, Bab; Zuhud di Dunia, No Hadis; 4102. (Cet. I; Bandung:
Maktabah Dakhlan, T.Th), Jld. II, h. 1373
[7] Lihat Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhary, Shahih
al-Bukhary, Kitab: Riqaq, Bab: Jadilah kamu manusi asing di dunia atau seorang
pejalan jauh. (Cet. I; Beirut: al-Makatabah al-Ilmiyah, 1417 H), Jld.
III, h. 3347