BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar belakang
Proses moderenisasi adalah beralihnya tehnik produksi dari
yang tradisional ke tehnik modern,[1]
filsafatpun juga mengalami proses periode modernisasi artinya filsafat juga
mengalami beberapa peridisasi, periode ini didasarkan atas corak pemikiran yang dominan pada waktu
itu.
Pertama, adalah zaman Yunani Kuno, ciri yang menonjol dari
filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan
gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche)
yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Para filosof pada masa ini
mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya, sehingga ciri pemikiran
filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris. Kedua, adalah zaman Abad
Pertengahan, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini di sebut teosentris.
Para filosof pada masa ini memakai pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma-dogma
agama Kristiani, akibatnya perkembangan alam pemikiran Eropa pada abad
pertengahan sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran
agama, sehingga pemikiran filsafat terlalu seragam bahkan dipandang seakan-akan
tidak penting bagi sejarah pemikiran filsafat sebenarnya. Ketiga, adalah zaman
Abad Modern, para filosof zaman ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis
filsafat, maka corak filsafat zaman ini lazim disebut antroposentris.
Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang
berbeda dengan filsafat Abad Pertengahan. Letak perbedaan itu terutama pada
otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan
otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada
zaman Modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu
sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun,
kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri yaitu akal. Kekuasaan yang
mengikat itu adalah agama dengan gerejanya serta Raja dengan kekuasaan
politiknya yang bersifat absolut. Keempat, adalah Abad Kontemporer dengan ciri
pokok pemikiran logosentris, artinya teks menjadi tema sentral diskursus
filsafat.
1.
Rumusan Masalah
Seperti yang
telah diuraikan pada latar belakang, maka penulis mengambil rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah perkembangan filsafat
modern?
2. Apa yang dimaksud Renaisains, Rasionalisme
dan Empirisme
?
3. Siapa tokoh-tokoh filsafat modern?
2. Tujuan
1.
Untuk mengetahui sejarah perkembangan filsafat
modern.
2.
Untuk mengetahui Renaisans, Rasionalisme dan
Empirisme.
3.
Untuk mengetahui tokoh-tokoh filsafat modern.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah Perkembangan Filsafat Modern
Runtunya
pandangan dunia abad pertengahan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu korupsi
dalam gereja katolik, meningkatnya kekayaan dan kekuasaan kelas “pedagang”
baru, penemuan-penemuan dibidang astronomi oleh copernicus Galileo. Semua
faktor tersebut memainka peran dalam pembentukan dasar-dasar metafisis dari
kekristenan di Eropa. Hal ini juga disebabkan perbedaan
pandangan para ahli sejarah tentang peralihan zaman pertengahan ke zaman
modern.
Abad Pertengahan adalah abad ketika alam pikiran dikungkung oleh
Gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat dibatasi, sehingga
perkembangan sains sulit terjadi, demikian pula filsafat tidak berkembang,
bahkan dapat dikatakan bahwa manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri.
Oleh karena itu, orang mulai mencari alternatif. Dalam perenungan mencari
alternatif itulah orang teringat pada suatu zaman ketika peradaban begitu
bebas dan maju, pemikiran tidak dikungkung, sehingga sains berkembang, yaitu
zaman Yunani kuno. Pada zaman Yunani kuno tersebut orang melihat kemajuan
kemanusiaan telah terjadi. Kondisi seperti itulah yang hendak dihidupkan
kembali
Pada pertengahan abad ke-14, di Italia muncul gerakan
pembaruan di bidang keagamaan dan kemasyarakatan yang dipelopori oleh kaum
humanis Italia. Tujuan utama gerakan ini adalah merealisasikan
kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan
ajaran agama Kristen. Gerakan ini berusaha meyakinkan Gereja bahwa sifat
pikiran-pikiran klasik itu tidak dapat binasa. Dengan memanfaatkan kebudayaan
dan bahasa klasik itu mereka berupaya menyatukan kembali Gereja yang
terpecah-pecah dalam banyak sektli.
Tidak dapat dinafikan bahwa pada abad pertengahan orang
telah mempelajari karya-karya para filosof Yunani dan Latin, namun apa yang
telah dilakukan oleh orang pada masa itu berbeda dengan apa yang diinginkan dan
dilakukan oleh kaum humanis. Para humanis bermaksud meningkatkan perkembangan
yang harmonis dari kecakapan serta berbagai keahlian dan sifat-sifat alamiah
manusia dengan mengupayakan adanya kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur
klasik Yunani. Para humanis pada umumnya berpendapat bahwa hal-hal yang alamiah
pada diri manusia adalah modal yang cukup untuk meraih pengetahuan dan
menciptakan peradaban manusia. Tanpa wahyu, manusia dapat menghasilkan karya
budaya yang sebenarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa humanisme telah
memberi sumbangannya kepada renaisans untuk menjadikan kebudayaan bersifat
alamiah.
Masa transisi dari teknokrasi spiritual menjadi teknokrasi
modern menghabiskan waktu sekitar 500 tahun. Dalam revolusi prancis tahun 1789,
pertengkaran antara para modernis dan generasi kuno diselesaikan dengan
kemenangan berdarah untuk kaum modernis. Hal ini mengakibatkan berkembangnya
negara modern dan mapannya kekuasaan teknokrasi di Eropa barat.
2.
Renaisains,Rasionalisme
dan Empirisme
·
Renaisains
Renaisans
berasal dari istilah bahasa Prancis renaissance yang berarti kelahiran
kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh para ahli sejarah
untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa,
khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Istilah ini mula-mula
digunakan oleh seorang ahli sejarah terkenal yang bernama Michelet, kemudian
dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk
kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik,
penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode Abad
Pertengahan.
Sebagian
ahli sejarah berpendapat bahwa zaman pertengahan berakhir ketika Konstantinopel
ditaklukkan oleh Turki Usmani pada tahun 1453 M. Peristiwa tersebut dianggap
sebagai akhir zaman pertengahan dan titik awal zaman modern. Ada juga yang
berpendapat bahwa penemuan benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492 M.,
menandai awal zaman modern. Para ahli yang lain cenderung menganggap era
gerakan reformasi keagamaan yang dimotori oleh Martin Luther pada tahun 1517
M., sebagai akhir zaman pertengahan. Namun mayoritas ahli sejarah mengatakan
bahwa akhir abad ke 14 sekaligus menjadi akhir zaman pertengahan yang ditandai
oleh suatu gerakan yang disebut renaissance pada abad ke 15 dan 16. Dengan
demikian abad ke 17 menjadi bagian awal dari zaman filsafat modern.
·
Rasionalisme
Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana
yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai
abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan
dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan
yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal
segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan
dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.
Filsafat rasionalisme ilmiah memandang alam dan masyarakat
sebagai sistem yang diatur secara rasional, yang sifat serta cara kerjanya bisa
dimengerti oleh mereka yang pernah mempraktikan seni berpikir rasional. Bagi
para rasionalis awal, tidak ada pengetahuan matematis.
Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir
suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat
manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang
filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun suatu sistem
keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat
mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran
rasionalisme.
·
Empirisme
Pada abad ke-17 di Inggris, muncullah saingan dari
rasionalisme, yaitu Empirisme.
Menurut empirisme, kelompok rasionalis salah saat mengatakan bahwa pengetahuan
didasarkan atas kepastian a priori (sebelum
pengalaman) matematika. Sebaliknya, bagi mereka satu-satunya sumber pngetahuan
yang benar dan tidak tercemar adalah pengalaman
indra, sehingga pengetahuan bersifat a
posteriori (setelah pengalaman)
Kalangan empiris beranggapan bahwa kita hanya bisa
mengetahui sesuatu jika kita mengenal sesuatu itu melalui indra kita. Mereka
juga membri perhatian khusus terhadap kekuatan epistemologis yang melekat pada
penglihatan manusia. Tipe epistemologi yang agak mengikuti kitab suci ini
mencontoh praktik ilmu pengetahuan yang sukses.[2]
3. Tokoh-tokoh Filsafat Modern
berikut
ini merupakan beberapa tokoh filsafat modern:
1. Nicolaus
Copernicus (1473-1543) dan Galileo Galilei (1564-1642)Kedua tokoh tersebut beraliran
Renaisains yang memutarbalikkan kosmologi para pelajar dan memulai proses baru
dalam membangun suatu kosmologi ilmiah alternatif. Dalam pemikiran ini, dunia
tidak lagi dilihat sebagai sebuah bola spiritual yang teratur secara moral,
tetapi suatu mesin mekanis yang mengikuti hukum-hukum matematika, hal ini
membawa suatu tatanan sosial baru yang berbeda dari para pendahulu religiusnya
dengan cara yang cukup signifikan.
2.
Rene Descartes (1595-1650)
Merupakan tokoh pertama
Rasionalisme. Descartes dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut
Bertrand Russel, kata “Bapak” pantas diberikan kepada Descartes karena dialah
orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat berdasarkan atas
keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dia pula orang
pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat dan iman,
bukan ayat suci dan bukan yang lainnya. Hal ini disebabkan perasaan tidak puas
terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban. Ia
melihat tokoh-tokoh Gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan
lambannya perkembangan itu. Ia ingin filsafat dilepaskan dari dominasi agama
Kristen, selanjutnya kembali kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat
yang berbasis pada akal.
3.
Jhon Locke (1632-1704)
Filsuf Empiris pertama yang dikenal
adalah jhon locke, lock merupakan pengagum ide-ide ahli kimia, Robert Boyle,
dan merupakan seorang antikatolik yang terlibat dalam politik protestan.
Dia menulis secara luas tentang persoalan-persoalan filsafat, dan menjadi
terkenal baik sebagai ahli epistomologi maupu sebagai filsuf politik.
4.
Kemajuan
Ilmu Zaman Renaisans Dan Modern
- Masa Renaisans (Abad ke 15-16)
Renaisans
merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung
arti bagi perkembangan ilmu. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian.
Pada masa ini seni musik juga mengalami perkembangan. Tidaklah mudah untuk
membuat garis batas yang tegas antara zaman renaisans dan zaman modern.
Sementara orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan renaisans.
Akan tetapi, pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju ke depan dengan
kecepatan yang besar, berkat kemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa
sebelumnya.
Pemikir
yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini antara lain:
a. Nicholas
Copernicus (1473-1543)
Dalam
teori Copernicus yang disebut dengan teori Heliosentrisme,
ia mengemukakan bahwa matahari berada dipusat jagat raya, dan bumi memiliki dua
macam gerak, yaitu gerak pada porosnya dan gerak mengelilingi matahari.
b. Francis
Bacon (1561-1626)
Bacon
adalah pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari zamannya dengan melihat
perintis ilmu. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is Power (Pengetahuan adalah Kkekuasaan). Ada tiga contoh
yang dapat membuktikan pernyataan ini, yaitu:
- Mesin menghasilkan kemenangan dan perang modern,
- Kompas memungkinkan manusia mengarungi lautan,
- Percetakan yang mempercepat penyebaran ilmu.[3]
2.
Zaman
Modern (Abad ke 17-19)
Setelah
Galileo, Fermat, Pascal, dan Keppler berhasil mengembangkan penemuan mereka
dalam ilmu, maka penemuan yang terpancar-pancar itu jatuh ke tangan dua
sarjana, yang dalam ilmu moern memegang peran yang sangat penting. Mereka
adalah Isaac Newton (1643-1727) dan Leibniz (1646-1716). Di tangan dua orang
sarjana inilah, sejarah ilmu modern dimulai.
Lahirnya
Teori Gravitasi, perhitungan Calculus dan Optika merupakan karya besar Newton.
Teori Gravitasi newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak
mengikuti pergerakan lintas lurus, persangkaan tersebut kemudian dijadikan
Newton sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan.
Berdasarkan
teori Gravitasi dan perhitungan-perhitungan yang dilakukan Newton, dapat
diterangkanlah dasar dari semua lintasan planet dan bulan, pengaruh pasang air
samudra dan lain-lain peristiwa astronomi, justru dalam lapangan astronomilah,
ketepatan teori Gravitasi makin meyakinkan, sehingga tidak ada lagi yang tidak
percaya tentang adanya gravitasi ini.
Perhitungan
calcus atau yang disebut juga diferensial/integral oleh newton di
Inggris dan Leibniz di Jerman, terbukti terbukti sangat luas gunanya untuk
menghitung bermacam-macam hubungan antara dua atau lebih banyak hal yang
berubah, bersama dengan ketentuan yang teratur. Setelah calculus ditemukan banyak sekali perhitungan dan pemeriksaan ilmiah
dapat diselesaikan, sebelumnya tinggal problematis saja. Tanpa calculus, ilmu matematika tidak dapat
berkembang seperti saat ini.
3.
Ilmu
yang Berbasis Rasionalisme dan Empirisme
Dengan
bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara
penyelidikan pada zaman modern ini, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan
tanpa mengarang mitos. Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia, sesudah
tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap fisafat, rasio
sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berpikir yang objektif.
Dalam
Positivisme Auguste Comte, ia membedakan tiga tahap evolusi dalam pemikiran
manusia. Teori tersebut terkenal dengan nama “Teori Tiga Tahap”. Berdasarkan
teori ini, seluruh sejarah pemikiran manusia berevolusi dari tahap teologi
(mistis) ke tahap filsafi, dan akhirnya pada tahap positivistis sebagai
kemenangan pasti akal. Berkat pengamatan yang sistematis dan kritis, lambat
laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional dengan meninggalkan cara
yang rasional. Dan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif
ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain yang berdasarkan
pengalaman konkret.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah
dimulai. Secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan.
Masa transisi dari teknokrasi spiritual menjadi teknokrasi modern menghabiskan
waktu sekitar 500 tahun.
a. Renaisains
Renaisains berasal dari istilah bahasa Prancis renaissance yang berarti kelahiran
kembali (rebirth). Sebagian ahli
sejarah berpendapat bahwa zaman pertengahan berakhir ketika Konstatinopel
ditaklukkan oleh Turki Usmani pada tahun 1453 M. Peristiwa tersebut sebagai
akhir zaman pertengahan dan dimulainya zaman modern.
Namun mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa akhir
abad ke 14 sekaligus menjadi abad pertengahan yang ditandai oleh sebuah gerakan
yaitu renaissance pada abad ke 15 dan 16. Dengan demikian abad ke 17 menjadi
bagian awal dari zaman filsafat modern.
b. Rasionalisme
Abad ke 17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran
kefilsafatan dalam arti yang sebenarnya. Filsafat rasionalisme ilmiah memandang
alam dan masyarakat sebagai sistem yang telah diatur secara rasional.
Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan
lahir kekuasaan baru yang lebih sempurna. Kepercayaan terhadap akal ini sangat
jelas dalam bidang filsafat dan corak yang sangat mendewakan kemampuan akal
dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.
c. Empirisme
Empirisme merupakan saingan dari rasionalisme,
pendapat kelompok empirisme bertolak belakang dengan pendapat kelompok
rasionalisme. Menurut empirisme, kelompok rasionalisme salah saat mengatakan
bahwa pengetahuan didasarkan atas kepastian matematika. Kalangan empirisme
berpendapata bahwab kita hanya bisa
mengenali sesuatu melalui alat indra.
Tokoh-tokoh
filsafat modern:
·
Nicolaus
Copernikus (1473-1543) dan Galileo Galilei (1564-1642)
·
Rene
Descartes (1595-1650)
·
Jhon
Locke (1632-1704)
Kemajuan
Ilmu Zaman Renaisans dan Modern
1. Masa
Renaisans (Abad ke 15-16)
Pada masa ini merupakan penyempurnaan kesenian, dan
pada masa ini seni musik juga mengalami perkembangan. Pemikir yang dapat
dikemukakan dalam tulisan ini yaitu Nicholas Copernicus dan Francis Bacon.
2. Zaman
Modern
Setelah Galileo, Fermat, Pascal, dan Keppler
berhasil mengembangkan penemuan mereka dalam ilmu, maka penemuan yang
terpancar-pancar itu jatuh ke tangan dua sarjana, yang dalam ilmu modern
memegang peran yang sangat penting. Mereka adalah Isaac Newton (1643-1727) dan
Leibniz (1646-1716). Di tangan dua orang sarjana inilah, sejarah ilmu modern
dimulai. Pada zaman modern ini ditemukan teori Gravitasi, perhitungan Calcus
dan Optika oleh Newton.
[1]
Sutrisno, Slamet. Drs., Tugas Filsafat
dalam Perkembangan Budaya (modernisasi, westernisasi dan Tanggung jawab Etis),
LIBERTY YOGYAKARTA, 1986, hal. 48.
[2]
Tumbull, Neil., Filsafat (para ahli
empirisme), ERLANGGA, Jakarta, 1999, hal, 108.
[3]
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004,
hal.49.
