BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dunia Islam mengalami serbuan arus peradaban modern yang begitu
dahsyat selama kurang lebih dua abad lamanya. Serbuan peradaban tersebut mampu
meruntuhkan akar tatanan kemapanan yang telah lama terbangun, yakni sejak Islam
itu datang sebagai sebuah agama, yang tidak hanya membawa wahyu spiritual, namun
juga sosial.[1] Peradaban
yang datang itu merusak dan menggerogoti peradaban Islam yang sudah mapan, bahkan
mampu memalingkan pandangan masyarakat Muslim atas dunianya serta agamanya itu
sendiri. Lebih dari itu, ia tidak hanya meruntuhkan apa yang diyakini ummat Islam
atas tatanan kemapanan sosial dan spiritual, namun juga menyentuh pijakan dasar
keagamaan ummat Islam yang menjadi jantung motivasi untuk menciptakan kemapanan
peradaban Islam, yaitu iman.[2]
Modernitas[3]
yang dalam banyak hal dimaknai sebagai suatu bentuk perubahan radikal dari pola
pandang yang stagnan menuju suatu perubahan yang dinamis,[4]
sehingga dalam satu dictum agamis, modernitas seringkali dianggap sebagai suatu
bentuk invasi peradaban yang berimplikasi atas perubahan keyakinan keagamaan.
Hasilnya perubahan yang muncul sebagai dampak dari bergulirnya isu modernitas itu
disikapi dengan sangat bervariasi oleh ummat Islam.
Ummat Islam menghadapi serbuan arus modernitas
ini di satu sisi, tidak hanya dengan situasi lokal dunianya yang telah berubah (dengan
cara menikmati produksi kecanggihan teknologi yang gagasan utama kemunculannya
dari ide-ide modernitas), namun juga di sisi yang lain modernitas membawanya
menjelajah ke dunia globalitas yang memberi konsep multi dimensional yang
melampaui ruang dan waktu ummat Islam itu sendiri berada, sehingga jangkauan
alam pikirnya mampu menembus dunia dengan vareasi corak dan warnanya yang
sangat berbeda dari alam fikir dunianya sendiri. Fenomena ini terjadi seiring
dengan bergulirnya program globalisasi dan universalisasi yang mengusung pola-pola
penyatuan ide-ide dunia yang mengandaikan ke satu paduan dengan tanpa batas dan
menghapus sekat-sekat pemisah antara Barat dan Timur. Dan telah meniscayakan munculnya
media transformasi peradaban dalam bangunan ide modernitas dengan memanfaatkan perangkat
sains dan kemajuan teknologi, yang akhirnya menjadi fenomena faktual untuk
ummat Islam dengan terealisasinya konsep-konsep modernitas ini, seperti pandangan
positifistik, hedonistik dan mengusung konsep glamoritas kehidupan yang teringkubasi
dalam wadah meterialisme dan sekularisme, sehingga modernitas terpancang dalam sketsa
kehidupan masyarakat yang telah maju di dalam buaian peradaban yang dieramkan
dalam ingkubator modernitas yang datang dari Barat. Pada gilirannya umat Islam
semakin galau menghadapi serbuan peradaban tersebut.
Beberapa ummat Islam yang lain menghadapi serbuan peradaban dengan
menjelajah ke Barat sebagai penggagas modernitas dan berinterakasi langsung dengan
masyarakat yang sudah mengkalim modern, serta memperoleh pendidikan di sana.
Hasilnya, respon ummat Islam atas adanya perubahan yang disebabkan oleh derasnya
arus modernitas itu beragam dan dengan letupan emosional yang kadang kala tidak
membingkai diri dengan argumentasi, sehingga timbul sikap berlebihan dalam menghalau
dan merespon adanya serbuan peradaban yang datang dari Barat itu. Oleh karena
itu modernitas memiliki label negatif, dan dianggap sebagai sebuah ide yang
meruntuhkan nilai-nilai intrinsik etika masyarakat Muslim dan modernitas itu
harus diwaspadai.
Modernitas pada hakikatnya sebuah fenomena
empiris bagi ummat Islam saat ini, karena ia merupakan suatu upaya dan usaha orang-orang
Barat untuk membawa peradaban mereka keambang kemajuan yang ujung pangkalnya Barat mengklaim
pemilik peradaban dunia dan satu-satunya peradaban yang kuat. Oleh sebab itulah
point utama modernitas itu adalah
mengusung ide perubahan radikal dengan akselerasi berfikir yang
melampaui realitas berfikir manusia sebelumnya, sehingga modernitas tidak
ubahnya sebuah proyek yang tidak bisa dilepaskan dari akar filosofis-historis semangat
modernitas Barat itu sendiri. Dan Barat
dalam segmen budaya yang sudah diretasnya itu, mengokohkan ilmu pengetahuan sebagai
satu-satunya klaim kebenaran, ilmu adalah bebas nilai dan manusia hanyalah
sebuah objek sejarah dan pemahaman manusia itu atas realitas merupakan sesuatu
yang gamblang serta akal budi adalah kekuatan utama dari manusia yang memiliki
kekuatan yang tidak terbatas.[5]
Dan bangunan ide modernitas menghampar dalam konsep materialisme humanism,
dimana gagasan antroposentrisme digalakan sebagai bagian dari gagasan ilmu
pengetahuan, dan konsep positivisme menyertai keinginan manusia modern untuk mengurangi
dan bahkan menggantikan peran agama dengan sains fositivis dalam ruang-ruang
public kemanusianya.[6]
Dan kaum modernis Barat dengan jangkauan alam fikirnya telah melampaui semangat
humanisme yang juga telah lama terbangun sejak era pra modernitas Barat
itu sendiri.[7]
Hal ini terjadi tidak saja dalam satu tatanan kehidupan saja, melainkan dalam
setiap lini kehidupan manusia seluruhnya. Sehingga peta proyek modernitas itu
menghampar dalam kehidupan dengan segala aspeknya.
Modernitas dalam skala yang sangat luas menyediakan konsep
humanisme di satu sisi dan naturalisme di sisi yang lain. Akan tetapi bangunan
ide-ide tersebut dieramkan dalam ruang keserakahan dan ketamakan sikap manusia atas
apa yang telah dicapai dalam ingkubasi materialisme dan sekularisme yang
akhirnya pandangan ini mengancam eksistensi manusia modern, sehingga dalam
segmentasi ini unsur-unsur kemapanan seperti terpeliharanya keutuhan
tradisionalitas harus dikembangkan dan dihidupkan kembali untuk mengimbangi
laju pergerakan modernitas itu.
Sejarah
lahirnya pradaban modern di Barat akhirnya telah mengentaskan peran Tuhan yang disertai
penentangan atas peran sentral agama yang merupakan ujung tombak berdirinya
peradaban itu sendiri, dengan cara menghilangkan faktor-faktor penting yang
dianggap sebagai elan vital masyrakat Barat, yaitu ketika modernitas digenggam di
tangan manusia yang telah menghilangkan dimensi batin Kristen yang
terinterpretasikan dalam katolikisme dan menggantinya dengan sains alam yang
pada akhirnya agama terasionalisasi dan konsep skeptisisme dalam teologi
nominalis muncul sebagai gantinya pada beberapa abad berikutnya.[8]
Penentangan ini terjadi selama terjadinya proses Renaisans yang dipelopori kaum
humanis dan individualis yang dengan arogan menyatakan diri sebagai peradaban
modern yang humanis dan materialistis.[9]
Di tengah-tengah situasi gempuran peradaban Barat modern inilah,
kesadaran ummat Islam harus muncul untuk kembali kepada Islam dan ajarannya,
sehingga Barat (yang kehilangan dimensi batin agamanya) tidak dengan mudah
menelisik masuk dan merusak tatanan kemapanan yang telah lama terbangun. Dan tentu
saja ummat Islam harus menghadirkan konsepsi logis yang mampu menjawab
kebutuhan zaman dalam rangka menghalau arus modernitas Barat itu. Dan dalam
gagasan konseptual yang mampu membentuk sistem imunitas peradaban Islam dengan
tidak menghilangkan krakter dasar Islam itu sendiri ditengah-tengah arus
peradaban modernitas.
Menurut Nasr alam fikir modernitas, telah lama menghadirkan sebuah
kompleksitas dan problema yang berujung atas kekacauan, dimana dominasi
modernitas atas kaum Muslim telah melahirkan kealpaan untuk mempertahankan
ajaran pokok Islam dan landasan dasar penciptaan keharmonisan dan kesejahtraan
bagi pemeluknya. Sementara disisi lain, Islam memiliki landasan teologis yang
akan memberikan tuntunan konseptual dan landasan normatif untuk meraih
kesuksesan dalam membina dan membangun citra modernitas atas dasar konsep
Islam. Selain itu Islam dapat memberikan perlindungan moral dan intlektual,
ketika gema modernitas mentasbihkan kebenaran relativitas dan konsep keilmuan
yang positivistik, sehingga modernitas mampu lahir dengan tanpa kehilangan arah
dan orientasinya sebagai konsep kebudayaan yang melahirkan kesejahteraan dan
menghilangkan kesan imperialisme pada sekelompok manusia manapun.
Untuk itulah modernitas dengan bangunan konseptual yang
positivistik, relativistik, materialistik, bagi Nasr tidak dapat ditolak dan
dihindari. Dan ummat Islam dituntut untuk
memberikan ruang publik, untuk menatap yang disertai filterasi ide modernitas
yang terlampau materialistik itu, dan dalam sepektrum fikir islami yang jelas
serta membangun sendiri karakter fikir dan konsepnya, sehingga bangunan
modernitas tidak lagi berada dalam koridor sekularisme dan materialisme. Di sinilah
terletak urgensi bangunan krakter dasar keislaman yang harus dimunculkan
sebagai media filterasi atas serbuan peradaban yang dibawa di atas pundak
modernitas yang positifistik, materialistik yang pada akhirnya modernitas itu
merusak dan meresahkan, sehingga Nasr berkeyakinan ada satu kerakter dan
bangunan ide dasar yang dapat digunakan dalam menghalau dan bertahan untuk maju
bersama gelombang modernitas, yaitu konsep tradisionalitas, yang diproyeksikan untuk
menjadi vaksinasi atas penyakit modernitas itu sendiri. Di sinilah terfokuskan
penelitian tesis ini, di mana Nasr berkeyakinan bahwa ketika sejarah Barat
dengan bangunan ide modernitasnya menolak dan menentang katolikisme dan menolak
kehadiran gereja-gereja dalam ruang publik, maka Islam harus muncul mengusung
ide modernitas dengan kembali kepada orisinalitas ajaran Islam dan membangun
gerakan religiusitas Islam dalam mencitrakan peradaban baru ini.
B. Rumusan
Masalah
Dalam rangka untuk
menelusuri jejak pemikiran tradisionalitas yang akan digunakan oleh Nasr untuk
mengkonstruksi pemikiran keislaman, maka beberapa kerangka fikir diuraikan
melalui proses perumusan masalah, sebagai landasan pacu penelitian ini.
Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini menjadi:
1.
Bagaimanakah
gelombang dominasi arus modernitas yang dapat mengikis peran agama Islam
2.
Bagaimanakah
urgensitas ide-ide tradisionalitas dalam pandangan Nasr untuk menghadapi gelombang
modernitas
3.
Bagaimanakah
rumusan modernitas dalam bentuk pemikiran konstruktif kegamaan
Nasr
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagaimana
berikut:
1.
Ingin
mengetahui konpleksitas ide modernitas dalam pemikiran Islam Nasr
2.
Ingin
mengetahui urgensitas ide-ide tradisionalitas Nasr dalam membendung arus
modernitas.
3.
Ingin
mengetahui rumusan ide tradisionalitas dalam gagasan konstruktif Islam menurut Nasr.
D. Kegunaan Penelitian
Dalam penelusuran ide-ide
dan pemikiran konstruktif Nasr atas Islam. Adalah berangkat dari sebuah realitas faktual dalam lanskap
pemikiran modern Barat yang melanda ummat Islam, yang lebih kepada sebuah
serbuan peradaban yang meresahkan, lantaran konsepsi modernitas Barat merupakan
sebuah ancaman yang serius atas keberlangsungan
tatanan sosial Islami yang sudah mapan dan telah lama diperjuangkan oleh ummat Islam
sejak abad ketujuh hingga runtuhnya kesultanan Islam yang ditandai dengan
masuknya peradaban baru yang disebut modernitas.[10]
Dan merupakan sebuah keniscayaan bagi sebuah terbangunnya sistem islami dalam
era modern untuk kembali menelusuri jejak pemikiran Islam yang tertuang dalam al-Qura>n maupun Hadis, yang kemudian dapat dijadikan landasan teologis
untuk membangun mental modernitas yang didambakan ummat Islam dengan tampa
menghilangkan unsur-unsur penting dari ajaran Islam itu sendiri.
Oleh sebab
itulah tidak menutup kemungkinan, apabila dilakukan sebuah upaya untuk mengurai
benang kusut pemikiran ummat Islam ketika berbenturan dengan pola dan model
modernitas yang sekuler dan materialistik. Sehingga penelitian dalam tesis ini
sengaja diarahkan untuk:
1.
Melacak
rekam jejak pemikiran modernitas yang terurai dalam bentangan sejarah munculnya
Barat sebagai pengendali modernitas. Sehingga hasil penelitian ini menjadi
bahan referensi bagi kaum Muslim untuk membangun kembali peradaban Islam yang
pernah jaya.
2.
Selain
itu agar supaya hasil penelitian ini, dapat dijadikan mind-set pemikiran Islam
bagi pemikir dan intelek Muslim untuk mencitrakan adanya landasan teologis Islami
dalam bangunan tatanan modernitas yang utuh dengan kaca mata Islam itu sendiri.
Dan menemukan ide membangun konsep penyeimbang munculnya modernitas yang dapat
merusak peradaban Islam, sehingga Islam dapat hadir dengan bangunan idenya
sendiri ditengah-tengah berkembangnya arus modernitas.
3.
Sebagai
bahan pustaka yang dapat dijadikan sebagai pemerkayaan khazanah pemikiran Islam
yang utamanya berkenaan dengan bangunan konsep tradisionalitas dalam menghadapi
serbuan peradaban Barat modern.
E. Tinjauan Pustaka
1.
Penelitian Terdahulu
Seyyed Hossein Nasr adalah, seorang pemikir Muslim yang memiliki latar
belakang ilmu-ilmu alam dan fisika. Dia lahir di Iran pada saat Iran memasuki
decade krisis dibawah kekuasaan Syah Fahlevi dimana Iran pertama kali memasuki
gerbang perubahan dengan mengusung ide-ide demokratis berdasarkan landasan
Islam yang diyakini mampu mengantarkan masyarakat meraih kesejahteraan yang
diimpikan.[11]
Dan Nasr pun tumbuh dalam buain
sublimasi cultural yang menciptakan kohesi sosial, ekonomi dan politik yang
seringkali tidak berpihak atas perkembangan seting keilmuan seseorang. Sehingga,
dia diberangkatkan oleh orang tuanya ke Amerika untuk menimba ilmu alam di MIT.
Sehingga keilmuan Nasr di kenal dengan pemikir multi disipliner yang kaya
dengan konflik afiktif atas agama, sains dan politik. Maka tidak berlebihan jika
telah banyak kajian dan penelitian tentangnya yang mencoba melihat Nasr dalam
berbagai dimensi. Sehingga sang pemikir Islam yang masuk dalam jajaran living
philosopher[12]
ini didekati dalam berbagai disiplin keilmuan dan bahkan penelitian terdahulu
mendekati pemikirannya dalam dimensi alam mistik yang uniknya penelitian ini
sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa setruktur mistik dalam pemikiran Islam yang
menempati ruang khusus dalam segmentasi kehidupan manusia dan menjadi media untuk
mengekpresikan harmoni vertikal dalam hubungannya manusia dengan penciptanya.
Penelitian ini mengasumsikan bahwa hakikat manusia yang terangkum dalam
makrokosmos, meniscayakan terciptanya gerakan-gerakan elementer alam yang
dikendalikan oleh yang Absolut dan yang ultimed kedalam ruang kesadaran manusia
dan menunjukan suatu realitas particular di mana manusia dengan kesadarannya
mampu menjadi yang individualis dan dalam waktu yang bersamaan menjadi yang
sosialis.[13]
Akan tetapi dalam penelitian
ini, tidak bersentuhan dengan upaya manusia Muslim modern untuk menghidupkan
kembali ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah gempuran arus modernitas dan disertai
dengan upaya bagaimana ummat Islam memberikan sikap afiktif atas hadirnya Barat
sebagai pemilik peradaban modern. Selain itu dalam penelitian ini, tidak
menghadirkan uraian tentang bagaimana Nasr merambah berbagi sector kehidupan
modern yang dijamah dengan pola konstruktif pemikiran keislaman dalam bingkai sebuah
kemapanan tradisi agama yang telah lama memberi ruang keharmonisan dan
mengantarkan Islam untuk membangun sebuah peradaban dunia yang luarbiasa besar.
Selain itu bangunan ide modernitas telah mengancam keberlangsungan agama, dan
akibatnya masyrakat semakin jauh dari agama itu sendiri. Untuk itulah menjadi
penting untuk mengurai catatan sejarah kemapanan Islam dalam memberikan ruang
kemajuan untuk manusia seluruhnya dan memberi keharmonisan serta kematangan
pemikiran dengan cara membangun tradisi Islaminya yang diamini oleh manusia di setiap
bangsa pada kurun waktu tertentu. Disinilah urgensitas penelitian ini
dikembangkan.
Dan penelitian tentang pemikiran Nasr dalam spiritualisasi filsafat
dalam pandangan filsafat Nasr juga sudah dilakukan. Penilitian yang merupakan
syarat untuk memperoleh gelar Magister Filsafat Islam di IAIN Sunan Ampel ini,
mencoba menghadirikan bagaimana, filsfat dalam pandangan Nasr memiliki
dasar-dasar spritualitas dan memiliki konsep yang agamis, sehingga karenanya,
ia merupakan, sebuah landing pemikiran dan diskursus dewasa ini yang damai dan
memiliki bangunan religious. Filsafat sebagai induk dari segala keilmuan
memungkinkan untuk merambah berbagai sector kehidupan manusia dan dapat
membentuk mindsetting untuk melihat dunia dan mempersepsikannya. Oleh
karena itu spiritualitas dibutuhkan untuk mengarahkan filsafat kejalan agama. Akan
tetapi dalam penelitian ini, belum bersentuhan dengan bagaimana sesungguhnya
gairah Nasr untuk menghadirkan wacana tradisi di tengah-tengah modernitas sehingga
modernitas itu tidak mengancam keberlangsungan hidup manusia Muslim. Karena
pada hakikatnya manusia modern bukan saja manusia yang saat ini telah
kehilangan konsep kemapanan tradisionalitasnya, akan tetapi manusia saat ini
kehilangan konsep kemanusiannya ketika berhadapan dengan ide-ide positifistik
dan hedonistik yang bersumber dari materialisme dan sekularisme. Sehingga
dampaknya manusia menjadi rakus dan tamak dalam menjalankan kehidupannya.
Sehingga penelitian tentang pandangan modernitas Nasr untuk sampai
pada limit pertahanan atas gempuran peradaban modern, yang dalam garis demarkasi
konsep revival dalam membangun upaya-upaya untuk memproteksi ummat Islam dari
gempuran arus modernitas Barat yang hedonis dan positifistik ini meneyentuh
tataran yang fundamental dalam Islam. Penelitian ini belum ada yang melakukan, maka
karenanya penelitian tentang konsep ini dapat diharapkan menjadi sebuah
sumbangsih besar atas pemerkayaan kahazanah keilmuan Islam.
2.
Perspektif Teoritis
Modernitas
mengantarkan manusia meraih kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan
sebelumnya, dimana pola fikirnya diarahkan atas konsep profane dan menghindari
yang sacral untuk sebuah ide kemapanan hidup manusia. Akan tetapi fakta
pencapaian kemapanan itu berbanding terbalik dengan realitas manusia modern
utamanya di Barat. Manusia Barat menurut Nasr merasakan kehidupan yang secara
intuitif kehilangan makna dasar kehidupannya dimana ia merupakan dampak dari
pencitraan alam yang artifisial sehingga lingkungan manusia kehilangan orisinalitasnya.[14] Bahkan masyarakat relijius
sekalipun turut serta merasakan proses hilangnya makna dasar kehidupan yang
bermula dari hilangnya konsep orisinalitas alam itu sendiri.
Dan modernitas itu dibangun oleh manusia
dengan mengandaikan adanya eksplorasi ilmiyah yang utamanya untuk membangun
afiksi tataruang kehidupan yang mereduksi peran alam dalam menyediakan nafas
kehidupan bagi manusia, sehingga manusia dan alam saling bertarung merebut
ruang legitimasi kehidupan dimana akhir dari drama pertarungan ini, justru menunjukan
arogansi manusia atas perlakuan terhadap alam dengan dalih pengembangan.
Dampaknya alam mengancam kehidupan manusia dan wewenangnya alam kemudian menjadi
sesuatu yang kehilangan arti, disertai dengan hilangnya sakralitas
penciptaanya, yang menyebabkan manusia tidak dapat merasakan manfaat alam
sehingga manusia dan alam terpisah satu dengan yang lain, disinilah manusia
modern kehilangan dimensi batinnya yang berdampak atas hilangnya eksistensi dirinya.
Maka alam tidak lagi disakralkan oleh manusia modern dan hanya dinikmati untuk
sebuah alasan profan yang bersumber dari keserakahan manusia itu. Inilah
isyarat manusia modern menurut Nasr yang hidup diluar eksistensi dirinya.
Untuk itulah Nasr mengimbau manusia
modern untuk merumuskan ulang keyakinannya atas kondisi modernitas dan
menemukan kembali titik sakralitas yang telah hilang utamanya atas alam dan
mengisyaratkan untuk kembali atas agama dalam bentuknya yang universal sebagai
jalan untuk berlindung dari gempuran negatif arus modernitas, sehingga manusia
modern dapat mengartikulasikan dirinya ditengah-tengah peradaban yang serba
materialistik ini. Disinilah urgensitas penelitian tesis ini, yang diupayakan
untuk mengurai berbagai bentuk serangan modernitas atas manusia Muslim utamanya
dan menemukan rumusan konseptual yang digagas Nasr dalam membendung arus
modernitas ini, sehingga menjadi tawaran yang konstruktif dalam menghadapi era
modern ini.
Dan untuk memeroleh data, tentang bagaimana
manusia Muslim modern harus menghadapi arus modernitas dengan upaya konstruksi pemikiran
Islamnya Nasr, penulis mencermati dan menganalisis buku-buku terpilih yang
telah ditulis oleh Nasr, yang selanjutnya diidentifikasi sebagai referensi
utama (primary referent) dalam penelitian ini. Yaitu: (1) Ideals and Realities of Islam, (2) In Search of the Sacred (3) Man and Nature: The Spiritual Crisis of
Modern Man (4) Islamic Life and
Thought (5) Knowledge and the Sacred (6)
Traditional Islam in the Modern World (7) The Plight of Modern man.
Selain
itu, penulis juga menyertai penelitian ini, dengan buku-buku searah dalam konsep
dan proses modernisasi dalam Islam yang dapat diketagorikan sebagai upaya-upaya
revivalisasi atas gempuran modernitas dalam Islam. Seperti buku John Obert.
Voll. The Eighteth Renewal and Reform in Islamic History, dan karya
Tariq Ali The clash of fundamentalisms
crusades jihad and modernity ,
dan Richard T. Anton Understanding Fundamentalism Christian Islamic and
Jewish Movement, yang selanjutnya disebut sebagai referensi seconder dalam
melakukan penelitian pustaka ini.
F.
Metode Penelitian
Penelitian tesis ini, seluruhnya berdasarkan atas hasil analisis
pustaka, dengan melacak berbagai literature dan gagasan tentang konsep tradisionalitas
dalam pemikiran Nasr. Oleh karena itu penelitian dalam tesis ini menggunakan
pendekatan kajian pustaka atau (library research). Dengan mennggunakan pengumpulan data dari data primir dan
data seconder. Data primir merupakan data tentang konsep-konsep modernitas dan konstruksi
pemikiran Islam dalam pandangan Nasr, yang kemudian diuraikan dengan
memfokuskan diri atas konsep tradisionalitasnya sehingga dapat diketagorikan
sebagai bentuk proses membangun kemabali kejayaan Islam dalam situasi gempuran
peradaban, yaiu peradaban Barat modern. Adapun data sekunder adalah data
pendukung dan pelengkap yang berkaitan erat dengan pemikiran konstruktif Nasr
untuk membangun kejayaan Islam.
Dan untuk kepentingan analisis data digunakan berbagai metode
analisa data sebagai berikut:
1.
Metode Deskripsi
Metode deskripsi adalah sebuah upaya menjabarkan dengan pola
refresentatif ralitas atas objek yang sedang diteliti, sehingga diperoleh
sebuah gambaran yang utuh tentang realitas tersebut.[15]
Selain itu deskripsi adalah upaya menjabarkan dengan pola-pola menggambarkan
dan merumuskan ide-ide pokok dalam setiap realitas yang dapat ditangkap sebagai
sebuah objek ontologis dari sebuah penelitian.[16]
Akan tetapi dalam penelitian ini,
penulis tidak saja terbatas pada mendeskripsikan pemikiran Nasr dalam rangka
pemetaan konsep konstruktif yang dikaitkan dengan modernitas dalam Islam, namun
juga dilakukan dengan pola inferensiasi atas data-data primer dalam buku-buku
utama Nasr.
2.
Metode Analisis
Analisis adalah,
proses mengumpulkan dan menguraikan serta membandingkan suatu istilah dan
ungkapan dari penomena objek yang terdapat dalam sebuah fakta yang terdapat
dalam sebuah realita, apakah itu sebuah pemikiran maupun ungkapan afiksi
tentang suatu hal. Sehingga akhir dari sebuah proses ini, adalah kesimpulan
dalam konsep induksi maupun deduksi. Menurut Patton dalam Moleong analisis
adalah upaya mengatur urutan data dan mengurutnya kedalam sebuah organisasi
sehingga menjadi suatu pola, kategori dan stuan uraina dasar, dan
menghindarkannya dengan sebuah penafsiran.[17]
Akan tetapi dalam penelitian ini
penulis menggunakan pendekatan analisis data sebagai mana sebuah proses
penelitian kepustakaan dengan pola dan pendekatan sebagai berikut:
a.
Analisis
pensifatan attribution analysis. Yakni dengan melacak sebuah krakter dan
identifikasi sebuah objek penelitian dalam pemikiran seorang tokoh.
b.
Analisis
pernyataan sign vehicle analysis, yaitu dengan melacak sebuah ungkapan
dapat diberi label dan krakter khusus dalam sebuah uraian dan analisis istilah
dan konsep pemikiran tentang sesuatu.
3.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library reseacrh) yang
memfokuskan pada proses
rekonstruksi pemikiran keislaman Seyyed Hossein Nasr yang digunakan untuk
menghalau serbuan modernitas. Sehingga dalam konsep ini ingin diperoleh
data tentang bagaimana Nasr memandang bahwa modernitas itu baik, akan tetapi
harus diwaspadai. Selain itu, sehubungan dengan
penelitian ini juga dianalisis dengan mengunakan teori konten analisis, dan
deskripsi atas pokok pemikiran Nasr dalam buku-bukunya.
4.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk menghimpun data tentang pemikiran tersebut, bisa dilakukan dengan cara melakukan eksplorasi secara
komprehensif terhadap buku-buku yang berkaitan dengan pemikiran pembahruan tajdid> yang akan dijadikan referensi, dan buku
peninjang terutama buku-buku yang membahas tentang pola
pembaharuan seorang tokoh yang lain.
Untuk mengetahui kesimpulan dari penelitian
ini perlu dilakukan analisis komprehensif atas data-data yang diperoleh. Karena
temuan-temuan penelitian memerlukan pembahasan lebih lanjut dan memerlukan
penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna dibalik fakta yang ada.[18]
5.
Analisis Data
Penelitian ini akan menggunakan teknik
analisis isi (content analisys) sekaligus bersifat deskripstif di mana data dideskripsikan sekaligus dianalisis dengan cara berfikir
reflektif.[19] Analisis digunakan untuk menggambarkan
tentang kategori-kategori yang ditemukan dan muncul dari data,[20] sehingga dapat melahirkan analisis yang
obyektif dalam memberikan gambaran utuh tentang pemikiran
konstruktif Nasr.
Dari analisis ini, diharapkan dapat memberikan
gambaran yang jelas dan obyektif mengenai masalah yang menjadi titik tekan
dalam penelitian ini secara detail, sehigga bisa ditarik kesimpulan sesuai
dengan obyek masalah yang diteliti.
G. Sistematika Pembahasan
Dalam penelitian ini, penulis menguraikan data dan temuan yang
diperoleh dari sumber-sumber bacaan baik yang primir maupun yang seconder,
sehingga rangcanagan penelitian pemikiran konstruktif Seyyed Hossein Nasr,
terbagi kedalam lima bab. Bab I terdiri dari sembilan sub bab yang diawali
dengan pembahasan mengenai latar belakang masalah yang dimaksudkan untuk
menggambarkan permasalahan yang akan dikaji. Masalah-masalah yang telah
teridentifikasi kemudian dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah. Pada sub bab
selanjutnya akan diuraikan pula mengenai tujuan dan kegunaan penelitian. Untuk
melihat beberapa tulisan yang ada dan berkaitan dengan permasalahan yang hendak
diteliti, akan diformulasikan dalam telaah pustaka.
Sementara bab II berisi
kajian tokoh dalam hal biografi ilmiyah dan latar belakang akademik tokoh yang
sedang dikaji, sekaligus ruang lingkup politik tempat tokoh itu dilahirkan.
Mengingat kondisi sosio politik sangat berpengaruh atas pemikiran seseorang.
Bab III berisi kerangka teoritik yang terkait dengan modernitas dalam pemikiran
Barat dan tradisionalitas menurut Nasr dan pola-pola bertahan dari arus
modernitas dalam Islam. Sehingga kajian ini lebih banyak berbicara tentang
konsep pemikiran Nasr dalam
rumusan-rumusan modernitas dan pola perthanan dari gempuran arus modernitas itu
dan kemudian dengan pola bertahan dengan menggunakan tradisionalitas. Bab IV
hasil penulusuran pemikiran Nasr tentang konsep modernitas dengan membangun ide
tradisionalitas dalam Islam. Sehingga kajian lebih bersifat laporan penelitian.
Dan yang V merupakan kesimpulan.
BAB II
BIOGRAFI SEYYED HOSSEIN NASR
A. Latar Belakang Historis dan Sosio
Kultural Kehidupan Nasr: Analisis Preodesasi Sejarah dan Pengembaraan
Intlektual
1.
Nasr di Iran
Untuk mengetahui genre pemikiran seorang
tokoh, maka sosio-cultural, politik, dan budaya harus juga dipahami. Karena,
konstruksi politik dan seting budaya kemasyaratakan (sosio cultural) memberi
ruang yang cukup lebar atas situasi dan
bangunan intlektualitas seseorang, sehingga dalam uraian bab dua ini, terfokus
atas kondisi budaya, sosial dan politik Iran pada masa-masa kelahiran Nasr
yaitu pada tahun 1933, di Tehran. Pada bab ini juga akan diurai perjalanan
intlektualnya, yang dapat merefleksikan sistem pembentukan krakter ilmiyah dan
ciri khas pmikirannya dalam mengajukan konsep tradisionalitas di era modern.
Iran adalah Negara yang terkenal dengan kepemimpinan besar dinasti
Shah, dan Iran teridentifikasi sebagai sebuah daerah yang
stabil yang keberadaanya diwaspadai oleh pemerintahan Barat terutama Amerika.[21] Walaupun Amerika sendiri sering memberikan bantuan utamanya yang berkenaan
dengan pemeliharaan stabilitas keamanan yang memang dibutuhkan pemerintahan Syah
Iran.
Akan tetapi sepanjang tahun 1930 hingga1980 resesi gelombang
politik Iran sangat tidak menentu, akan tetapi resesi ini justru menyulut
terciptanya gelombang pergolakan dan pertikaian Iran dan Barat.[22] Di mana, posisi Iran sebagai Negara yang kaya minyak menjadi
rebutan dan primadona Negara-negara Barat yang notabene sangat Miskin Sumber
Daya Alamnya (SDA).[23] Maka pergolakan politik Barat
dan Iran semakin memanas ketika tentara Inggris dan Uni Soviet menyerang Iran
dari tgl. 25 Agustus hingga 17 September 1941, sehingga terjadi pembatasan Blok
Poros dengan gagasan pembangunan infra struktur penggalian minyak Iran. Blok Sekutu akhirnya memaksa Shah untuk
melantik anaknya, Mohammad Reza Pahlavi untuk menggantikannya, dengan harapan Mohammad
Reza dapat menyokong mereka.[24]
Akan
tetapi, pemerintahan Shah Mohammad Reza bersifat otokratis yang dengan bantuan Amerika
dan Inggris, Shah meneruskan modernisasi Industri Iran, dan pada waktu yang
sama Reza menghancurkan partai-partai oposisi melalui badan intelijennya SAVAK. Pada saat itu Ayatollah Ruhollah Khomeini yang beroposisi
dan aktif mengkritik pemerintahan Shah Mohammad Reza dipenjarakan selama
delapan belas bulan.[25] Akan
tetapi melalui nasihat jenderal Hassan Pakravan, Khomeini dibuang ke luar negeri dan diantar
ke Turki lalu beberapa
waktu kemudian dibuang ke Irak.
Secara
geografis Iran berbatasan dengan Azerbaijan (panjang perbatasan:
432 km) dan Armenia (35 km) di Barat
laut, Laut Kaspia di utara, [26]Turkmenistan (992 km) di
timur laut, Pakistan (909 km) dan Afganistan (936 km) di
timur, Turki (499 km) dan Irak (1.458 km) di Barat, dan akhirnya Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.
Luas tanah total adalah 1.648.000 km² (daratan: 1.636.000 km², perairan: 12.000
km²).[27]
Daerah daratan
Iran di dominasi oleh barisan gunung yang kasar yang memisahkan basin drainage
atau dataran tinggi yang beragam. Bagian Barat yang memiliki
populasi terbanyak adalah bagian yang paling bergunung, dengan barisan seperti Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Zagros dan Alborz, yang terakhir merupakan tempat titik
tertinggi Iran.[28]
Iran dianggap
sebagai salah satu dari 15 negara yang membentuk apa yang disebut sebagai
tempat lahirnya kebudayaan manusia.[29] Oleh
sebab itulah dalam konsep letak alami geografis Iran, sangat mungkin jika ia memiliki
kekayaan alam yang melimpah berupa sumber minyak, dan sumber uranium yang
menjadi bahan baku pembuatan energi nuklir. Sehingga kondisi geografis ini pula
menjadi garis penghubung antara Iran dan Negara-negara Barat utamanya Amerika
Serikat. Dan hal itu, cukup berpengaruh kemudian atas kebijakan-kebijakan
politik luar negeri Amerika untuk menggandeng Iran dalam kancah percaturan
politik dunia. Itu sebabnya Nasr kemudian memiliki peluang yang sangat besar untuk
belajar fisika di MIT Amerika.
Parsi yang kemudian juga dikenal dengan sebutan Iran,
mulai berganti menjadi Islam Syiah pada zaman Safawi, pada tahun
1501. Dimana dinasti Safawi kemudian menjadi salah satu penguasa dunia yang
utama dan mulai mempromosikan industri pariwisata di Iran. Di bawah
pemerintahannya, arsitektur Persia berkembang kembali dan masyarakat dapat menyaksikan
pembangunan monumen-monumen yang indah. Akan tetapi kejatuhan Safawi yang
disusul dengan Persia yang menjadi sebuah medan persaingan antara kekuasaan Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Britania (dengan
menggunakan pengaruh Dinasti Qajar).[30]
Sementara itu Modernisasi Iran yang bermula pada awal abad
ke-19, membangkitkan keinginan untuk berubah dari orang-orang Persia. Dan hal
ini menyebabkan terjadinya Revolusi Konstitusi Persia pada tahun 1905 hingga
1911. Pada tahun 1921, Reza
Khan (juga dikenal sebagai Reza Shah) mengambil alih tahta
melalui perebutan kekuasaan dari Qajar yang semakin lemah. Sebagai penyokong
modernisasi, Shah Reza memulai pembangunan industri modern, jalan kereta api, dan pendirian sistem
pendidikan tinggi di Iran. Sayangnya, sikap aristokratik dan ketidak seimbangan
pemulihan struktur sistem kemasyarakatan menyebabkan banyak rakyat Iran tidak
puas, dan gelombang protes di sertai resesi perlawanan atas penguasa bergolak
signifikan.[31]
Situasi ini berlanjut hingga beberapa tahun kemudian dan
pasang surut sejarah resesi politik Iran menjadi moment terpenting bagi
Negara-negara Barat utamanya Amerika di mana gagasan dinasti Syah menggulirkan
wacana modernitas dengan cara keluar dari kungkungan pemerintahan Parsi.
Sehingga Barat dengan segenap potensi diplomatiknya membangun hubungan
multilateral melalui sekutu-sekutu yang juga memiliki keinginan untuk membangun
imperium atas Iran. Gelombang resesi ini, kemudian menjadikan Iran berada dalam
transisi segenap lapisan kehidupan masyarakatnya, sehingga dalam segmentasi
tertentu Iran berada dalam pencarian yang ujung pangkalanya nanti, Iran menjadi
dualisme pemikiran antara modernisme dan tradisionalisme.
Dalam situasi yang seperti ini, Nasr dilahirkan dalam
buaian kultural yang dualisme ini, sehingga di kemudian hari ia mampu memberi
warna dan corak pemikirannya. Dan yang terpenting Iran pada waktu kelahiran
Nasr adalah sebuah daerah yang baru memulai proses modernisasi dalam segala
bidang utamnaya ekonomi.[32]
Nasr kecil, seperti dalam pengakuannya,[33]
adalah seorang embreo pemikir atas kegelisahan situasi dan kondisi sosio
masyarakat yang menurutnya, seringkali melampaui batasan normal kemanusian yang
dilahirkan untuk membuat keputusan atas kesejahteraan alam. Sehingga baginya
alam fikir modern Iran yang mengadopsi pola medernitas Barat (dunia Eropa)
telah mencerabut akar kemapanan alam tradisionalitas Iran.[34]
Sehingga gaya artistik bangunan dan tata letak perkotaan jauh dari kesan
keasrian alam pedesaan yang hijau.[35]
Seyyed Hosein
Nasr adalah, seorang pemikir Muslim yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang fisika. Dia lahir di Iran
pada saat Iran memasuki dekade krisis di bawah kekuasaan Syah Fahlevi dimana
Iran pertama kali memasuki gerbang perubahan dengan mengusung ide-ide
demokratis berdasarkan landasan Islam yang diyakini mampu mengantarkan
masyarakat meraih kesejahteraan yang diimpikan. Sementara itu dalam belahan
dunia yang lain Iran terus berupaya melawan dominasi Barat, membangun konsep
modernismenya yang Islami dan dalam sisi yang lain mengisyaratkan adanya
perubahan dari hegemoni arestokratik kedalam konsep demokratik, yang juga belum
terumuskan dengan baik.
Kecantikan Iran
dan keindahan alamnya adalah terletak pada pemeliharaan lingkungan dan tetap
memperhatikan alam sekitar dari arus perubahan atas konsep pengelolaan alam,
akan tetapi dominasi pemikiran modernitas merubah pola tata ruang Iran menjadi
sebuah elegansi imitatif keindahan yang dibentuk tidak alami.[36]
Bagi Nasr perubahan alam fikir masyarakat dari tradisionalitas menuju kondisi
urban merupakan sebuah kekurangan bahkan kesalahan yang berakibat atas perubahan
kerakter dasar dirinya yang pada gilirannya, akan merubah pandangan masyarakat
tersebut atas alamnya. Alam diperangi dan dihegemoni layaknya seorang pelacur
yang terus dimanfaatkan serta dikebiri kreatifitasnya. Inilah gagasan hidup
Nasr tentang filosofi alam yang digunakan untuk mengkaji ekologi dan teologi
sekaligus.
Namun demikian
Nasr tidak menghilangakan unsur kemajuan teknologi yang utamanya datang dari
Eropa, yang juga harus dipertimbangkan dalam membangun kehidupan di Iran,
dimana dia sangat terkesan dengan kemajuan teknologi semisal terciptanya pola
komunikasi wireless dari jarak yang jauh. Dia sangat terkesan pada masa awal
dalam kehidupannya dapat menyaksikan kemajuan teknologi ini, yang waktu itu
hanya berupa radio yang dengannya Nasr kecil terkesima dengan pola kerja benda
kecil yang menarik ini. Sehingga dia mencoba mencari dan menelusuri pola kerja
dan proses pembentukan komonikasi wireless ini.[37]
Proses
perkembangan oto- teknologi dari yang kecil sederhana semisal radio hingga
produk besar semisal mobil, Nasr mengakui sebagai sesuatu yang memiliki nilai
intrinsik tersendiri bagi masyarakat Iran yang berimplikasi atas terbentuknya
pola pandang yang berubah dari sebelumnya atas dunia. Hal itu mengapa kemudian,
Nasr berasumsi bahwa proses perkembangan teknologi menjadi sesuatu yang
signifikan dalam menentukan gerak laju simbiosis pemikiran masyarakat yang
tradisional menuju yang modern, yang nantinya dapat menjadi satu pijakan dalam upaya
untuk mengkonstruksi dunia yang serba baru. Nasr sendiri menelusuri minat dan ketertarikan
manusia dan kecintaan atas produk teknologi yang dapat melahirkan kealpaan atas
alam. Inilah salah satu concern dan focus Nasr untuk meletakan imaginasi
modernitas yang dominative, dimana
manusia dengan power-syndrome nya merusak dan menghancurkan alam
kemanusiannya, dan krisis manusia modern terjadi salah satunya karena proses
ini. [38]
Iran pada masa
– masa awal penciptaan dan pembentukan alam fikir Nasr, berada dalam gerbang
perubahan sektor politik dan ilmiyah. Politik dalam hal ini juga merupakan
suatu segmentasi perubahan dalam eskalasi kultural yang sebelumnya sangat
tradisional.[39]
Dimana gaya dan model kehidupan yang sebagian mereka adopsi dari Rusia dan
Britania (dua kekuatan besar yang berhasil membangun imperial di Iran selang
beberapa dekade) sanggup menebar kebencian atas pola dan doktrin dunia lain.
Sehingga Iran seolah berada dalam gerbang kohesi sosial masyrakat yang besar,
dan segmentasi berfikir filosofis masyarakat Iran berpusat atas kedua kekuatan
besar ini. Berbeda dengan pola dan doktrin pembangunan konsep ilmiyah yang
lebih banyak didominasi sains dan ilmiyah Amerika. Sehingga dalam spektrum
filosofis saintifiknya mampu meletakan kemajuan teknologi Amerika menajdi model
terpenting bagi masyarakat arestokratik Iran. Hal itu kenapa kemudian,
mobil-mobil Amerika yang menurut Nasr sangat jarang menjadi impian dan ajang prestise sosial yang
mampu memikat perhatian publik Iran.[40]
Bagi Nasr alam
adalah sesuatu yang memiliki struktur spiritualitas yang tinggi, sehingga apabila
hendak mengeksplorasi alam ini haruslah mengetahui konsep spritualitasnya. Akan
tetapi Iran dengan dominasi agama[41]
justru beranggapan bahwa alam adalah benda mati yang tidak memiki kemampuan spiritualitas. Menurut Nasr agama dengan
tegas mengajarkan pengikutnya untuk mengenali alam dengan segala kebutuhannya
dan haruslah benar-bear memahamai hakikat alam karena pengejewantahan tuhan dan
kebesarannya berada pada struktur kosmis yang tidak lain adalah alam ini.
Imajinasi Nasr
tentang alam sudah terbentuk sejak dia masih berusia enam tahun. Dimana pertama merasakan begitu besar
perubahan alam dan lingkungan yang meruanglingkupi kehidupan urban keluarga
Nasr. Urban dalam konsep materialistik dalam kehidupan kecilnya mengantarkan
hidup keluarganya yang merupakan struktur komonitas pemerintahan menikmati berbagai
fasilitas mewah seperti perumahan, mobil dan fasilitas hidup lainnya. Akan
tetapi dengan darah sufi sekaligus filosof yang dia miliki, (yang tentu
mengalir dari garis ayahnya Seyyed Valia>lla>h) Nasr mencintai filsafat sejak berusia tujuh tahun, dan mencintai
tasawuf dan ajaran tradisionalitas sejak berusia tiga atau empat tahun telah menjadi
pengendali utama untuk tidak larut dalam kemewahan itu. Oleh sebab itulah Nasr
telah mengenal puisi-puisi Rumi sejak usianya sangat belia yaitu empat tahun.
Dan telah membaca filsafat fisikanya Pascal dan fenominologi Hursell sejak usia
tujuh tahun.[42]
Pengalaman awal
Nasr tentang struktur alam dan kosmos yang dia peroleh dalam bait-bait puisi Hadi>
Ha’iri> dan lirik-lirik lagu Nazami, begitu
kuat merasuki alam fikirnya tentang pola universalisme dan melahirkan paham
universalitas alam dan agama Nasr.[43]
Sehingga dalam karir akademiknya di kemudian hari Nasr menuangkan ide-ide
filosofisnya tentang alam terbentuk dengan dua dimensi penting yang cukup besar
pengaruhnya atas predikat dan kualifikasi akademisnya yaitu dengan perpaduan
konsep modernitas dalam alam tradisional yang dia peroleh dari pengalaman
pelacakannya atas doktrin sufistik. Inilah cikal bakal Nasr menjadi sang
tradisionalist.
Akan
tetapi situasi politik dalam preode pembentukan Nasr menjadi sang pemikir
tidaklah sebaik yang diimpikan baik oleh Nasr maupun keluarganya, akan tetapi
karena pengaruh dan tekanan dari berbagai element masyarakat pemerintahan Syah
yang tentu saja juga merupakan lingkaran keluarga kerajaan dinasti Syah, Nasr
pun diberangkatkan ke Amerika dengan harapan dapat memperoleh pendidikan yang
lebih baik. Itu terjadi pada pertengahan tahun 1945, di mana Nasr juga
merupakan seorang anak muda yang usianya belia menempuh perjalanan menuju
Negara Barat yang diklaim lebih maju dari negaranya. Hal itu mengapa kemudian
ketika Nasr tiba di Amerika mengalami banyak perubahan sikap antara
oranng-orang Amerika dan Nasr sendiri pun merasa tidak menyadari betapa
perjalanan menuju Amerika sungguh mengesankan. Dalam sebuah cuplikan wawancara
Nasr dengan seorang penulis terkenal Ramin Jehan Begloo sangat memuji kemegahan
Amerika dan gemerlapnya kota serta tingginya bangunan yang di Iran tidak ada. [44]
When I arrived in New York, both our uncle and Dr.
Taqi> Nasr
my cousin, and Bibi, his wife, who also was my first cousin, were
waiting for me there at the pier. I had the first glimpse of New York when we
got up in the morning on the last day of our journey. Before us stood all these
skyscrapers, which at first seemed unbelievable, because I had never seen
anything like them. At that time skyscrapers were very rare, and no other city
in the world looked like New York. All these very tall buildings presented a
unique sight, which looked both scary and exciting. I spent a few weeks in New
York, during which time my Uncle Emad Kia found a preparatory school for me.[45]
2.
Nasr di Amerika
Selama berada di Amerika Nasr menjadi kritikus pemerintahan atas
kebijakan teknologi yang diterapkan dalam skala hidup bermasyarakat di Barat.
Yang menurutnya awal petaka bagi tumbuh kembangnya masyarakat Barat yang
dianggap mulai jauh dari alam merupakan dampak dari kecendrungan penerapan
teknoogi. Begitupun ketika berada di Iran Nasr menjadi salah seorang yang
menyuarakan untuk kembali kealam, dengan maksud agar supaya manusia menyadari
sepenuhnya atas kebutuhan alam dan tidak semena-mena mengelola alam dengan tanpa
memperetimbangkan persoalan sakralitas alam itu sendiri.[46]
Bagi Nasr alam adalah sesuatu yang memiliki struktur spiritualitas yang
tinggi, sehingga apabila hendak mengeksplorasi alam ini haruslah mengetahui
konsep spritualitasnya. Akan tetapi Iran dengan nominasi agama justru
beranggapan bahwa alam adalah benda mati yang tidak memiliki kemampuan
spritualitas.[47] Padahal
menurut Nasr Islam dengan tegas mengajarkan pengikutnya untuk mengenali alam
dengan segala kebutuhannya dan haruslah benar-bear memahami hakikat alam karena
pengejewantahan tuhan dan kebesarannya berada pada struktur kosmis yang tidak
lain adalah alam ini.[48]
Dan alam merupakan struktur ketuhanan yang dengannya Dia melihat dan mengukur
kemampuan dirinya, oleh karena itu alam ketuhanan Nasr sebut sebagai Divine
of Origin asal mula segala sesuatu.[49]
Al- Qura>n sendiri dengan tegas menyatakan bahwa setruktur kosmos yang
terdapat pada pola penciptaan alam dan harus dikenali oleh setiap manusia.
Katakanlah:
"Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua
masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah
Rabb semesta alam".Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang
kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar
makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai
jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.Kemudian dia menuju kepada penciptaan
langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan
kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati
atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".[50]
Nasr adalah mahasiswa sarjana pertama Iran di Institut Teknologi
Massachusetts MIT, di mana ia memilih untuk mempelajari fisika dan matematika. Selama tahun kedua di MIT, pandangan
akademis Nasr berubah ketika ia menemukan bahwa ilmu-ilmu fisik tidak akan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan metafisik yang dia
perjuangkan. Saat itulah ia mulai
menjelajahi humaniora dan filsafat. Setelah lulus dari MIT pada tahun 1954 dengan gelar B.S. Nasr memasuki
program Pasca
Sarjana dalam bidang geologi dan geofisika di Harvard University. Dia menerima M.S. dalam
geologi dan geofisika pada tahun
1956, dan Ph.D. dalam sejarah
ilmu pengetahuan dan melanjutkan belajar,
dengan spesialisasi dalam kosmologi
Islam dan ilmu di
Harvard University di bawah pengawasan
I. Bernard Cohen,
Hamilton Gibb dan
Harry Wolfson. Setelah menerima
gelar Ph.D. pada tahun 1958, Nasr memutuskan untuk
kembali ke Iran meskipun dia sempat
ditawari posisi sebagai asisten profesor
di MIT.
Dari tahun 1958 sampai tahun 1979 Nasr adalah profesor dalam
sejarah ilmu pengetahuan dan
filsafat dan ditunjuk sebagai dekan
Fakultas Sastra di
Universitas Tehran. Pada usia tiga
puluh ia meraih gelar professor dan merupakan orang termuda yang menjadi profesor penuh di Universitas Tehran. Nasr beberapa kali mengunjungi Amerika sebagai dosen tamu,
termasuk kembali ke Harvard pada tahun 1962 dan 1965. Nasr ditunjuk sebagai Presiden
Aryamehr University oleh Shah Iran pada tahun 1972 dan pada tahun 1973 Ratu Iran
menunjuk Nasr untuk
mendirikan sebuah pusat kajian untuk studi filsafat. Di bawah bimbingan terampil Nasr, Imperial Academy
Filsafat Iran
didirikan dan dengan cepat menjadi salah satu
icon paling penting
dari kegiatan filsafat di dunia Islam
Iran. Nasr adalah presiden pertama
dari pusat studi ini, dan di bawah
bimbingannya itu mengembangkan
sebuah perpustakaan yang luas untuk filsafat dan dapat menarik beberapa ulama paling terkemuka di
bidang filsafat ini, baik dari Timur dan Barat.
Secara
akademis Nasr memang memfokuskan diri
atas penelusuran alam dan filosofinya serta mencoba menguraikan persoalan
kemanusian modern yang muncul akibat tidak tersedianya lahan konseptual
spiritual yang digunakan untuk mengembangkan lingkungan dan alam. Hal ini
terjadi karena factor ide modernitas yang dikembangkan Barat.
Akan tetapi ketika Barat, telah meraih apa yang disebut sebagai
kemajuan, dengan bingkai modernitas, persoalan kemanusian muncul dan kebebasan
justru dipertaruhkan dalam kooptasi politik modern yang muara realitasnya,
berputar pada pusaran krisis yang juga kadang disebut multi dimensional
crisis. Yang memepertanyakan kembali peranan sentral modern dalam
menciptakan keharmonisan hidup. Barat tidak lebih harmonis dan damai dari pada
dunia yang tidak mengklaim diri sebagai peta wilayah modern. Sehingga berbagai
persoalan muncul dalam skala yang sangat luas variable kesejahteraannya.
Krisis
multi-demensional Barat modern ini, membentang seluas terbentangnya ide modernitas
yang digulirkannya ide ini sejak awal abad ke 18 dari belahan dunia Eropa.
Seperti halnya eropa utara yang dikenal sebagai, Kristiani teritorial, yang
dalam bahasa Nasr adalah daerah white Christian, seringkali terjadi
pebalakan liar dari kelompok putih dari ummat Kristiani atas orang-orang berwarna
atau pembunuhan secara keji, dengan dalih pembersihan atas bangsa yang tidak
diutus tuhan ketengah-tengah manusia Kristen.[51]
Atau keresahan manusia modern atas dominasi teknologi atas hidup bangsa-bangsa
di Eropa dengan asumsi konseptual pemenuhan hidup mudah dan efektif dalam
melakukan aktifitas sehari-hari. Sehingga dampak logis dari pola hidup yang
demikian mengantarkan manusia Barat resah dan mengalami beragai fobia atas
alamnya sendiri, dan manusia berada pada tataran krisis alamiyah dan krisis
kesadaran atas alam di mana ia hidup.
Persoalan
kemanusian, yang juga muncul sebagai kelanjutan logis dari ide modernisme
utamanya, dalam realitas masyarakat yang berupaya membangun imajinasi modern
dengan trend hidup serba ilmiyah, telah melahirkan problema yang dapat di kelompokan
kedalam masalah yang rumit untuk diselesaikan karena tergolong akut. Manusia
bertarung dengan lingkungan dan alamnya ketika pola hidup modern terus beranjak
menuju eskalasi tinggi dan mencoba memenuhi tuntutan modern yang sangat tinggi.
Manusia pada era ini menjadi sangat rakus dan angkuh dalam memperlakukan
lingkungan alamnya sehingga antara manusia dan alamnya bersaing untuk melahirkan
stigma modernitas dengan landasan fikir yang serba fositivistik. Hal ini muncul
dari sikap dan perilaku yang sembarangan manusia dalam mengelola hidupnya untuk
memenuhi kebutuhan kemanusiaannya itu.[52]
Dalam persoalan
ini Nasr beranggapan bahwa di Barat dengan munculnya pola hidup yang ilmiyah manusia
memperlakukan alam dengan semena-mena dan telah menempatkan alam pada ruang
yang sangat tidak logis, sehingga pada gilirannya masyarakat Barat disebutnya logical
non-realist.[53]
Nasr mencoba mengembangkan ide dengan isu global kemanusian yang menempatkan
ide sentral krisis spiritualitas masyarakat modern.[54]
Masyarakat
modern menurut Nasr, merupakan sekelompok orang yang tertata dengan struktur
fikir intlektual yang profan dengan bersandarkan diri secara mutlak atas
hukum-hukum positifistik, tanpa mengindahkan kebutuhan-kebutuhan dasar alam
dengan mencoba mencari garis penghubung antara alam dan manusia. Sehingga alam
dan manusia bertarung dan bersaing membentuk struktur alamnya sendiri.
Akhirnya, manusia hari ini hidup dalam arus urbanisasi yang merasakan pengabnya
alam yang disebabkan atas hilangnya, intuitive alamiyah atas persahabatan
manusia dengan alam itu sendiri. Dan manusia merasakan kehilangan kebebasan
untuk bergerak dan berekspresi karena eksploitasi natural atas domain hidup
manusia terus melonjak tajam dan mengantarkan manusia hidup dalam, ledakan
masyarakat dan luapan polusi udara yang tidak terhindarkan.[55]
Modern tidak
saja memiliki ciri khas yang sering disebut sebagai kemajuan humanisme dengan
konsep positivistik, kecendrungan manusia modern menurut Nasr juga struktur
berfikir monopoli atas alam, dengan cara memperlakukannya dengan sembarangan
dan tindakan yang semena-mena terhadapnya. Seperti eksplorasi migas tanpa henti
untuk kepentingan sumber energy yang juga untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Pembalakan hutan dengan cara digunduli dan penebangan liar atas kayu-kayu nya
untuk kepentingan pembangunan. Parahnya lagi kecendrungan manusia yang serba
mempermudah hidup dengan bantuan alat-alat elektronik dan penggunaan teknologi
yang tentu saja dapat menpolusi atmosfer ala mini. Sehingga lapisan ozon
menipis dan akhirnya terjadilah pemansan global atau global warming
terjadi dibelahan dunia Barat khususnya dan belahan dunia timur umumnya.
Nasr melihat
terjadinya krisis ekologi, yang melanda belahan dunia Barat juga terjadi atas
dampak keserakahan manusia atas alam. Sehingga keseimbangan ekosistem tidak
terjaga, lahan-lahan perhutani yang sejatinya diperuntukan untuk binatang
ditebangi dengan dalih perluasan hunian manusia sehingga kelanjutan hidup
hewani terancam. Dan sebagai dampak tidak tersidanya lahan yang cukup untuk
binatang-binatang buas dihutan, sehingga ular misalnya dapat dengan mudah hidup
dengan cara menggangu manusia dipemukimannya. Secara menyeluruh Nasr melihat
kesadaran manusia harus terbangun dengan baik untuk menciptakan keharmonisan
mahluk hidup dan membangun ekosistem yang seimbang antara manusia dan mahluk
hidup lainnya. Disini mengisyaratkan terciptanya kesadaran spiritual yang
tinggi untuk pemeliharaan alam dan isinya.
Manusia Barat
dengan konsep urbanisasi, telah sampai kebatas nadir, yang secara alamiyah
merusak ekosistem lingkungan manusia itu hidup. Yang pada gilirannya manusia
menjadi serakah dan memonopoli kepantigngan sendiri atas kebutuhan hidupnya degan
tanpa memperhatikan kebuthan mahluk hidup yang lainnya. Kecendrungan membangun
pada diri manusia adalah salah satu fakta realitas keserakahan manusia yang
hampir tidak menyediakan ruang yang cukup untuk manusia atau mahluk yang
lainnya. Sehingga ruag bernafas sangat tidak memadai, dan manusia menjadi
seolah-olah terkooptasi atas keinginannya sendiri. Dan dalam waktu yang
bersamaan manusia enggan memperhatikan yang lainnya. Itulah isyarat krisis
spiritual menurut Nasr dalam bukunya Man and Nature the spiritual crisis of
modern man.
Bagaimanapun,
dewasa ini tidak terdapat suatu simetri yang mudah antara Timur dan Barat.
Sebelum zaman modern dalam memahami proses modernisme, wilayah Islam merupakan
satu-satunya “orang lain” yang dikenal Barat, dan konsep diri kebudayaan Barat
selama periode pematangan dan kristalisasinya hampir keseluruhannya dipengaruhi
oleh pihak lain yang satu ini. Pemahaman ini cukup melahirkan pengaruh dalam
memahami bagaimana alam ini dan manusia seluruhnya. Sedangkan bagi Islam,
terdapat bermacam-macam kebudayaan lain, seperti kebudayaan India dan China,
yang dengannya Islam mengadakan kontak dan yang Islam lihat sebagai “pihak
lain’. Kondisi ini sendiri mengakibatkan imajinasi Islam tentang dirinya
sebagai pusat kebudayaan dunia, selama beberapa abad umat Muslim tidak
mengacuhkan kemunculan kekuasaan Eropa pada masa “Renaisans”, yaitu abad
kebangkitan Barat dan juga berbagai transformasi religious.
Barat dengan
deklarasi modernitas yang dianggap telah berhasil mengangkat derajat
kemanusian, ternyata menyisakan berbagai persoalan yang belum terselesaikan dan
bahkan tergolong sulit untuk diselesaikan. Oleh sebab itulah maka kemudian
modernitas Barat yang disebut-sebut sebagai upaya untuk melahirkan harmonisasi
atas hidup manusia justru melahirkan kemelaratan yang tiada berakhir. Oleh
sebab itulah Barat saat ini perlu melahirkan konsep baru dalam memahami diri
kemanusiaanya.
Sehingga
manusia Barat perlu merumuskan ulang pemahaman tentang humanisme, alam dan
lingkungannya dalam rangka melahirkan tindakan actual tentang modrnitas yang
ujung pangkalanya dapat melahirkan kemaslahatan bagi manusia umumnya dan
lingkungan pada khususnya, sehingga tercipta keutuhan yang seimbang. Bagi Nasr, perlu adanya konsep
spiritualitas di mana pemahaman tentang manusia tidak saja dipahami dari sisi
hukum positifistik melainkan dari sudut pandang transendental pula. Untuk
itulah dalam segmentasi tertentu terdapat kebijaksanaan yang prennis yang berupaya
untuk menghubungkan alam fisik kedalam metafiik.
Nasr
melihat terjadinya krisis kemanusian di
era modern akibat terjadinya krisis keagamaan yang kurang memahamai hakikat
manusia dan alam yang lahir dari paham
fositivistik yang memandang manusia sebagai yang absolut. Untuk itulah
perlu ada pendekatan yang agamis bagi manusia modern untuk melahirkan
harmonisasi dengan alam.[56]
Kesempatan yang
diperoleh Nasr semasa di MIT, digunakan untuk memaksimalkan potensi akademiknya
pada pola eksplorasi ilmiyah yang dia gandrungi untuk menjadi pemikir yang intelek.
Sehingga focus yang dipilihnya sebagai media kajian adalah alam dan sebeluk
beluk hakikatnya. Untuk itulah fisika menjadi jurusan dan medan yang akan dia
telusuri. Akan tetapi pandangan atas konsep kebenaran yang hakiki melalui
eksplorasi alam berubah ketika bertemu dan mengikuti matakuliah Betrand Russle
yang mengatakan kebenaran tidak akan didapat hanya dengan mengakaji alam dari
struktur fisik saja. Melainkan melalui garis penghubung alam dengan bangunan
konsep mistis alam yang terjewantahkan dari struktur irasional alam itu sendiri.[57]
Pola pandang seperti yang digagas oleh Betrand Russle ini berimplikasi atas pencarian
Nasr atas yang sacral dan kemudian melahirkan pandangan prenealismenya tentang alam.
Sementara dalam
semangat ilmiyah dan pencarian alam fisik Nasr di MIT telah mengantarkannya
pada posisi yang membingungkan dalam me reformulasi alam fisik dunia yang dia
peroleh dari materi pencarian melalui fisika. Dan gagasan kebenaran alam
seperti yang dia temukan dalam pemikiran alam Galileo, akan tetapi Newton nampak
menghasilkan sebuah kerancuan yang berakibat pada keyakinan dasar Nasr atas
konsep filosofisnya.[58]
Nasr merasa ada sesuatu yang hilang dalam pandangan alam mereka baik Galileo
dan Newton maupun kaum fisikawan yang lain, sehingga perlu adanya perubahan
dalam memandang ontologi rasa alam metafisik yang mampu menguak alam realitas
alam dengan menoleh tidak pada struktur logis matematis seperti yang dilakukan
para pemerhati kealaman di abad modern. Disinilah letak kegelisahan Nasr
terhadap pandangan alam melalui fisika yang ia pelajari.
Sehingga Nasr
memutuskan untuk belajar konsep fisika klasik yang memungkinkan memberi ruang
sederhana untuk mereduksi pemikiran tentang alam dengan mengurai kandungan
kuantitatif realitas mutlak atas alam fisik yang dilihat sebagai ontology
realitas alam itu sendiri. Sehingga bagi Nasr adanya kemungkinan tercipta
benang penghubung antara realitas fisik dan metafisik dapat terurai dalam satu
kesatuan yang utuh. Disinilah letak pentingnya pemikiran alam Nasr dalam
memandang dunia alam fisik yang terkandung dalam filsafat prenialismenya.
Akan tetapi
dalam galaunya pemikiran alam dan uraian akademis alam fisik yang dia pelajari
dari konstruksi fisika modern, dapat terobati dengan bertemunya Nasr dengan
sejarawan dan filsuf alam berkebangsaan Itali yang bernama Georgio Santilana,
seorang penggas terciptanya suatu ruang konsep filosofi alam yang memperhatikan
tercapainya kearifan tradisional untuk menyambung keterputusan pemikiran alam
fisik yang realistic dari yang unrealistic sehingga terbukanya tabir terselubung alam
atas yang abadi the secred yang juga terkandung dalam alam itu
sendiri. Dalam pandangan Nasr kemudian, semua gagasan alam kaum fisikawan
modern yang merupakan hasil reduksi pemikiran alam sangat realistis, sehingga
pandangan mereka tentang alam dapat memutuskan konsep realitas diabalik
realitas alam yang kongkrit.[59] Seperti halnya Santilana Nasr pun ikut
mengkritisi pemikiran dan mainstream Barat yang tidak mengindahkan unsur-unsur
tradisionalitas atas filsafat alam fisik maupun metafisik. Sehingga dalam
konsepsi filosofis kealaman hanya dapat bersentuhan dengan permukaan alam itu
sendiri, yang merupakan fisik itu sendiri.
Fisika menurut
Nasr bukanlah jalan yang tepat untuk mengkaji dan mencari alam realitas segala
sesuatu.[60]
Melainkan justru menghadirkan keterputusan atas hakikat alam segala sesuatu
pada setiap sesuatu yang tampak sebagai alam ontology segala sesuatu. Yang
berarti doktrin ilmuan fisika dalam mencari wujud dan realitas alam dibalik
alam hanya sampai pada pemahaman yang semu dan tidak sampai pada hakikat alam
itu sendiri. Sehingga bagi Nasr kendatipun fisika menpelajari bagaimana hakikat
alam atau kosmologi fisik yang dikaji dan diteliti dalam konsep fisika tidak
sanggup menemukan hakikat dari segala sesuatu. Oleh sebab itulah Nasr mengalami
apa yang ia sebut sebagai sock of realm atas segala sesuatu yang esensi
atas penelitian tentang realitas dari pemahaman atas alam. Dan dia memutuskan
untuk tidak lagi mempelajari fisika dan lebih memilih filosofi segala sesuatu the
philosophy of things dari alam fisik yang akan ditelusuri kemudian melaui
filsafat ilmu dan sains dalam spesifikasi sejarah sains di Harvard University.
Dan Nasr pun berpaling dari proses mencari hakikat alam melalui fisika ke
filsafat sains dan teologi atas petunjuk Santilana dan kemudian mencari sumber
sastra klasiknya Komaraswani.[61]
3.
Nasr Kembali Ke Iran
Setelah
pengembaraan intelektualnya jatuh terhadap konsep spiritualitas alam dan
keyakinanya atas pola reduksi ruang spiritual alam, Nasr berkeyakinan bahwa
kendatipun Amerika menemukan sejumlah fakta ilmiyah tentang pola eksplorasi
alam raelitas. Akan tetapi Barat tidak
lah dapat menguraikan garis penghubung antara alam fisik dengan ruang non fisik
alam itu sendiri. Itu mengapa kemudian Nasr beranggapan bahwa di Barat telah
terjadi peperangan antara manusia dan alam yang terakhir manusia merusak dan
meracuni alam dengan gagasan teknologinya. Sehingga dalam segmenatasi pemikiran
alam masyrakat Barat ini, alam adalah objek yang harus dikembangkan dan
dieksplorasi sesuai dengan kehendak manusia.[62]
Iran menurut
Nasr juga mulai mengalami pergesaran makna alam yang spirituil dalam proses pengembangannya.
Padahal proses ini terbingkai dengan frame wacana agama dengan dalih demi
kemaslahatan manusia. Sehingga, menurutnya ada semacam kehendak untuk
memonopoli pengembangan alam dengan menggunakan bingkai dan seting yang berbeda
dari gagasan tradisional tentang pengembangan dan penjagaan atas alam, seperti
yang tertera dalam al-Qur’a>n.
Sehingga dalam pola pengembangannya seringkali lepas dari pola spritualitas
alam itu sendiri.[63]
Dalam pemikiran
Nasr, tercermin suatu sikap eksploratif dengan merangkai ruang terdalam dan
hakikat dari proses terciptanya alam sebagai satu tanda kebesaran sang pencipta
dan pemilik alam ini. Sehingga karenanya, alam memiliki sakralitas yang mampu
membangun harmoni manusia dengan alam dan menciptakan interaksi dialektis yang
saling mengisi dan melengkapi kealpaan manusia dan kelebihan alam yang tercermin dalam keindahan yang terpancar
dari alam itu. Maka apabila manusia tidak mampu memahami dan menangkap hakikat
sakralitas dan ruang spiritual alam ini, maka akan terjadi ketidak seimbangan,
kerusakan pada alam seperti yang dialami alam di Barat saat ini. Dimana terjadi
kerusakan pada lingkungan yang menyebabkan krisis ekologi dan pencemaran
lingkungan yang merupakan dampak dari limbah industry, sehingga dalam segment
ini, Nasr menyebutnya alam fikir Barat logist non-realist, yang meniscayakan adanya asumsi bahwa orang Barat
berfikir logis namun di sisi lain tidak realistis dalam mengelola dan
memelihara alam, yang hal ini terjadi akibat kekeliruan penanganan atas
penegelolaan alam yang berdiri atas epistemology sains dan teknologi dalam menjaga
alam.[64]
Dalam corpus
pemikiran Nasr, rangkaian ontology alam spiritualitas yang terefleksikan dalam
realitas natural yang dia rangkum dengan pendekatan teknologi dan direduksi
dari ajaran pokok Islam menjadi segmentasi tradisionalitas, merasuk dalam pola
pandang keagamaan dan aplikasi ilmiyah Nasr,
dan dicoba di urai menjadi realitas factual setiap gerak kehidupan
manusia di Iran dengan menemukan titik-titik temu agama-agama dalam
mengkonstruk stuktur keyakinan alam, dan dalam kurun waktu tertentu barangkali
Nasr intens membahasnya dalam korpus sufistik di mana Nasr tidak saja berbicara
dalam satu mainsetting pemikran tentang alam ini. Sehingga focus utama Nasr
untuk menghadirkan pandangan keagamaan yang sangat dinamis dan tentu dengan
bingkaian filosofis yang dia reduksi dari berbagai pandangan para filsuf. Maka sekitar tahun 1958 Nasr berkolaborasi
pemikiran dan membangun dialektika keilmuan bersama Henry Corbin menggagas
kemungkinan munculnya pemikiran Islam dengan konsep filosofis yang dia kemas
dalam pola dialektika agama dan filsafat. Nasr pun bersama Corbin membangun
komonikasi ilmiyah seputar ke alaman, agama dan merangkai benang
tradisionalitas di dalam gemerlapnya dunia modern yang melanda Iran.[65]
Proyek ilmiyah
yang kemudian menjadi model pengembangan keilmuan Nasr sekembalinya ke Iran,
bersentuhan dengan banyak pemikir sufistik dan tradisionalist seperti yang
telah dia rintis di Barat semasa menempuh pendidikan baik di MIT ataupun di
Harvard. Seperti bersinggungannya dengan pemikiran filsafat prenial Mulla Sadra
dan pemikiran mistisismenya Luis Masingnon serta mempelajari dengan intens
pemikiran utama Richouf Shoun yang focus pada pemikiran spiritual dan
tradisional. Sehingga dengan Henry Corbin membangun proyek besar penelitian
yang dia lakukan akhir tahun lima puluhan dan awal enampuluhan. Proyek ini mengurai
ulang apa yang telah dilakukan para pemikir tradisionalis terdahulu seperti
Suhrawardi dan utamanya dalam pandangan filsafatanya. Ini merupakan sebuah
proyek yang mengkritisi ulang berbagai pandangan sufistik dan filsafat yang
juga dengan refleksi etika sehingga merangkum dan mereduksi berbagai persoalan
filosofis yang datang dari berbagai argumentasi personal filsuf yang dijadikan
subject metter penelitian Nasr dan Corbin. Hasil kajian mereka berdua menjadi
buku laris yang semula beredar sebagai bahan ajar di perguruan tinggi Iranian
Imperial Academy.
Dalam preode
ini Nasr menjadi ter focus atas berbagai persoalan filsafat dan keislaman yang
nantinya dia mencoba untuk mengurai berbagai persoalan yang meneliti pemikiran
keislaman seperti bertemunya pemikiran Corbin dan Mulla Sadra serta bangunan
filsafat Islam yang juga digagas Corbin ketika berada di Iran. Di sinilah Nasr
kembali bersentuhan dengan para pemikir tradisionalis dan mencoba bersentuhan
dengan para pemikir islam klasik yang terangkum dengan pola reduksi ajaran
Islam yang pernah mengantarkan Islam pada puncak kejayaan Ilmiyah dan Filsafat.
Dan dia pun tidak mempercayai bahwa filsafat Islam mati bersama meninggalnya
Ibnu Rush dan tidak ada filsafat pasca meninggalnya sang filsuf Muslim
tersebut.[66]
Ini lah hasil yang diperoleh Nasr sekembalinya ke Iran.
Sementara
embrio pemikiran filsafat Nasr dan konsepsi sufistik filosofis keislamannya
mulai tertanam dan dimulai sejak dia berada di Harvard untuk menyusun disertasi
doktoralnya dan sejak saat itulah mulai bersentuhan dengan karya Schoun,
Tabata>bai dan Corbin itu sendiri. Lebih lagi ketika menyusun
disertasi doctoral tersebut dia dibimbing langsung olehWolfson dan Gilson
seorang ahli filsafat Islam di Harvard dan memberi pengantar kajian text Persia
klasik[67]
Nasr pun
kembali akan menghidupkan pemikiran Islam klasik tentang alam yang tentu
berorientasi pada sufistik dan filsofis nutaralistik yang sebenarnya ingin
menjawab anggapan yang datang dari kalangan Barat atas matinya filsafat Islam
bersama matinya Ibnu Rush serta Nasr mencoba menghidupkan kembali lentera
ajaran Islam dalam bingkai pandangan filosofis namun juga dengan etika klasik
yang dia sebut tradisional dan membangun kembali citra percaya diri ummat Islam
ditengah-tengah pergulatan pemikiran global tentang sains dan filsafat yang
disertai dunia syber yang memberi ruang terbukanya ruang berfikir dalam konsep teknologi.[68]
Beginilah situasi pemikiran Islam dalam konsep global dan Nasr muncul dengan
ide konstruksi pemikiran filsafat Islam dalam ranah ontology religiusitas yang
dikemas dengan sains dan pemahaman teknologi. Disinilah letak karakter dasar
pemikiran filsafat Islam Nasr dikemudian hari.
B. Nasr Kembali ke Amerika: Fase Kematangan
Ilmiyah
Islam sebagai
agama memberi ruang lebar atas berkembangnya berbagai bentuk pemikiran yang
datang dari penjuru dunia, terlepas dari lingkup ruang dan waktu dimana elan
vital Islam mampu menjadi semangat dan sepirit utama untuk menata kehidupan
yang sempurna seperti impian sang Pencipta yang menciptakan manusia dengan
sebaik-baik bentuk. Nasr menyadari betul adanya potensi kemanusian yang
sempurna dan terbentang dalam setiap diri individu serta mengandaikan munculnya
mahluk adidaya dengan segenap potensi akal dan prilaku yang terpuji. Sehingga
dalam pola pembentukan krakter yang diinginkan itu manusia harus mampu
melampaui segenap ruang dan waktu dan dapat menjangkau seluruh elment elan
vital keislaman yang tercermin dari hadis maupun al-qur’a>n. Untuk itulah membutuhkan upaya-upaya operasional yang dapat
memberikan segudang pengetahuan akan hal itu.
Dan Nasr
berupaya menciptakan apa yang menjadi impiaannya dengan berbagai upaya konkrit
yang dapat menuangkan potensi kemanusiannya itu. Maka, proyek utama Nasr dalam
menciptakan impian manusia sempurna dia uraikan dari berbagai sumber yang tidak
terbatas dan melintasi ruang dan waktu kehidupan manusia, sehingga apa yang dia
lakukan tentu adalah bagaimana semua potensi-potensi kemanusian sempurna itu
digali dengan baik. Dan untuk itulah ketika Nasr berada di Iran dan kemudian di
Amerika untuk yang kedua kalinya, langkah pertama yang dilakukan Nasr adalah,
membangun dua sudut system keilmuan yang dirangkum dalam satu rangkaian yang
kemudian diknal sebagai gagasan tradisionalitas.
Tradisionalitas
adalah sebuah upaya yang dilakukan Nasr untuk membangun citra kemanuasian yang
dengan kemapanan intlektualitas terbangun dari dasar yang paling bawah dan
kokoh. Dan tradisonalitas itu, Nasr umpamakan sebuah pohon tinggi menjulang
kelangit dan akar-akarnya tertanan kedasar tanah dengan kokohnya, itulah
hakikat manusia sempurna memadukan dua sisi sekaligus. Sehingga landasan
epistimologisnya adalah dari dua sudut yang selama ini orang pertentangkan baik
di Barat maupun di timur. Yaitu bertemunya agama dan sains, sains dan teknologi
sekaligus. Sehingga Nasr berkeyakinan harus dibangun rekonsiliasi antara
teknologi, filsafat, agama dan sains. Itulah konsep tradisonalitas yang Nasr
gagas.[69]
Dalam pola
pembangunan konsep tradisionalitas, Nasr menggali dari berbagai orang yang memiliki
back-ground keilmuan yang juga datang dari lintas agama sekaligus. Di samping
itu pula Nasr juga membangun komonikasi ilmiyah yang intens dengan para pemikir
tradisionalis, semisal Tabata>bai[70],
Mashad Ali. Maka dalam konsepsi keislaman Nasr ruang tradisionalitas di tengah-tengah
modernitas menjadi sebuah konsep kematangan seorang manusia dalam menjalankan
ajaran agama. Di mana ketika manusia telah mencapai puncak keilmuan yang tinggi
dengan mengembangkan teknologi dan sains maka manusia juga hendaklah tidak lupa
untuk kembali kepada ruang spritualitas dan kembali kepada tradisi yang telah
membentuk kerakter dan akhlak mulya yang direduksi dari al-Qura<n dan hadist.[71]
Tradisionalitas
merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan besar yang menimbulkan problema yang
tidak dapat diselesaikan, yaitu humanisme. Barat dengan world-view
modernitasnya, mengangkat manusia melampaui ruang esoteric sacral yang selama
belum munculnya renaisans tidak dapat dibenarkan dengan bangunan sakralisasi
manusia. Oleh sebab itulah bagi Nasr Rene Descartes harus bertanggung jawab
atas munculnya sakralisasi manusia ini dengan bangunan konsep cogito ergosumnya.
Barat telah kehilangan ruang esoterisnya ketika menghadapi perjalanan dalam
lintasan dunia modernitas.[72]
Sekalipun Nasr menghilangkan unsure keyakinan Descartes atas ruang spritualitas
atas manusia, namun tetap saja terputusnya mata rantai tradisionalitas pada
manusia modern terjadi saat gagasan sakralitas manusia yang mula-mula muncul
saat era renaisan terjadi.
Dan bahkan
sekalipun Descartes juga berbicara tentang spritualitas dan matafisik, akan
tetapi ia bukanlah metafisik tradisional seprti yang pernah terjadi di era
pertengahan. Secara bangunan konsep yang diusung Descartes dalam ide spiritualitasnya,
merupakan bentuk pengulangan Saint Tomas Aquinas dan Gilson. Dimana gagasan
sentralnya adalah bangunan ide sakralisasi manusia dimana dictum cogito yang
memiliki konsep “I think” saya fikir dan
ergosum sehingga menjadi “I am” dengan maksud I think therefore I am
yang mengindikasikan suatu akibat penciptaan yang ultimate dalam kesakralan
manusia itu sendiri. Padahal dia itu
adalah mahluk ciptaan bukan pencipta.[73]
Nasr beranggapan terputusnya mata rantai tradisionalitas dalam gagasan cogito
ergosumnya Descartes mengandaikan hilangnya tradisional metafisik dari yang
fisisk yang menjadi dasar keyakinan setiap individu atas adanya yang wujud, dan
asal segala sesuatu yang satu, yang Nasr sebut sebagi Divine Reality atau
realitas mutlak.[74]
Descartes dalam diksi cogito ergosum nya telah menghilangkan sakralitas
metafisik yang menyertai alam fisik di mana pernyataanya itu di kemudian hari
menjadi kerakter ilmiyah dan sains para pemeluk modernitas Barat. Dan menurut
Nasr hilangnya gagasan tradisionalitas Barat karena kesalahan Descartes yang
telah membangun dasar-dasar humanism yang meninggikan konsep kemanusiaan
melebihi apapun.[75]
1.
Dimensi Esoteris dalam Ruang Partikular Kehidupan Manusia Modern
Walaupun
kedatangan Nasr untuk yang kedua kalinya bukanlah sebuah alasan aktivitas
ilmiyah,[76]
akan tetapi kedatangannya untuk yang kedua ini, mengantarkannya masuk dan
bergelut dengan persoalan ilmiyah dan akademik. Sehingga alasan utama datangnya
kesana yang lebih merupakan sebuah bentuk pelarian dari pengejaran orang-orang
yang anti pemerintahan Syah Iran dapat terhapuskan dengan intensitas focus
ilmiyah Nasr di kemudian hari dan loyalitas ilmiyahnya dapat memeberinya posisi
penting dalam struktur masyarkat ilmiyah di Amerika. Sehingga kesan utama dari
kedatangan Nasr yang kedua adalah untuk menancapkan kuku analisisnya terhadap
kejumudan berfikir ummat Islam dalam preode modern yang telah teracuni oleh
pemikiran humanisme modernitas yang materiil. Dan dalam ruang waktu tertentu
Nasr memfokuskan dirinya untuk menyelamatkan dunia sakralitas yang telah hilang
dalam diri manusia modern. Maka Nasr memulai konsentrasi analisisnya ini kedalam
dua hal utama. Yaitu esoterisme dan eksoterisme yang nantinya dijadikan
starting point untuk mengkonstruksi nalar modernitas yang humanis ini kedalam
konsep pemikiran Islam yang bersumber dari wahyu.[77]
Ketika
modernitas datang, dengan membawa konsep perubahan yang radikal atas asumsi
dasar manusia tentang dunia, dimensi penting yang telah hilang
dalam struktur berfikir manusia modern adalah memudarnya
unsur-unsur spiritualitas, dan bahkan ada kecendrungan untuk menolak yang
absolute dan realitas kebenaran yang hakiki dalam struktur ketuhanan the Divine
Order. Hal ini terjadi karena manusia menurut Nasr pada saat wacana modernitas ini
digulirkan lebih memilih untuk mengunggulkan diri kemanusiannya dan
mengiluminasi unsur-unsur transendens dalam kehidupannya itu.[78]
Realitas ini terjadi karena pengaruh ide humanism dan rasionalisme modernitas
yang dibangun atas dasar-dasar signifikansi temporal dan sementara sebagai
ganti dari yang kekal, sehingga ide modernitas di Barat yang diyakini Nasr
kemudian, berangkat dari proposisi modernitas yang secara filosofis bermuara
atas hasrat penyembahan “worship” atas waktu dan pendewaan atas bergulirnya waktu
yang membangun sejarah yang menyertai kehidupan manusia.[79]
Oleh sebab itulah, mengapa kemudian konsep historisisme dan evolusionisme
menyertai hasil konsep filsafat yang dibangun oleh Darwin, Hegel dan Marx
menjadi pradigma filosofis masyarakat Barat saat ini. Sehingga dalam segmentasi
pemikiran modern Barat kecendrungan menolak yang absolute dan yang hakikat,
seperti halnya Marx dan Hegel lebih kentara terlihat dari pada upaya
mengkonstruksi keyakinan yang transcendence sebagai nafas perjalanan hidup dan
membentuk world -view atas bagaimana dunia dibangun dan dikembangkan. Inilah
persoalan utama yang disoroti Nasr untuk mengendalikan ganasnya modernitas yang
negative.[80] Maka
menurut Nasr tidak ada jalan lain untuk menjawab persoalan modernitas ini
kecuali kembali kepada jalan keyakinan tradisional yang terstruktur dalam ruang
esoteric yang dengannya terbentuk suatu pandangan yang absolute dan kepercayaan
atas yang Abadi.
2.
Harmoni dan Dikhotomi antara Spiritualitas dan Sekularitas Barat Modern
Menemukan point
penting dalam pemikiran Nasr tentang ke satu paduan antara ruang spiritual yang
menjadi dasar penting dalam pemikiran tradisional -modern dan otoritas temporal
yang terpisah secara radikal terasa amat sulit bagi pemerhati pemikiran Nasr.
Hal ini karena bagi Nasr kemunculan system politik kenegaraan yang dibangun
oleh pemerintahan romawi abad pertengahan, mencerminkan kekokohan sekularisme
yang bibit unggulnya sudah ditabur oleh Necolo Machiavelli (148-1532) yang
dikenal sebagai bapak Negara totaliter. Dalam diksi sekularismenya Machiavelli,
kecendrungan manusia modern seharusnya pada bagaimana mengokohkan kekuasaan
yang murni pure power yang bertujuan untuk membangun kekuatan sebagai
puncak kekuasaan.[81]
Sehingga reformasi protestan ditujukan kepada gereja yang sedang timpang,
tetapi upaya reformasi ini gagal dan penyalahguaan kekuasaan serta kebejatan
system pemerintahan yang mengatas namakan gereja terus terjadi. Dan sebagai
dampak dari aksi ini, keinginan untuk memisahkan secara radikal antara gereja
dan Negara sangat kentara disuarakan oleh masing-masing pihak yang menghendaki
perubahan. Sehingga isu sekularisme ini semakin terdengar dan lantang
disuarakan oleh para pemerhati kebejatan gereja atas ummat kristiani.
Situasi ini,
mengantarkan masyarakat kristiani memasuki dunia baru yang mengandaikan
perubahan dari kenyataan dunia sebelumnya, yaitu kemungkinan diciptakannya
landasan hidup yang ilmiyah dan sikap untuk menaklukan apasaja yang dapat
ditaklukan sebagai akhir dari proses kegelisahan manusia yang baru memasuki
preode modern ini.[82]
Dilanjutkan dengan proyek materialisme humanismenya Descartes yang melanjutkan
rintisan ilmiyah Bacon yang menyimpulkan bahwa alam ini tidak ubahnya
konstruksi material jam yang tidak memiliki unsur-unsur spiritualitas. Sehingga
dengan yakin Descartes mengatakn bahwa dia dapat membuat alam ini jika memiliki
elementnya.[83]
Begitupun para filsuf yang datang setelahnya sama-sama mengikuti jejak Bacon
dan Descartes ini dalam membuat asumsi kehidupan dan ruang material yang hampa
dari spiritual.
Sehingga asumsi
materialisme dan sekularisme telah mengantarkan kepada ruang terpisahnya antara
yang material dan spiritual, yang oleh Nasr disebut sebagai nafas perjalanan
kehidupan manusia modern dan sebagian besar justru terjadi di dunia Barat saat
ini. Descartes barangkali juga Bacon, harus bertanggung jawab atas hilangnya
dimensi taradisionalitas masyarakat Barat karena mereka telah memutus mata
rantang fisik dan alam metafisik ketika Descartes membangun konsep keberadaan
manusia karena manusia itu berfikir . cogito ergosum. Maka Nasr yakin kembali
kepada tradisionalitas adalah jalan yang dapat menemukan kembali makna
seprituil yang dengannya seluruh element kehidupan dapat terangkul dengan utuh.
Karena pada hakikatnya tradisionalitas adalah keseluruhan kehidupan manusia
untuk berbuat dan bertindak dalam koridur norma agama dan mengungkap rahasia
sebuah tradisi yang dilestarikan dari setiap generasi ke generasi dalam kurun
waktu tertentu.[84]
Selain itu tradisionalitas adalah kebijaksanaan prennis yang merangkum seluruh
kebijakan cultural yang bersumber dari kitab-kitab suci agama dan membentuk
cara pandang world view sekelompok orang untuk membangun sebuah tindakan yang
kongkrit.[85]
Dari sinilah
Nasr melihat percaturan dunia modern dengan gagasan tradisionalitasnya di tengah-tengah
gemerlapnya materialisme modern yang sekularistik. Sehingga dalam kurun waktu
yang begitu lama Nasr tidak pernah lelah untuk bersuara lantang melawan gagasan
modernitas yang sudah kehilangan orientasi kemanusiannya dan telah menjadi
virus peradaban dengan bangunan ide materialisme, hedonisme, dan sekularisme.
Dan dalam kurun waktu yang cukup lama paling tidak sudah ada 150 buku yang
berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia modern hidup dalam gemerlapnya
materialisme ini, tidak kurang dari ribuan artikel yang seringkali dia buat
baik dalam penyampaian Gifford lecturnya maupun untuk media masa yang
membutuhkan tuangan ide tradisionalitasnya.[86]
Ini dia lakukan justru ketika berada di Amerika untuk yang kedua kalinya.
BAB III
ISLAM DAN MODERNITAS
A. Modernitas dan Asumsi Dasar Rasionalitas:
Sebuah Analisis Historis Munculnya Konsep Modernitas di Barat
1.
Nalar Modernitas Barat
Modernitas
sebagai sebuah fakta historis menghampar dalam segmentasi kehidupan manusia
dalam kurun waktu tertentu, yang pertama kali, ditandai dengan munculnya klasifikasi
kehidupan kelas sosial yang masuk kedalam unit-unit yang terspesialisasikan,
dan disertai dengan pembagiannya kedalam ruang lingkup yang lebih kecil dari
pada pembagian kelompok kelas sebelumnya.[87]
Hal ini terjadi karena keinginan manusia untuk memanjat secara hirarkis dan
liniar kehidupan kelas sosialnya keatas tangga eskalasi yang lebih tinggi. Sehingga,
adanya klasifikasi kehidupan kelas, menyebabkan terjadinya difrensiasi dan pragmentasi
kelas-kelas sosial ini yang dipandang oleh Clive Holes dalam bukunya Dialect
Culture and Society in eastern Arabia, [88]sebagai
suatu proses transformasi sosial untuk membangun sebuah prosedur dan perubahan nilai
yang berbeda dari struktur masyarakat yang sebelumnya diyakini sudah benar. Perubahan
masyarakat seperti ini dan dalam segala aspeknya, menjangkau secara otomatis tatanan
kehidupan ekonomi, politik, bahkan juga agama, dengan cara memasuki adat dan kebudayaan
manusia sehingga memutar eskalasi kehidupan yang dapat menimbulkan tumbuh dan berkembangnya
kompleksitas persoalan masyarakat dengan icon pertumbuhan ekonomi sebagai akses
utamanya.
Kompleksitas
ini disenyalir oleh Stave Bruce sebagai pemicu utama berjauhannya seseorang
dengan tempat kerjanya dan membutuhkan energy yang lebih banyak ketika hendak melakukan
akses dengan pekerjaanya itu. Sehingga tingkat kesibukan bertambah dari pada
sekedar mengatur waktu kesehariannya, yang pada akhirnya berdampak atas
meningkatnya kebutuhan hidup dan tuntutan untuk membangun gaya kehidupan yang ekslaratif-konsumtif
untuk membangun tatanilai yang lebih progresif dari sebelumnya. Ini semua juga sangat terkait erat dengan
pertumbuhan ekonomi masyrakat Barat.[89]
Problematika
modernitas yang lain adalah selain
terciptanya spesialisasi dan klasifikasi kelas masyarakat, yaitu
kecendrungan yang kuat dari manusia modern untuk menciptakan kehidupan urban
yang mengasumsikan terciptanya kemapanan hidup dengan mengeksplorasi alam
dengan proses penciptaan dan pencitraan alam sedemikian indah dan gelamor,
dimana dampaknya manusia modern berkecendrungan untuk menciptakan dan membuat
alam serba imitatif dengan gagasan keindahan. Sehingga kesan utama yang muncul
dari gagasan ini adalah alam kehilangan makna terdalamnya dan menjelma menjadi
keindahan artificial yang tidak natural, maka ruang kosong bangunan alam adalah
hilangnya orisinalitas alam, yang akhirnya berdampak atas kesesakan hidup
manusia modern lantaran alam tidak lagi menyediakn kenyamanan.[90]
Sebagai hasil dari proses urbanisasi ini perlakuan yang sembarangan manusia
atas bagaimana menangani dan memperlakukan alam ini.
Berhubung
dengan pertumbuhan konsep urban ini, sebagian penduduk, tempat tinggalnya
tergeser ke lingkungan kota-kota yang diciptakan dengan sengaja menggantikan
kehidupan desa-desa yang agraris. Maka masyarakat modern telah tumbuh dengan
tipe kepribadian yang progresif, dimana dominasi pola kehidupan urbannya dengan
tegas mengusung ide-ide progresifitas dan konsumtif dengan ciri penting dari terciptanya modernitas di Barat.
Selain itu ide humanisme yang berujung atas penolakan terhadap sesuatu yang
sacral dan transcendence, juga menjadi cacatan penting sejarah proses munculnya
modernitas Barat saat ini. Sehingga tipe
kepribadian yang mendominasi alam fikir modernitas yang humanis, menyebabkan seseorang
dapat hidup di dalam lingkungan yang tertata dengan sistem yang baku dan
universal, dan yang terpenting dalam kelompok masyrakat modern seperti ini,
memelihara dengan baik kecendrungan hidup konsumtif yang tidak lain tujuannya
adalah untuk meninggikan konsep humanisme dengan mengabaikan alam transenden
dalam struktur masyarakat modern ini.[91]
Dube
berpendapat bahwa terdapat tiga asumsi dasar konsep modernitas yang dibangun
manusia Barat yang mengklaim telah modern, pertama dengan ketiadaan semangat
pembangunan yang harus dilakukan melalui pemecahan kompleksitas masalah
kemanusiaan dalam pemenuhan standart kehidupan yang layak, sehingga keinginan
hidup serba mempermudah lebih digandrungi dari pada hidup dengan sebuah proses.
Kedua mengandaikan terciptanya ide progresifitas yang dilahirkan dari situasi
kevakuman dan stagnasi pemikran manusia dengan asumsi bahwa kehidupan harus
terbangun dengan struktur fikir yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Dan
yang terakhir mengimpikan terciptanya suatu ke seragaman hidup secara universal
dengan ide globalitas untuk membangun dunia. Sehingga modernitas dengan cirri
diatas menuntut usaha keras individu dan kelompok untuk membangun kualifikasi
individualitas progresif disisi yang lainnya. Maka kemampuan kerjasama antar
individu dalam tataruang kehidupan yang tercipta dalam satu keseragaman dan
pluralitas dibutuhkan untuk menjalankan struktur alam fikir modern yang sangat
kompleks ini, dimana kepribadian dan sikap mental serta perubahan pada struktur
sosial social hirarchy dan tata nilai dalam membangun dunia yang baru
ini.[92]
Hasilnya manusia modern sangat erat dengan pertalian struktur urban yang
diciptakan. Dan bangunan konsep modernitas akhirnya dapat membangkitkan kembali
gairah kehidupan yang stagnan dan fakum akibat lesunya keinginan manusia untuk
maju. Sehingga bangunan ide urbanisasi dianggap menjadi suatu keharusan yang
nantinya akan berakhir dengan bagaimana manusia modern ini mampu menjangkau
pola kehidupan dinamis dengan berflatform yang materialistis, untuk mengatasi
berbagi persoalan sosialnya itu.
Akhirnya ciri manusia modern menurut Butler kemudian, sangat ditentukan
oleh struktur, institusi, sikap dan perubahan nilai pada pribadi, sosial dan
budaya. Dimana masyarakat modern mampu menerima dan menghasilkan inovasi baru dengan
datangnya keyakinan baru dalam tata ruang kehidupan, membangun kekuatan bersama
serta meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah.[93]
Oleh karenanya modernisasi sangat memerlukan hubungan yang selaras dan sepadan
antara kepribadian dan sistem sosial budaya yang terbentuk dan terjadi dalam dialektika
sosial yang searah dan sejalan dengan system yang telah terbentuk, dan ini
tidak mungkin tercipta kecuali dalam konsep urban.
Sifat terpenting dari proses modernisasi adalah rasionalitas,
dimana kemampuan berpikir secara rasional sangat dituntut dalam proses
pembangunan modernitas. Dan kemampuan berpikir secara rasional itu kemudian
menjadi sangat penting dalam menjelaskan berbagai gejala sosial yang ada dalam
ruang modernitas. Sehingga masyarakat modern tidak mengenal lagi penjelasan yang irasional
seperti yang dikenal oleh masyarakat tradisional, disinilah isyarat hilangnya
narasi keagamaan yang disebabkan manusia modern terlalu mengungulkan rasio. Sementara
itu rasionalitas menjadi dasar dan karakter pada hubungan antar individu dan
pandangan masyarakat terhadap masa depan yang mereka idam-idamkan.[94]
Namun demikian terdapat ciri penting yang diungkapkan Butler dengan
mengutip pendapatnya Scrool, yaitu konsep pluralitas masyarakat yang
diidentikkan dengan masyarakat modern. Yaitu terciptanya masyarakat plural yang
telah mengalami perubahan dan struktur stratifikasi sosial dan beranjak dari
kesatu paduan opini dalam membangun kehidupan yang maju.[95]
Masyarakat
modern dengan ciri seperti ini, sangat berbeda dengan masyarakat tradisional
yang kurang memperhatikan partisipasi individunya. Pada masyarakat tradisional,
individu cenderung pasif pada keseluruhan proses sosial, sebaliknya pada
masyarakat modern keaktifan individu sangat diperlukan sehingga dapat
memunculkan gagasan baru dalam pengambilan keputusan dan konsensus bersama.
Sehingga kran perbedaan yang ditandai dengan pola keanekaragaman yang muncul
akibat pengakuan hak individu dan konsep kebersamaan untuk membangun. Konsep
tersebut semakin memperkokoh ciri masyarakat modern yang multi konseptual dan
demensional, yaitu pluralitas dan demokratis yang ditandai dengan pengakuan
atas keberagaman dan diversitas konseptual untuk membuat dan membangun bersama
tata system kehidupan.
Modern berarti baru, saat ini, atau up to
date. Ini adalah makna obyektif modern. Secara subyektif makna modern terkait
erat dengan konteks ruang waktu terjadinya proses perubahan radikal atas segala
sesuatu yang menjadi gerak laju perjalanan suatu masyrakat. Kuntowijoyo melihat
zaman modern merupakan kelanjutan yang wajar pada sejarah manusia, setelah
melalui zaman pra-sejarah dan zaman agraria yang pertama kali muncul di Lembah
Mesopotamia (bangsa Sumeria) sekitar
5000 tahun yang lalu, dimana umat manusia memasuki tahapan zaman baru,
zaman yang kemudian dimulai secara radikal oleh bangsa Eropa Barat laut sekitar
dua abad yang lalu.[96]
Zaman baru ini, dimulai sejak akhir abad ke 15
M. Ketika orang Barat berterima kasih tidak kepada Tuhan tetapi kepada dirinya
sendiri karena telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan.
Disamping itu zaman modern merupakan hasil dari kemajuan yang dicapai
masyarakat Eropa dalam sains dan teknologi. Pencapaian tersebut berimbas pada
terbukanya selubung kesalahan dogma gereja setelah manusia berhasil mengenal
hukum- hukum alam dan menguasainya. [97]
Pengetahuan tersebut menjadi kritik terhadap gereja dan berujung pada sikap
anti gereja.
Maka, di era
ini, manusia menjadi penguasa atas diri dan hidupnya sendiri dengan memalingkan
pola pandang baru kearah humanisme. Sehingga, doktrin teosentris yang
mengagungkan kekuasaan Tuhan yang dihegemonikan gereja selama abad pertengahan
diganti dengan doktrin manusia sebagai pusat kehidupan dengan doktrin
antroposentrisme.[98]
Sebagai kritik atas masa lalu, zaman modern seringkali bertentangan dengan nilai-nilai
tradisional yang dianggap oleh manusia telah mengkooptasi kreatifitas manusiawi
yang sebagian besar diperuntukkan untuk korban dan tumbal agama, sehingga dapat
digantikan dengan nilai-nilai baru yang berasaskan atas dasar-dasar sains yang
dicapai manusia. Di era ini kecendrungan manusia untuk menciptakan pola hidup
baru dan konsep yang dianggap sangat baru tidak dapat dihindarkan dengan
mengusung corak warna-warni kratifitas yang dibungkus tidak dengan agama tapi
oleh keyakinan hukum-hukum kausalitas dimana manusia menentukan sendiri langkah
dan hidupnya. Oleh sebab itulah trend selalu baru merupakan ciri utama
modernitas dengan keinginan yang berbeda dengan era sebelumnya. Kepercayaan diri manusia modern membuat
banyak dari mereka yang mengasumsikan zaman modern sebagai puncak perkembangan
sejarah kemanusiaan.
August Comte, salah seorang ilmuan
positivistik, mengakui bahwa sejarah peradaban manusia mengalami tiga tahap
perkembangan. Pertama teologis, yang ditandai atas pemahaman manusia
terhadap alam yang dianggap sebagai hasil campur tangan Tuhan. Tahap ini
terbagi dalam tiga sub-sistem utama: animisme, politeisme, dan monoteisme. Kedua
metafisika. Pada tahap ini peran Tuhan di alam digantikan oleh prinsip- prinsip
metafisika, seperti kodrat dan hukum kekelan dan yang paling popular adalah
teori relativitas. Dan yang tahap terakhir adalah tahapan positivistik. Dimana
Tahap ini sangat diwarnai oleh adanya keyakinan yang cukup besar atas kemampuan
sains dan teknologi. Manusia tidak lagi mencari sebab absolut ilahiah dan
memilih berpaling pada pemahaman atas hukum-hukum yang menguasai alam.[99]
2.
Rasionalisasi Agama: Sebuah Landasan Normatif Ide Modernitas
Modernisasi dalam bangunan modernitas menunjukkan suatu proses dari
serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material,
dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional.
Lazimnya sebuah proses modernisasi dalam sebuah upaya pembentukan sebuah wujud
rasionalitas, maka selalu dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi sebagai
lawan dari pola pembangunan modernitas itu. Modernisasi berasal dari kata
modern yang berarti maju, yang berarti pula sebagai terciptanya nilai-nilai
yang keberlakuannya dalam aspek ruang, waktu, dan kelompok sosial lebih luas dan
universal, dimana ia menghendaki adanya
keragaman ide dan konsep pembangunan struktur kehidupan.[100]
Untuk itulah konsep modernitas digagas dan dijargonkan dalam sebuah incubator
peradaban yang semula kaku dalam system yang mengikat dan mengkooptasi
kehidupan bermasyrakat di Barat pada awal abad ke 15 Masehi.[101]
Sehingga menjadi propaganda sekelompok orang yang menghendaki ide dan isu itu
bergulir kebelahan dunia lain dari tempat lahirnya gagasan modernitas itu
sendiri untuk sama-sama mempertentangkan hegemoni agama dalam kehidupan manusia.
Proyek inilah yang menklasifikasi terciptanya dunia kelas dalam perjalanan
modernitas dalam melintasi berbagai tempat.[102]
Konsep yang lazim
dipertentangkan dengan modern adalah tradisi, yang berarti sesuatu yang
diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun-temurun
dari generasi ke generasi. Umumnya tradisi meliputi sejumlah norma yang
keberlakuannya tergantung kepada ruang atau tempat, waktu, dan kelompok atau
masyarakat tertentu. Artinya keberlakuannya terbatas, tidak bersifat universal
seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau values.
Disinilah terletak kepincangan gagasan modernitas dan konsep aflikatif dalam
sebuah system pembangunan spatial kehidupan perkotaan dengan system urban.
Modernitas sebagai salah satu induk perubahan radikal dari pola
stagnasi berfikir dan bertindak dalam konsep keutuhan parsial, menandai
lahirnya ekslarasi secara cepat yang mampu menjangkau lini kehidupan totalitas
keyakinan setiap individu, sosial, material dengan struktur nalar berfikir
manusia memasuki gerbang rasionalitas yang menandai dirinya kedalam spektrum
agamis, budaya dan supranatural sekaligus. Sehingga ibarat sebuah gerbong
perubahan yang melaju dengan kecepatan super akan melindas setiap
ketertinggalan dan kebekuan berfikir manusia baik dengan pola agama dan budaya.
Dan dampaknya pula, tercipta
progresifitas yang mengandaikan ide-ide tunggal dihindarkan dan dijauhkan
dengan banguanan keyakinan yang stabil dan staganan. [103]
Disinilah terletak kerancuan berfikir kaum modernis yang dalam satu sisi
merombak sakralitas keutuhan dengan pola satu kesatuan ide dengan bangunan
keanekaragaman yang diinginkan mampu memberi ruang yang cukup lebar atas
diversitas dan ketidak seragaman. Sehingga ancaman besar justru datangnya
ketidak stabilan dalam moment kehidupan manusia modern itu sendiri.
Keinginan masyarakat Barat modern untuk mengelola alam dengan
mesin-mesin canggih, dan tidak mengindahkan lingkungan dan sakralitas alam itu,
akhirnyaka mermenodai kesakralan alam
itu sendiri. Dampaknya adalah alam yang semula berpihak atas manusia kini
berubah memusuhinya. Dan masyarakat Baratpun seperti pemetaan Nasr logical
irrational sebuah situasi dimana masyarakat ini di satu sisi menjunjung
tinggi logika dalam berfikir namun dalam sisi yang lain justru tidak rasional
dalam memperlakukan alam.[104]
Selain itu pula munculnya diferensiasi dan proses prubahan kelas
sosial dan munculnya ekselarasi berfikir yang progresiv, perubahan esensial
juga muncul sebagi konsekwensi logis, yaitu munculnya rasionalisai dalam pola
fikir manusia yang dalam hal ini, kekuatan sosial dan budaya saling berkelindan
berinteraksi dan berdialektika, sehingga perubahan sosial merasionalkan budaya.[105]
Akan tetapi perubahan tersebut mengindikasikan kecendrungan rasionalitas yang
berakar pada budaya agama. Seperti perubahan yang di analisis oleh Peter Berger
yang merujuk atas rasionalisasi agama pada agama-agama Kristen dan Yahudi
dimasyarakat Barat. Akar perubahan yang terjadi bersamaan dengannya pula
pergeseran nilai-nilai agama yang berinteraksi danagan akslarasi berfikir
manusia Kristen dan Yahudi dimana seperti agama-agama orang-orang Mesopotamia
yang merujuk mutlak perubahan budaya pada akar tatanan alkitab dan dengan
tuntunan Yahweh.
Dan yang terpenting pula adalah terciptanya perbedaan kelas-kelas
sosial yang berangkat dari doktrin terciptanya keberagaman kelas dalam kelompok
sosial telah berkelindan dalam pola pembentukan alam modernitas, sehingga
ketidak terbendungnya spatial dan deversitas sosial yang plural menjadi ciri
utama dari munculnya alam modernitas. Kejenuhan yang muncul juga adalah dengan
berkelindanya kehidupan dangan tampa memiliki kesamaan dan keteraturan yang
dapat terukur sebagai pola kebersamaan dalam kelompok kelas tidak dapat diatur
dan ditandai dengan pertentangan dan pertikaina antar kelompok individu.
3.
Islam dan Modernitas dalam sebuah Tradisi dan Westernisasi
Modernisasi yang lahir di Barat akan
cenderung ke arah Westernisasi, karena memiliki tekanan konteks yang kuat, meskipun
unsur-unsur tertentu dalam kebudayaan asli negara ketiga (umumnya Negara-negara
di dunia timur) dapat eksis dalam situasi gempuran modernisasi ini, namun
setidaknya akan muncul ciri kebudayaan Barat dalam kebudayaan dunia ketiga ini.
Seperti halnya Schoorl, Clive, yang membela modernisasi, karena modernisasi
lebih baik dari sekedar westernisasi. Akan tetapi Dube memberikan pernyataan
yang cenderung memojokkan proses modernisasi dengan mengungkapkan berbagai
kelemahanya, antara lain keterlibatan negara berkembang diabaikan, konsep
persamaan hak dan keadilan sosial tidak menjadi sesuatu yang penting untuk
dibicarakan. Lebih lanjut Dube menjelaskan kelemahan modernisasi yang lain
adalah, proses modernisasi yang mendasarkan pada penggunaan ilmu pengetahuan
dan teknologi dalam organisasi modern tidak dapat diikuti oleh semua negara. Sehingga
tidak adanya indikator sosial yang digunakan untuk melahirkan konsep persamaan
hak pada proses modernisasi semacam ini.[106]
Modernisasi yang mendasarkan pada penggunaan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern pada dasarnya tidak dapat diikuti oleh semua Negara. Karena
pada hakikatnya modernisasi memiliki konteksnya sendiri dimana ia meretas dalam
inkubasi sejarah yang panjang dengan cirri khas lokalitasnya. Yaitu di Barat. Sehingga
untuk melahirkan titik tekan dalam proses ini harus melihat adanya indicator proses
modernisasi itu sendiri, yaitu keterlibatan setiap individu dalam proses
pembangunan isu modernitas. Keberhasilan negara Barat dalam melakukan
modernisasi disebabkan oleh system kekuasaan kolonial yang mereka miliki
sehingga mampu mengeruk SDA dengan mudah dari Negara-negara berkembang dengan
murah dan mudah. Sehingga, modernisasi tidak ubahnya seperti kolonialisme gaya
baru dan Islam dalam hal ini, tidak saja memberikan sebuah legitimasi
keagamaan, akan tetapi juga dituntut untuk melahirkan sebuah gagasan konseptual
dimana pemeluknya mampu mengartikulasikan dirinya ditengah peradaban yang sudah
modern ini.
Memang harus
diakui, ekspansi gagasan modernitas oleh orang-orang Barat, tidak hanya membawa
pola pandang progresifitas, sains dan teknologi. Akan tetapi juga tata nilai
dan pola hidup mereka yang sering kali tidak relevan dan sejalan dengan konteks
lokalitas negara Muslim itu sendiri.
Pada titik ini, ummat Islam dituntut untuk memikirkan relevansi tradisionalitas
Islaminya yang sering kali dianggap menjadi penghambat laju proyek pembangunan
modernitas itu. Dan ironisnya ummat Islam dipaksa untuk memikirkan dan
menyesuaikan tradisi lokalitas keislaman yang telah lama terbangun menjadi
kemapanan budaya dan telah membentuk tradisi masyarakat Muslim dengan bangunan
tradisi modernitas yang seringkali banyak menemukan kebuntuan dalam menyelesaikan
persoalan kemanusian. Dan yang terpenting gagasan utama dari modernitas seperti
materialisme dan hedonisme menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan
sebuah tradisi dalam kemapanan budaya islami yang dimiliki ummat Islam modern.
Dalam konteks
tradisi, modernitas dibenturkan dengan sebuah singularitas cultural, dimana
Islam dituntut untuk memiliki sebuah
kemampuan dalam mengartikulasikan diri sebagai gerakan dengan kepentingan
objektif empiris. Islam adalah agama yang terus menerus bergulat degan
kenyataan, Islam lahir dengan mengusung perubahan-perubahan sosial dan tentu
saja Islam tidak hanya memberi legitimasi atas kemapanan konseptual budaya
sebelum dan sesudah terjamahnya suatu sistem yang dirubah oleh Islam pasca
penyebaran ajaran-ajaran Islam itu. Dan ia bukanlah sekedar pemberi stempel
perubahan, namun juga mampu melahirkan insprasi besar dari setiap perubahan
yang datang baik dari dalam maupun dari luar Islam itu sendiri.[107]
Untuk itulah yang terpenting dalam pola perubahan sikap dalam diri
ummat Islam, ajaran Islam harus menjadi pengendali mutu kelas sosial dan ia harus
memiliki kemampuan dalam menghadirkan system yang edial-prospektif dalam rangka memberi ruang konseptual atas
kemapanan tradisi yang telah lama terbangun di dalam situasi gempuran
modernitas ini, sehingga dapat menghadirkan aksi dan tindakan kritis ummat
Islam atas munculnya budaya baru yang diusung tidak atas nama dirinya. Sehingga
dengan kekuatan konsep rasional dan
logis yang disertai pula etika dan tata nilai budaya yang sesuai dengan konteks
lokalitas dunia Islam ia hadir seimbang dengan bangunan progresifitas yang
disusung oleh modernitas itu sendiri.[108]
B. Modernitas dan Tradisi dalam Islam
1.
Tradisionalitas Islam dan Modernitas Barat
Arus gelombang modernitas Barat yang menerpa dunia Islam,
melahirkan ide kolonialisme dan
imperialisme. Yang ditandai dengan mundurnya politik Islam dengan
runtuhnya kekhalifahan Turki Usmani, yang sesungguhnya tidak selamanya membawa
dampak negative bagi ummat Islam, akan
tetapi justru modernitas mampu membawa kaum Muslimin untuk merumuskan dirinya
kembali kedalam eksistensi yang di Barat diperhitungkan sebagai wujud konsep
dunia yang lain the other. Yaitu ketika dunia Islam kembali atas ajaran
normatif tradisionalitas yang sebagian besar menggagas adanya ide-ide pentingnya
menghidupkan kembali tradisi dan mengandaikan dunia edial dengan kembali kedalam
sejarah keemasan Islam di era imperium yang dimulai sejak zaman nabi (610-673)
dan sahabat-sahabat setelahnya.[109]
Tradisi, dalam tataran konsep persaingan dengan rasionalitas
modernitas adalah sebuah upaya untuk menghidupkan kembali jalan-jalan yang
telah dirintis oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, yang dalam segmentasi
pemikiran tertentu menempatkan kembali otoritas sunnah dan mencoba mencari
garis penghubung logis antara tindakan ummat Islam kini dengan tindakan ummat
Islam masa lampau, dengan melihat tindakan dan ajaran normatif Islam kedalam
sebuah hadis.[110]
Itulah sebuah Sunnah yang dalam hal tertentu disebut sebagai living tradition
ummat Islam.
Alam fikir Sunnah dan al-Qur’a>n dimaknai sebagai otoritas mutlak yang telah memberi ruang publik
keagamaan yang menyentuh tataran praksis ummat Islam untuk berkembang.[111]
Dalam dekade dua abad terakhir, energy ummat Islam dikuras untuk menghadirkan
kembali kemurnian ajaran Islam dan mencoba mengakomodasi Sunnah dan tradisi
dalam Islam kedalam konsep pemikiran modern. Sehingga dalam pola pembentukan
krakter Islami di tengah-tengah dunia modern mengandaikan pencarian atas
idealitas tindakan dan prilaku Islami yang relevan dengan modernitas yang
diusung Barat namun tetap gigih mempertahankan ide-ide tradisionalitas yang
bersumber dari Sunnah itu sendiri.
Akhirnya perdebatan modern dalam segmentasi pemikiran tradisional
Islam adalah tentang urgensi otoritas keagamaan dimana ummat Islam melihat
kembali sejarah Islam awal. Akibatnya, perdebatan ini menandai adanya kevakuman
sejarah dimana kondisi ummat Islam ketika mencoba kembali melihat masa lalu
keemasannya dipandangan oleh sementara masyarakat Barat sebagi sesuatu yang
usang dan mengingkari pearjalanan waktu.[112]
Padahal dalam pandangan ummat Islam, Sunnah adalah sebuah symbol penghubung ke
era kenabian nabi Muhammad yang merepresantasikan segala bentuk kebutuhan ummat
Islam dalam tata ruang pergaulan di setiap zaman yang melingkupi ummat Islam
itu hidup.[113]
Semenatara itu sejak pertengahan abad ke sembilan belas, otoritas
kenabian dengan konsep Sunnahnya, memunculkan isu dan sorotan kritis dari
kalangan modernis, dimana tekanan-tekanan arus modernitas menerjang seluruh
lapisan keyakinan kultural sosial ummat Islam, dan hegemoni Barat melahirkan
kelemahan ekonomi pada dunia Islam. Yang tentu akhir dari fenomina ini
memunculkan juga ide adanya pembaharuan reform dan tajdi<<>d
untuk membangun legalitas keagamaan kedalam sendi-sendi
pemerintahan dimana ummat Islam berafiliasi dalam suatu Negara.[114]
Otoritas Sunnah dalam kehidupan modern ummat Islam menandakan suatu kevakuman
ketika ia diterapkan kedalam pola-pola hidup progresif, dimana, kenyataan
historis modernitas berupaya melihat jauh kemasa depan dengan menbuang konsep
kalasik kehidupan dan menghindarkan adanya legalitas tradisi klasik kedalam
praktek-praktek kekinian, yang hal ini dimaksudkan untuk kepentingan sebuah
kemajuan dan membongkar stagnasi pemikiran dalam membangun sesuatu yang dianggap
berperadaban.
Benturan tradisi dan modernitas, dalam pandangan Barat, dianggap
sebagai sebuah fenomena ketimpangan struktural pemahaman masyarakat Muslim
modern dalam membangun ide-ide rasionalitas. Dimana, ide modernitas sebagai
sesuatu yang dapat merubah posisi akal irasionalitas sejarah kedalam pemikiran
agama yang memberi landasan normative dalam proses pembentukan konsep kekinian
yang relevan. Sehingga tradisi dalam segment pemikiran modern haruslah
mengalami pencerahan untuk kembali memeroleh legitimasinya sebagai pembentuk
modernitas yang nantinya, dapat menghadirkan konsep baru dalam memandang
singularitas dan pluralitas dalam kehidupan modern.
Islam sebagai sebuah agama yang maju dengan kematangan konseptual
untuk melihat pola perubahan pandangan ketika pemikirannya bergualat dengan
realitas bangunan ide-ide baru yang datang dari luar dirinya.[115]
Disinilah pemikrian tradisionalitas Islam dipertaruhkan kembali dalam pandangan
ummat Islam modern.
2.
Bangunan Tradisionalitas Islam dalam Konsep Modernitas
Tinjauan filosifis agama dalam posisi tradisionalitas dan
modernitas menimbulkan sebuah dilematika konseptual, yang oleh Durkheim disebut
sebagai ketimpangan struktural kajian agama dan filsafat dalam sebuah ajaran
etika moral dan tindakan manusia. Akan tetapi agama melahirkan sebuah dogma
yang mengklaim semua etika hidup dengan mengumpamakan sebuah tatanan yang
harmonis untuk manusia seluruhnya. Akan tetapi filsafat moral Islam, meniscayakan
lahirnya pola pandang manusia dimana dia dituntut untuk mencari sebuah
kebenaran mutlak dan absolute, dengan tidak mengabaikan realitas factual yang
realistis dalam singularitas kemanusian yang bahkan tidak jarang adanya klaim
kebenaran yang tidak pernah didapatkan.[116]
Etika dan moral dalam konsepsi adaftatif budaya dari dalam dirinya untuk menuju
kesempurnaan merupakan sebuah keniscayaan, sehingga eksklusifitas ajaran dalam
Islam dapat terhindarkan dan konsep ajaran Islam yang sha>hehon
fi kulli zama>n wa al –makan
terwujud dalam rentang waktu yang bervariasi dan bahkan yang mengancam
sekalipun.
Awal abad delapan belas, Islam
sebagai agama dibenturkan dengan satu model keyakinan baru dalam seting pola
hidup ummatnya. Ia sebagai agama yang diyakini agama paling benar dalam
perspektif ilmu pengetahuan yang datang dari dalam diri ajarannya, tatanilai
kemasyrakatan, budaya dan bahkan tradisi, telah mengklaim dirinya sebagi sumber
inspirasi segala sesuatu yang dapat melahirkan tata nilai dan norma etika
kehidupan yang tercipta pada setiap dekade kehidupan generasi kegenerasi.[117]
Akan tetapi, kebenaran-kebenaran klaim itu mulai dipersoalkan dengan lahirnya
teori-teori baru yang ditemukan dalam wilayah kajian keilmuan yang berimplikasi
atas dipertaruhkannya kembali konsepsi Islam atas ayat-ayat al-qur’anya yang
menyatakan semua prilaku dan nilai-nilai tindakan manusia Muslim bersumber dari agama ini.
Tradisionalitas, yang menjadi salah satu wilayah kajian dalam isu
modernitas melahirkan sebuah keniscayan bagi ummat Islam untuk mengklaim
kebenaran tindakannya. Dimana agama haruslah dipandang sebagai sesuatu yang
dapat mengartikulasikan sebuah fenomena modrnitas yang datang dari Barat.
Disinilah tradisionalitas Islam dipertaruhkan. Kajian taradisonalitas ini juga
disenyalir kemudian, sebagai satu bentuk pemutakhiran data-data empiris Islam
yang tertuang dalam kitab suci al-qur’an bahkan lebih jauh merekonstruksi
ajaran-ajaran normatif dalam Islam.[118]
Akan tetapi Tradisi dan modernitas merupakan sebuah paradoksal yang kerangka
ontologisnya merasionalisasi sendiri-diri, baik
dalam tataran epistimologis maupun aksiologis.
Agama dalam memberikan sebuah tuntunan moral dalam kerangka fikir
modernitas, haruslah melihat kembali atas dasar-dasar yang diyakini dapat
relevan dengan pola tata nilai dengan bangunan konsep modernitas itu. Ia harus
juga mampu memamaparkan kebenarannya yang wilayah pembuktiannya adalah
keyakinan, sementara konsep modernitas memamaparkannya dalam kerangka silogisme
ilmiyah logis yang wilayah kebenarannya logika.[119]
Silogisme modernitas dan tradisi dalam perspektif logika modern,
puncaknya merupakan sebuah sinergitas pembenaran yang berjalan sendiri-diri
sekalipun banyak kalangan memandang telah terjadi kohesi pradoksis antara klaim
kebenaran agama dan bangunan etika tindakan modernitas itu sendiri. Alhasil,
pandangan dunia modern atas agama dan tradisi paling tidak dikompromikan agar
tercipta satu situasi dialektis. Sehingga tradisi dalam Islam tidak kehilangan
corak dan modernitas mendapatkan legitimasinya dan tidak kehilangan
orientasinya. Akan tetapi persolannya adalah mungkinkah hal ini dilakukan,
dengan pola pandang dan barometer yang berbeda antara keduanya.
Modernitas dengan segenap pembahasanya, menjadi isu krusial dalam
persoalan tradisi, dimana ia meletakan konsepsi tindakan yang mengakar dari
budaya agama yang telah diwariskan. Sementara modernitas yang memungkinkan
sebuah agama mampu menempatkan diri dalam suatu wilayah tradisionalitas yang
dapat dipertaruhkan untuk membangun isu-isu modernitas kedalam ruang
rasionalitas tindakan manusia modern. Sehingga adagium agama sebagai sebuah
doktrin yang telah memberikan inspirasi besar atas pengembangan-pengembangan
ide-ide baru dalam berfikir mampu mendorong lahirnya modernitas.
Islam sebagai agama yang secara
historis telah mampu membangun peradaban, saat ini harus juga hadir sebagai
jawaban atas stigma Barat dengan bangunan peradabannya. Sehingga Islam tidak hanya
dipandang memiliki ajaran normatif untuk jugamencapai kemajuan, walaupun tidak
sampai pada batasan mengungguli akan tetapi paling tidak duduk sejajar dengan Barat
yang sudah terlanjur diklaim maju.
Disamping itu pula Islam pernah mengalami kejayaan dengan ilmu
penegetahuan, disaat dunia Barat tidak mampu bangkit membangun perdaban
dunianya seperti sekarang. Yang tentu saja analisis logisnya adalah ada
semangat keislaman yang hari ini belum digali dan masih merupakan mutiara yang
hilang untuk dikembangkan, sehingga ia mampu menjadi faktor pemicu utama atas
proses adaptasi dan akomodasi bangunan pradigma modernitas Barat yang saat ini
berjaya.
A Zi>a>uddin Sardar
misalnya, yakin akan adanya mutiara terpendam Islam yang memungkinkan digali
ummat Islam hari ini. Hanya saja prilaku ummat Islam dalam menghadapi serbuan
modernitas lebih memilih kembali kepada sesuatu yang dia sebut sebagai preode kekunoan
atau keusangan. Sehingga menurutnya, ummat Islam memilih jatuh ke masalalu falling
back on age-old interpretation yang disebutnya preode menyakitkan dalam
diri ummat Islam.[120]
Itulah mengapa harus ada penafsiran
kembali pengertian-pengertian Islam atau istilah yang sangat popular adalah Rethinking
of Islam.[121]
Karena hal ini mengisyaratkan terciptanya pembacaan kembali atas
tradisi klasik ummat Islam dengan media takwil terhadap pola dan prilaku dan
pemahaman masyarakat kitab: yaitu masyarakat-masyarakat yang lahir dan tercipta
dari kitab wahyu. Sehingga dengan semangat ini menandakan adanya terbukanya
pintu ijtihad dengan lebar, dan
Islam bebas untuk diterjemahkan selama tidak keluar dari koridor utama al-Qur’an dan assunnah.
3.
Landasan Normatif Tradisionalitas dalam Islam Untuk Membendung
gelombang Modernitas
Namun demikian keyakinan sementara ummat Islam, bahwa Islam secara
normatif mengajarkan ummatnya untuk bertindak atas namanya guna meraih
keberhasilan dalam membangun dan menata kehidupan seperti yang pernah terjadi
di era keemasan Islam. Dan telah memberi ruang yang sangat luas untuk kembali
bermain dan membangun peradaban sendiri, dengan semangat yang telah lama
tertanam pada masa awal-awal Islam.
Akan tetapi, merupakan sebuah keniscayaan bagi ummat Islam hari
ini, ketika menggagas kembali Islam sebagai agama dan pengikutnya yang pernah
jaya di abad ke-8 dan sampai abad ke 13 setidaknya, apa bila pradigma
universalitas ajaran Islam masih dipandang sebagai sebuah ajaran normatif yang
anti rekonstruksi yang mengarah atas upaya-upaya akomodatif dengan titik muaranya harus meletakan Islam
dalam konteks universalisme dunia seluruhnya. Dan akan lebih tidak mungkin lagi
apabila justru Islam dianggap sebagai agama bermuatan moral spiritual belaka
tampa mempertimbangkan unsure-unsur nilai keuniversalan Islam dalam konteks
yang sangat luas sekali. Hasilnya Islam muncul tidak lebih dari sebuah doktrin
eskatologis saja tanpa bersmaan dengan
doktrin progresifitas duniawi yang justru diBarat telah lama dikembangkan.
Dan ummat Islam sejatinya berupaya
untuk mengapresiasi adanya berbagai kemungkinan untuk perkembangan dengan tanpa
menghilangkan semangat keislaman itu sendiri, dan membuang jauh pergerakan
skeptisisme lebih-lebih acuan stagnasi yang berpangkal atas pragmentasi ummat
Islam itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa factor pemicu kemunduran ummat Islam
adalah karena upaya revivalisasi atas serbuan perdaban yang dimulai pada awal
abad ke18 yang telah membentuk jaringan fundamintalisme yang dimulai dari dua
kota utama ummat Islam yang oleh John O. Voll disebut sebagai jantung kota
Islam (hearth land of Islam)
[122]
yaitu Mekkah dan Madinah yang mampu membangun semacam jejaring lingkar ulama
revivalist Muslim yang datang dari berbagi sudut Negara Muslim lainya. Dalam
konteks ini melembagakan stigma pandangan individual setiap Ulama yang
terjaring dalam inner circle of Muslim. Yang tidak menutup kemungkinan
tercipta adanya pengaruh lokalitas dan lingkungan masing-masing anggotanya.
Sehingga pandangan purifikasi syariah dan fundamintalisasi terbangun yang pada
giliranyya justru memberangus akar kemajuan yang pernah dicapai oleh ummat
Islam.[123]
Padahal ummat kristiani misalnya,
pada paro abad ke sembilan belas berani mengajukan perombakan atas keyakina-keyakinan
lama yang mengantarkan ummatnya berfikir sangat stagnan, dan mengusung konsep
baru yang lebih rasional. Walaupun pihak
gereja tatap menolak dan bersikukuh atas keyakinan-keyakinan yang sejak lama
sudah terpatri menjadi sebuah sumber tindakan. Akan tetapi lepas dari persoalan
ide rekonstruksi kristiani, semangat untuk berkembang dan maju justru datang dari
ummat lain yang dulunya ketika Islam mencapai kejayaannya masih dipandang
sangat marginal sekali.
Lain halnya dengan ummat Muslim sendiri, ketika pradaban dunia
mulai sangat maju justru ide rekonstruktif kembali kepada masa dimana Islam
sudah tidak lagi dipandang sebagai pemilik peradaban, atau zaman kemajuan Islam
pada zaman kegelapan itu sendiri. Padahal beberapa abad jauh sebelum abad ini,
menjadi abad Barat modern, Islam tidak hanya muncul sebagai agama yang kuat
namun juga telah menjadi ikon dunia yang menjadikan tidak hanya Barat
tercengang namun dunia timur sendiri ikut membanggakan atas kemunculan Islam
itu. Contoh kecil dapat kita lihat bagaimana circle city terbangun di Bagdad
yang menjadi pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah waktu itu. Philip K. Hitty
menuliskan betapa pengaruh tindakan ummat Islam sangat besar sekali atas
perkembangan satu pradigma suatu kehidupan pada masa itu.[124]
Islam diyakini tidak hanya mentasbihkan diri sebagai agama dengan mengusung
konsep religious semata namun juga persoalan-persoalan lain diluar konsep
religiusitas . Namun dari pada itu ummat Islam memilki landasan teologis yang
mampu menghadirkan legalitas pengembangan progresif yang sampai detik ini bukanlah dipandang
sebagai sebuah dosa apabila ummat Islam juga belajar dari tetangganya.
Karena secara
teologis, Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat ilahiah
(transenden). Pada posisi ini Islam adalah pandangan dunia
yang mampu memberikan kacamata pada manusia dalam memahami
realitas. Meski demikian, secara sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, realitas sosial kemanusiaan.
yang mampu memberikan kacamata pada manusia dalam memahami
realitas. Meski demikian, secara sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, realitas sosial kemanusiaan.
Pada wilayah
ini nilai-nilai Islam bertemu dan berdialog secara intens dengan kenyataan
hidup duniawi yang selalu berubah dalam partikularitas konteksnya. Dialog
antara universalitas nilai dan partikularitas konteks menjadi penting dan harus
selalu dilakukan agar misi Islam sebagai rahmat semesta alam dapat diwujudkan.
Ketidakmampuan berdialog dapat menjebak agama pada posisi keusangan (kehilangan
relevansi) atau pada posisi lain kehilangan otentitasnya sebagai pedoman hidup.
Muara yang
diharapkan dari proses dialektika nilai-nilai Islam dengan modernitas adalah
keberlakuan Islam di era modern. Ini terjadi jika upaya tersebut berhasil
dengan baik. Sebaliknya, ketidakberhasilan proses tersebut dapat membuat agama
kehilangan relevansinya di zaman modern. Peristiwa penolakan terhadap geraja di
awal zaman modern di Eropa dapat terulang kembali dalam konteks yang berbeda
dunia. Islam memiliki potensi kuat untuk
menjawab tantangan tersebut. Ernest Gellner, seperti yang dikutip Wijoyo,
menyatakan bahwa di antara tiga agama monoteis; Yahudi, Kristen dan Islam,
hanya Islamlah yang paling dekat dengan modernitas. Ini karena ajaran Islam
tentang universalisme, skripturalisme (ajaran bahwa kitab suci dapat dibaca dan
dipahami oleh siapa saja,[125]
tidak ada kelas tertentu yang berhak memonopoli pemahaman kitab suci dalam
hierarki keagamaan), ajaran tentang partisipasi masyarakat secara luas (Islam
mendukung participatory democracy), egaliterianisme spiritual (tidak ada sistem
kerahiban-kependetaan), dan mengajarkan sistematisasi rasional kehidupan
social. Yusuf Qardhawi menilai kemampuan Islam berdialog secara harmonis dengan
perubahan terdapat dalam jati diri Islam itu sendiri. Potensi tersebut terlihat
dari karakteristik Islam sebagai agama rabbaniyah (bersumber dari Tuhan dan
terjaga otentitasnya), insaniyah (sesuai dengan fitrah dan demi kepentingan
manusia), wasthiyyah (moderat-mengambil jalan tengah), waqiiyah (kontekstual),
jelas dan harmoni antara perubahan dan ketetapan.[126]
Meskipun Islam
potensial menghadapi perubahan, tetapi aktualitas potensi tersebut membutuhkan
peran pemeluknya. Ketidakmampuan pemeluk Islam dapat berimbas pada tidak
berkembangnya potensi yang ada. Ungkapan yang sering dipakai para pembaru Islam
untuk menggambarkan hal ini adalah al- Islamu> mahju>b bi al-Musliminâ. Dalam mengaktualisasikan potensi tersebut,
pemeluk Islam difasilitasi dengan institusi tajdid (pembaruan, modernisasi).
Ada dua model
tajdid yang dilakukan kaum Muslim: seruan kembali kepada fundamen agama (al-
Quran dan hadith), dan menggalakkan aktivitas ijtihad. Dua model ini merupakan
respons terhadap kondisi internal umat Islam dan tantangan perubahan zaman
akibat modernitas. Model pertama disebut purifikasi, upaya pemurnian akidah dan
ajaran Islam dari percampuran tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan Islam.
Sedang model kedua disebut dengan pembaruan Islam atau modernisme Islam.[127]
Di sini, Tajdi>d memiliki peranan yang signifikan. Ketiadaan
rasul pasca Muhammad SAW. bukan
berarti tiadanya pihak-pihak yang akan menjaga otentitas dan melestarikan
risalah Islam. Jika sebelum Muhammad SAW. peranan menjaga dan melestarikan
risalah kerasulan selalu dilaksanakan oleh nabi atau rasul baru, pasca Muhammad
SAW. peran tersebut diambil alih oleh umat Islam sendiri. Rasul Muhammad SAW.
pernah menyatakan bahwa ulama` merupakan pewarisnya, dan di lain kesempatan ia
menyatakan akan hadirnya mujaddid di setiap seratus tahun.
Tajdid adalah
sebuah upaya untuk kembali melihat inti ajaran Islam yang oleh John O. Voll
tidak hanya mengajarkan konsepsi spiritual nakun secara bersamaan ajaran Islam
justru menyentuh kebutuhan kekinian Ummat Islam dan upaya tebesar dari sebuah
ajran Tuhan dalam Islam adalah bagaimana mengimplementasikan wahyu tuhan god’s
revelation dalam sebuah tindakan nyata untuk mengangkat martabat kemanusian
huan society.[128]
Dalam proses
tersebut, setiap ajaran Islam mengalami
pembaruan yang berbeda-beda, bahkan ada yang tidak boleh disentuh sama sekali.
Aqidah dan ibadah merupakan domain yang sangat tabu tersentuh proses perubahan.
Yang bisa dilakukan dalam kedua wilayah tersebut adalah pembersihan dari aspek-
aspek luar yang tidak berasal dari doktrinal Islam. Di sini berlaku kaidah
"semua dilarang kecuali yang diperintah". Berbeda dengan itu, aspek
muamalah (interaksi sosial) merupakan wilayah gerak tajdid dengan sedikit tabu
di dalamnya. Pada aspek ini nilai- nilai Islam mewujudkan dirinya berupa
paradigma kehidupan. Ajaran Islam
menyediakan pedoman-pedoman dasar yang harus diterjemahkan pemeluknya sesuai
dengan konteks ruang waktu yang melingkupinya. Pada wilayah ini yang berlaku
adalah kaidah "semua dibolehkan kecuali yang dilarang".
Menurut
Kuntowijoyo penerjemahan nilai- nilai tersebut bisa dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Yang pertama berangkat dari nilai ajaran langsung ke
wilayah praktis. Disinilah terletak urgensitas tradisionalitas dalam tataran tajdi>d yang harus dikembangkan dalam rangka menghalau
dan merespon arus modernitas yang mengancam.
BAB IV
KONSTRUKSI PEMIKIRAN ISLAM NASR
A.
Pemikiran Modernitas dan Tradisionalitas Islam Nasr
1.
Pemikiran Modernitas Nasr
Modernitas menjadi fakta historis dan fenomena sejarah yang
membentang dalam berbagai corak
pemikiran manusia dengan konteksnya sendiri. Dimana ia merupakan sebuah gagasan
konsep progresifitas dalam stagnasi pemikiran yang akut dengan ekslarasi logika
yang mampu mencengkram setiap individu dengan potensi ide, pendidikan dan
kekayaan cultural yang luar biasa. Sehingga tatanan keharmonisan hidup menjadi
taruhan dalam fenomena factual modern sesuai dengan garis-garis besar
bergulirnya ide modernitas itu sendiri. Itulah modernitas yang hidup dengan
eksistensinya sendiri, dan dengan nalar legitimasinya sendiri. Dimana ia bergulir
dan berkembang di dunia Barat dengan kesesuain konteks dan lokalitasnya.
Akan tetapi ketika isu dan ide modernitas digulirkan dan
dikembangkan dalam lintasan konteks dan lokal yang berbeda, melintasi berbagi
sektoral kehidupan manusia yang beraneka warna demensi dasar krakternya,
semangat modernitas menjadi kehilangan eksistensinya yang setiap saat mengancam
dan membahayakan siapa saja yang mengamini dan mengikuti tanpa mempertimbangkan
kualitas dan kekuatan imunitas budaya, logika, pendidikan dan peradabannya itu
sendiri. Modernitas yang menjadi ancaman bagi dunia non Barat. Sehingga
modernitas dianggap sebagai Iblis besar, Setan besar, big imperialism
atau istilah kriminal lain yang dilabelkan kepada bergulirnya isu ini.[129]
Oleh sebab itulah Nasr mewaspadai bergulirnya wacana modernitas
dengan bangunan narasi besarnya, yaitu ide materialisme, sekularisme dan hedonisme
ketika melintasi benua-benua lain yang memiliki corak dan kerakter yang berbeda
dari konsep modernitas yang datang dari Barat itu. Dan unsur-unsur local yang
menjadi kemapanan budaya dan tindakan sebuah masyrakat menjadi pertimbangan
utama Nasr dalam membangun modernitas dengan tanpa menghilangkan unsur
universalitas modernitas itu sendiri. Modernitas dalam konteks ini, harus
memiliki label lokal yang diakui dan disetujui oleh setiap individu untuk
membangun dan membuat kebijaksanaan pemikiran modernitas. Nasr mengandaikan
selektifitas dan filterasi atas begulirnya isu modernitas itu dengan jalan
mengurai urgensitas spiritualitas dan ruang sufistik kemanusian.[130]
Modernitas adalah gerbong maut peradaban bagi dunia ketiga, dimana
dia membawa konstruksi nalar yang melampaui batas-batas kemampuan manusia yang
hidup dipinggiran arena pencetakan dan pembentukan modernitas itu. Dia datang
dan berjalan membawa virus peradaban yang mematikan disuatu sisi, dan membawa
penangkalnya sekaligus (progresifitas dan rasionalitas), karena dia dilahirkan
untuk membuai dan mengabdi kepada tuannya sang pembuat dan menggagas modernitas
itu, yang selama ini ditindas, dianiaya oleh kekejaman budaya yang melanda
sebelum setan besar ini diciptakan oleh sebab itulah modernitas sangat terkait
erat dengan afiliasinya atas kristenitas dan tuntutan sebagian masyarakat
minoritas menjadi cirri khas muculnya modernitas di Barat itu.[131]
Oleh sebab itulah beberapa isu dan ide modernitas itu tidak memiliki relevansi
dengan dunia-dunia lain dan dunia ketiga umumnya. Sehingga Nasr dalam hal ini
berdiri di garda depan perlawanan atas datangnya setan besar ini dan berupaya untuk
menyelamatkan peradaban tradisional dunia ketiga, yang dalam hal ini, Iran yang
awalnya disebut Persia dari cengkraman dajjal besar ini. Modernitas pada saat
tertentu akan menghancurkan siapa saja yang menghalangi, ia akan membunuh dan
mencabik-cabik apa saja yang berdiri di depannya apabila tidak menerimanya,
sehingga keangkuhan dan arogansinya sangat kental terasa dalam perjalanannya
melintasi benua-benua yang umumnya berada di timur. Sehingga, Nasr berkeyakinan
masyarakat harus memperkuat system imunitas tubuh kebudayaannya dari ganasnya
virus peradaban modern ini, dengan menancapkan krakter lokalnya sehingga dalam
ruang lingkup waktu tertentu manusia yang hidup dipinggiran ini, mampu berdiri
sendiri dengan kekokohan idenya sendiri, dengan cara mengurai hakikat terdalam
dimensi agama yang bersumber dari wahyu al-Qur’an maupun hadis dengan tidak
mengabaikan fenomena struktur kemunduran yang melanda ummat Islam saat ini.
Maka dalam seketsa pemikiran Nasr tasawuf dan filsafat menjadi titik tolaknya
untuk mengurai urgensitas tradisi dalam menghadapi arus modernita.[132]
Itulah hakikat tradisionalitas Nasr. Menurut Nasr teknologi modern Barat masuk
ke Iran dan ini harus diwaspadai dengan menggunakan imunitas know-how
atas budaya local masyrakat dalam pergulatannya dengan modernitas.[133]
Kerakter teknologi Barat dengan mesin multi dimensional, mengubah system syber
komputasi hampir merusak system komonikasi kehidupan masyrakat timur tengah
pada umumnya, dan Iran pada khususnya. Sehingga memungkinkan terciptanya
pergeseran makna kehidupan, yang agraris, penghemat dan banyak menghemat energy
kehidupan demi untuk kepentingan konsumerisme modern terhadap penggunaan teknologi
itu sendiri. Untuk itulah ketika Nasr diminta oleh Syah untuk membangun
perguruan tinggi teknologi Aryamehr, dia meminta untuk diperkenankan membangun
gedung-gedung perkuliahan dengan arsitektur tradisional Persia. Ini mengubah
keinginan Syah untuk membangun gedung tinggi dengan escalator yang
menghubungkan ruang paling bawah ke ruang paling tinggi.[134]
Modernitas membawa harapan untuk memberi layanan kemanusian
seutuhnya dengan memberi ruang pencerapan potensi tertingginya sebagai manusia yang
merupakan mahluk tuhan dengan setruktur penciptaan terbaik, mampu diekspresikan
dengan segenap potensi natural penciptaanya dan mengebiri kunkungan cultural
yang disetting untuk hegemoni, apakah atas nama manusia, agama maupun materil.
Sehingga manusia dengan bebas berekspresi sesuai dengan nalar kemanusiannya.
Sehingga dengan bangunan konsep ini manusia diberi ruang seluas-luasnya untuk
bertindak. Dan untuk itulah dalam
bangunan nalar modernitas semua sector kehidupan dirumuskan, Hak Asasi Manusia,
demokrasi, kesempatan dalam berekpresi dan jaminan kehidupan juga dirumuskan
demi untuk menjalankan narasi besar modernitas itu.[135]
Namun disisi lain bangunan konsep modernitas, merenggut kemapanan
tradisi yang telah lama terbagun bersama lahirnya manusia muda diBarat, dan
dengan letupan emosional yang seringkali hilang orientasinya lantaran
kehilangan pemahaman eksistensinya berjalan dengan tanpa memahami pasti
bagaimana seharusnya sebuah tindakan dilakukan. Dengan kata lain kecendrungan
baru masyarakat muda utamanya di Barat dihinggapi kecendrungan yang dikenal
dengan istilah trend, trendy, mody dan atau kecendrungan berubah orientasi dari
penomina sosial mapan sebelumnya. Dalam segmen ini modernitas mengukuhkan
dirinya sebagai suatu penjahat yang mengim-imingi kenikmatan dalam buaian
kebebasan dan kecendrungan yang akhir dari genre modernitas adalah merumuskan
tatanan sosial kehidupan baru.[136]
Dilain pihak modernitas adalah sebuah lokomotif transportasi yang
dapat mengantarkan manusia untuk sampai ketempat yang diinginkan, yang tentu
saja dengan selamat. Dan lokomotifnya adalah filsafat, seni, sains, teknologi
yang disatukan dengan dalih sebagi madzhab dalam bangunan konsep modernitas.
Sehingga barometer keutuhan dan kematangan konsep modernitas ini, adalah
seputar sains, dilsafat dan teknologi. Diluar narasi modernitas ini, bagian yang
dianggap sebagai metanarasi yang dipertimbangkan sebagi kelanjutan logis dari
isu bergulirnya budaya modern di Barat adalah, epistimologinya dimana manusia
modern beranggapan yang non ilmiyah sepearti agama dan narasi-narasi kecil yang
menurut Lyotard adalah bagian dari segmentasi yang hilang dalam pemikiran
modern.[137]
Akan tetapi ketika Barat, telah meraih apa yang disebut sebagai
kemajuan, dengan bingkai modernitas, persoalan kemanusian muncul dan kebebasan
justru dipertaruhkan dalam kooptasi politik modernitas yang muara realitasnya,
berputar pada pusaran hegemoni ide modernitas yang ingin digelontorkan sebagai
satu-satu trend pradaban yang harus diakui dunia, krisis yang juga kadang timbul
sebagai akibat ide modernitas adalah krisis atas pemahaman natural yang
menyebabkan manusia modern ini hidup dalam kubangan nestapa multi
dimensional crisis. Maka dampaknya adalah manusia-manusia modern ini memepertanyakan kembali peranan sentral modern
dalam menciptakan keharmonisan hidup. Karena
pada dasarnya Barat tidak lebih harmonis dan damai dari pada dunia yang tidak
mengklaim diri sebagai peta wilayah modern. Dan berbagai persoalan muncul dalam
sekala yang sangat luas variable krisis dan kenestapaanya manusia yang hidup di
masa modernitas itu.[138]
Krisis
multi-demensional Barat modern, membentang seluas membentanngnya ide modernitas
yang digulirkannya ide ini sejak awal abad ke 18 dari belahan dunia Eropa.
Seperti halnya Eropa utara yang dikenal sebagai, Christian territorial,
yang dalam bahasa Islamisis adalah daerah white Christian, seringkali
terjadi pembalakan liar dari kelompok putih dari ummat cristiani atas
orang-orang berwarna atau pembunuhan secara keji, dengan dalih pembersihan atas
bangsa yang tidak diutus tuhan ketengah-tengah manusia Kristen.[139]
Atau keresahan manusia modern atas dominasi teknologi atas hidup bangsa-bangsa
di Eropa dengan asumsi konseptual untuk pemenuhan hidup mudah dan efektif dalam
melakukan aktifitas sehari-hari. Sehingga dampak logis dari pola hidup yang
demikian mengantarkan manusia resah dan mengalami beragai fobia atas alamnya
sendiri, dan manusia pun dalam konsep Nasr berada pada tataran krisis alamiyah
dan krisis kesadaran atas alam dimana manusia itu tinggal.[140]
Persoalan
kemanusian, yang juga muncul sebagai kelanjutan logis dari ide modernitas utamanya,
dalam realitas masyarakat yang berupaya membangun imij modern dengan trend
hidup serba ilmiyah, telah melahirkan problema yang dapat dikelompokan kedalam
masalah yang rumit untuk diselesaikan bahkan dapat tergolong akut. Manusia bertarung dengan lingkungan dan
alamnya ketika pola hidup modern terus beranjak naik menuju eskalasi tinggi dan
mencoba memenuhi tuntutan modern yang sangat tinggi pula. Manusia pada era ini
menjadi sangat rakus dan angkuh dalam memperlakukan lingkungan alamnya sehingga
antara manusia dan alamnya bersaing dan untuk melahirkan stigma modernitas
dengan landasan fikir yang serba fositivistik dan relatifistik. Hal ini muncul
dari sikap dan prilaku yang sembarangan
dalam mengelola hidupnya untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaannya itu.[141]
Dalam persoalan
ini Nasr beranggapan bahwa di Barat dengan munculnya pola hidup yang
sembarangan dengan memperlakukan alam dengan semena-mena telah menempatkan alam
pada ruang yang sangat tidak logis, sehingga pada gilirannya masyarakat Barat
disebutnya logical non-realist.[142]
Dalam pada ini, Nasr mencoba mengembangkan ide dengan isu global kemanusian yang
menempatkan ide sentral yang dia sebut sebagai krisis spiritualitas alam pada
masyarakat modern.[143]
Sehingga
karenanya, bangunan ide modernitas, filosofinya harus bermuara kepada keyakinan
segala asal sesuatu the origin of the thing yang melampaui batasan
material kehidupan manusia, dan penanda hakikat kemanusian manusia yang saat
ini berlawanan keras dengan kecendrungan tradisi filsafat Barat Eropa yang
matrialistik, hedonis dan positifistik, mengukuhkan posisinya sebagai element
dasar modernitas. Dan realitas itu dikemas dalam bingkai prenialisme yang dalam
banyak hal selalu dihidupkan oleh Nasr dalam gagasan living filosofinya.
Walaupun Nasr dianggap kehilangan citra banguanan filsafatnya ketika menggas
ide-ide prennis ini.[144] Karana Nasr dianggap telah keluar dari
perdebatan filsafat Barat modern saat ini. Untuk itulah Nasr dianggap sudah
melampaui batasan filsafatnya manusia modern ini, dan tidak bisa membedakan
dengan tegas antara agama dan filsafat.[145]
Disinilah
ajaran penting Nasr dalam menghidupkan
kembali unsur-unsur tradisioonalitas dalam pandangan filsafat modernitas Barat yang
meletakkan pentingnya menelusuri garis penghubung antara yang sakral dengan
yang frofan, sehingga dalam segmentasi pemikiran filosofis Barat tentang
membangun modernitas alam materi terhubung dengan ruang immateri yang keduanya
sama-sama memiliki unsur dan elemnya sendiri.[146]
2.
Konstruksi Modernitas Nasr
Masyarakat
modern menurut Nasr, merupakan sekelompok orang yang tertata dengan struktur
fikir intlektual yang profan dengan bersandarkan diri secara mutlak atas
hukum-hukum positifistik, tanpa mengindahkan kebutuhan-kebutuhan dasar alam
dengan mencoba mencari garis penghubung antara alam dan manusia. Sehingga alam
dan manusia bertarung dan bersaing membentuk struktur alamnya sendiri.
Akhirnya, manusia hari ini hidup dalam arus urbanisasi yang merasakan pengapnya
alam yang disebabkan atas hilangnya, intuisitas alamiyah atas persahabatan
manusia dengan alam itu sendiri. Dan manusia merasakan kehilangan kebebasan
untuk bergerak dan berekspresi karena eksploitasi natural atas domain hidup
manusia terus melonjak tajam dan mengantarkan manusia hidup dalam ledakan masyarakat dan luapan polusi udara
yang tidak terhindarkan. Akhirnya manusia modern hidup diluar eksistensi dirinya.[147]
Manusia modern
tidak saja memiliki ciri khas yang sering disebut sebagai kemajuan humanisme
dengan konsep positivistik, kecendrungan manusia modern juga menurut Nasr
struktur berfikir monopoli atas alam, dengan cara memperlakukannya dengan
sembarangan dan tindakan yang semena-mena terhadapnya. Seperti eksplorasi migas
tanpa henti untuk kepentingan sumber energy yang juga untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Pembalakan hutan dengan cara digunduli dan penebangan liar atas
kayu-kayu nya untuk kepentingan pembangunan. Kondisi ini diperparah dengan kecendrungan manusia yang serba mempermudah
hidup dengan bantuan berbagai peralatan elektronika dan penggunaan teknologi
yang tetntu saja dapat menberi polusi atmosfer alam ini. Sehingga lapisan ozon
menipis dan akhirnya terjadilah pemansan global atau global warming
dibelahan dunia Barat khususnya dan belahan dunia timur umumnya.
Akan tetapi berbeda dengan rangkaian pemikiran modernitas manusia
Timur, bangunan modernitas tidaklah merupakan sebuah ancaman yang mematikan
dalam spectrum totalitas modernitas, Nasr beranggapan bahwa, berhadapannya
Islam dengan modernitas, merupakan sebuah penomina yang tidak saja berbicara
apakah Islam itu sebagai sebuah agama dan jalan realitas spritual. Hal ini
mengandaikan kemungkinan tertanamnya sebuah tatanan hidup yang merangkum dua
kutub sekaligus. Islam adalah agama wahyu, sumber utamanya adalah al-Qur’an dan
ketika ia diturunkan, berbicara dalam konteks local Arab waktu itu. Dan
karenanya ketika Islam terssebar keseluruh penjuru dunia maka Islam itu
bersentuhan dengan berbagai pola pandangan keyakinan yang berbeda dengan
masyarakat local arab pada waktu diturunkannya la-quran itu. Untuk itulah
menurut nasr wahyu dalam al-qur’an menjadi akar yang mengokohkan seluruh cabang
yang merambah kemana-mana sesuai dengan berkembagnya Islam itu sendiri. Itulah
persoalan dalam konstruksi modernitas Islam saat ini.[148]
Nasr melihat
terjadinya krisis ekologi, yang melanda belahan dunia Barat juga terjadi atas
dampak keserakahan manusia atas alam merupakan sebuah kelafaan masyarakat
modern itu sendiri dalam menghadirkan ruang sprtual dan realitas sakral dalam
agama. Sehingga keseimbangan ekosistem tidak terjaga, lahan-lahan perhutani
yang sejatinya diperuntukan untuk binatang ditebangi dengan dalih perluasan
hunian manusia sehingga kelanjutan hidup hewani terancam. Dan sebagai dampak
tidak tersidanya lahan yang cukup untuk binatang-binatang buas dihutan, dan
ular misalnya dapat dengan mudah hidup dengan cara menggangu manusia
dipemukimannya. Secara menyeluruh Nasr melihat kesadaran manusia harus
terbangun dengan baik untuk menciptakan keharmonisan mahluk hidup dan membangun
ekosistem yang seimbang antara manusia dan mahluk hidup lainnya. Disini
mengisaratkan terciptanya kesadaran spiritual yang tinggi untuk sampai
ketingkat pemeliharaan atas alam dan isinya.
Manusia Barat
dengan konsep urbanisasi, telah sampai kebatas nadir, yang secara alamiyah
merusak ekosistem pada lingkungan manusia itu hidup. Yang pada gilirannya
manusia menjadi serakah dan memonopoli kepantigngan sendiri atas kebutuhan
hidupnya dngan tanpa memperhatikan
kebutuhan mahluk hidup yang lainnya. Kecendrungan membangun pada diri manusia
adalah salah satu fakta realitas keserkahan manusia yang hampir tidak
menyediakan ruang yang cukup untuk manusia atau mahluk yang lainnya. Sehingga
ruag bernafas sangat tidak memadai, dan manusia menjadi seolah-olah terkooptasi
atas keinginannya sendiri. Dan dalam waktu yang bersamaan manusia enggan
memperhatikan yang lainnya. Itulah isyarat krisis spiritual menurut Nasr dalam
bukunya Man and Nature the spiritual crisis of modern man.
Modernitas
merupakan jalan-jalan rintisan materialisme dan hedonisme, dimana gagasan
utamanya adalah doktrin humanism sebagai elan vital kehidupan secara
keseluruhan. Dampak logis dari pemikiran ini adalah, manusia adalah pengendali
utama atas proses berjlannya sebuah kehidupan, dan elan vital kehidupan harus
benar-benar dihidupkan demi tercapainya suatu tujuan yaitu memanusiakan
manusia.[149] Sehingga
Nasr menyangsikan sikap yang sedemikian telah mengabaikan hakikat terdalam dari
kemanusian. Dalam pandangan Nasr dimensi terdalam dari kemanusian manusia
adalah terletak atas hubungan personal dan materalnya atas yang sacred dan yang
hakikat, sehingga apabila ingin membangun elan vital kehidupan tidak lain harus
dimulai dari asumsi yang sacred ini.[150]
3.
Modernitas dan Tradisi dalam Pemikiran
Islam Nasr
Bagaimanapun,
dewasa ini tidak terdapat ruang sinergitas gagasan modernitas yang muncul dari
ruang materialisme dan secularisme yang diyakini Barat dapat memudahkan
hidup masyrakat baik di timur maupun di Barat
itu sendiri. Hal ini terlihat dari semakin digandrunginya trend modernitas,
kompleksitas persoalan kemanusian semakin terasa. Persoalan penindasan,
pembersihan ras kulit hitam di Amerika pada tahun 1980 an sungguh merupakan
penomina kemanusian di abad modern.[151]
Sehingga modernitas memiliki lawan paradox yang sama-sama mengklaim
kebenarannya sendiri yaitu tradisionalitas, dimana dengannya sekolompok
masyarakat eksis dan mencapai kejayaan kebudayaan dalam percaturan hidup modern
dan akan menyediakan ruang keharmonisan dan persamaan hak tetap terjaga antara
sesama.
Oleh sebab
itulah Barat modern saat ini perlu melahirkan konsep baru dalam memahami diri
kemanusiaanya yang terlepas dari konsep materialisme. Sehingga modernitas dapat
bersamaan dengan ide-ide keharmonisan manusia seutuhnya. Dan manusia modern
haruslah tetap mempertimbangkan unsur mikro yang selama ini diabaiakan dan
bahkan dihilangkan sama sekali. Yaitu, agama, tradisi dan pemeliharaan atas apa
yang telah menciptakan kemapanan dalam budaya sebelumnya yaitu sebuah istilah yang
sering muncul dalam wacana posmodernitas sebagi metanarasi.
Dalam
konsep pemikiran Barat, filosofi alam adalah bagaimana alam dipandang sebagai
sebuah symbol, dengan merujuk kepada pemikiran De Saussure, Derrida dalam konteks
semeotika. Sehingga dengan pandangan hermeneutika Baible, manusia Barat
beranggapan pola konstruksi pemahaman atas segala sesuatu yang melepaskan diri
dari konteks tradisionalitas, merupakan sebuah keniscayaan. Sehingga memahami
symbol alam yang merupakan polarisasi pemahaman atas interpretasi makna yang
hakiki dari segmentasi bangunan pradigma tentang alam ini adalah bagian dari
proses pencapaian kemajuan dalam membangun dunia, Itulah yang menurut Neville
sebuah tradisi yang dibangun diBarat dan Eropa.[152]
Akan
tetapi Nasr melihat bangunan ide orang-orang Barat atas alam yang dicirikan
dengan simbolisme belaka yang dapat melahirkan pandangan yang parsial dan
terpisahkan dari hakikatnya.[153]
Hal ini terbukti bagaimana manusia di Eropa tidak sanggup menghadirkan
pemahaman yang utuh atas alam, dan sebagai dampaknya manusia Barat ini
menangani alam dengan keliru.[154]
Sehingga
manusia Barat perlu merumuskan ulang pemahaman tentang humanisme, alam dan
lingkungannya dalam rangka melahirkan tindakan actual logis tentang modrnitas yang
mengarah atas pengembangan alam, yang ujung pangkalnya dapat melahirkan
kemaslahatan bagi manusia umumnya dan lingkungan pada khususnya, sehingga
tercipta keutuhan dan seimbangan antara
alam dan manusia. Bagi Nasr perlu adanya konsep spiritualitas dimana pemahaman
tentang manusia tidak saja dipahami dari sisi hukum positifistik materialis melainkan
dari sudut pandang transcendental spiritualistik pula.[155]
Nasr
melihat terjadinya krisis kemanusian di
era modern akibat terjadinya krisis keagamaan yang kurang memahmai hakikat dari
manusia dan alam yang melahirkan paham
positifistik materialistik dan memandang manusia dari sudut pandang
humanisme dalam konsepsi mereka sendiri. Untuk itulah perlu ada pendekatan yang
agamis bagi manusia modern untuk melahirkan harmonisasi dengan alam.
Modernitas yang
melanda dunia Islam, dengan segala efek positif-negatifnya, menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh umat
Islam di tengah kondisi keterpurukannya ini dengan landasan konsep rasional. Dalam
segmen ini umat Islam dituntut bekerja ekstra keras untuk mengembangkan seagala
potensinya guna menyelesaikan permasalahannya sendiri, yaitu keterbelakangan
baik dari segi ekonomi, politik dan teknologi. Sehingga, tajdid sebagai upaya untuk menjaga dan
melsetarikan ajaran Islam menjadi pilihan yang harus dimanfaatkan secara
maksimal oleh umat Islam. Dimana upaya tajdid harus terus dilakukan, tidak
boleh berhenti meskipun memerlukan high cost dan
pengorbanan yang besar.
Dan dewasa ini merupakan
sebuah fenomena factual bagi ummat Islam ketika ada beberapa kelompok
masyarakat Muslim justru anti perubahan
dan menganggap haram dilakukannya perubahan baik dalam konsep kematangan pemahaman
agama itu sendiri maupun sendi-sendi sosial ummat Islam. Dan bahkan ada kelompok
dan golongan yang lain justru beranggapan Islam jaya dengan kekukuhan
ajaran-ajaran yang sudah baku dan digariskan oleh al-Qur’an. Perlu disadari
bahwa al-Qur’an tidak berbicara apa-apa kecuali apabila ummat Islam yang
meyakaini sebagi sumber inspirasi kehidupan untuk melahirkan berbagi pola dan
bentuk tindakan ditengah-tengah benturan peradaban lain dan menemukan elan
vital al-Qur’an yang relevan dengan berbagai tantangan dunia kekinian yang
melingkupi kehidupannya. Karena al-Qur’an
adalah, kitab suci yang mau
membuka diri adanya multi tafsir dan menerima konsep pembaharuan dari manapun
datangnya.
Akan tetapi,
dalam proses penciptaan situasi modernitas telah terjadi adanya Penolakan
terhadap unsure-unsur metafisis, yang dalam peta pemikiran posmodernitas sering
disebut sebagai Grand Native (Narasi Besar, Narasi Agung, MetaNarasi) di mana Lyotard
berasumsi, adanya penolakan masyarakat posmodern terhadap narasi agung
merupakan salah satu ciri utama dari preode postmodern, dan hal ini menjadi
dasar baginya untuk melepaskan diri dari konsep seprituliatas dalam memandang
segala sesuatu. Dan seperti halnya
Lyotard Nasr pun melihat Ilmu Pengetahuan pramodern dan modern mempunyai bentuk
kesatuan (unity) yang didasarkan pada cerita-cerita besar (Grand-Naratives)
yang menjadi kerangka untuk menjelaskan berbagai permasalahan penelitian dalam
skala mikro bahkan terpencil sekalipun. Cerita Besar itu sebenarnya menjadi
kerangka penelitian ilmiah dan sekaligus sebagai justifikasi keilmiahan sebuah
pengetahuan.[156] Dimana
Nasr menempatkan grand naratives (meta-narasi) adalah teori-teori atau
konstruksi dunia yang mencakup segala hal dan menetapkan kriteria kebenaran dan
objektifias ilmu pengetahuan. Dengan konsekuensi bahwa narasi-narasi lain di luar
narasi besar dianggap sebagai narasi non-ilmiah. Dan penolakan itu terhadap
metanarasi dan atau grand narasi berarti menolak penjelasan yang sifatnya universal
dan global tentang entitas realitas sesuatu yang diketahui, tentang tingkah laku dan sebagainya. Lyotard, juga menyatakan bahwa pada diri seorang ilmuan
postmodern, pengetahuan tidak bersifat metafisis, universal, atau
transendental, melainkan bersifat spesifik, terkait dengan ruang-waktu
(historis). Bagi pemikir postmodern ilmu pengetahuan memiliki sifat
prespektifal, posisional dan tidak mungkin ada satu prespektif yang dapat
menjangkau karakter dunia secara objektif-universal.
Memudarnya
kepercayaan terhadap metanarasi disebabkan oleh proses delegitimasi atau krisis
legitimasi, dimana fungsi legitimasi narasi-narasi besar mendapatkan tantangan
berat. Contoh delegitimasi adalah apa yang di alami oleh sains sejak akhir abad
ke-19 sebagai akibat perkembangan teknologi dan ekspansi kapitalisme. Dalam
masyarakat pascaindustri, sains mengalami delegitimasi karena terbukti tidak
bisa mempertahankan dirinya terhadap legitimasi yang diajukannya sendiri.
Legitimasi sains pada narasi spekulasi yang mengatakan bahwa pengetahuan harus
dihasilkan demi pengetahuan di masa capitalist technoscience tidak bisa lagi
dipenuhi.[157] Pengetahuan
sains tidak lagi dihasilkan demi pengetahuan melainkan demi profit di mana
kriteria yang berlaku bukan lagi benar atau salah, melainkan kriteria perfoma
(menghasilkansemaksimal mungkin dengan biaya sekecil mungkin). Lyotard yakin
bahwa kita memasuki fase di mana logika tunggal yang diyakini kaum modernis
sudahmati digantikan oleh pluralitas logika atau paralogi. Perspektivisme
tentang ilmu pengetahuan yang berasal dari Nietzche digunakan Lyotard untuk
menolak pandangan ilmu pengetahuan yanguniversal dan total.[158]
Menurutnya
tidak ada perspektif tunggal tentang realitas objektif yang universal. Manusia
tidak memiliki akses untuk melihat dunia sebagaimana nyatanya, anggapan dan
keinginan untuk mencapai ituadalah sia-sia. Kebutuhan dan keinginan untuk
menemukan kebenaran ilmupengetahuan, sesungguhnya hanyalah sekedar istilah yang
mengacu pada pola pembentukan persepsi dan imajinasi yang mengandaikan adanya
sebuah kemungkinan disatukannya berbagai bentuk keyakinan manusia terhadap
alamnya.
Dalam
sketsa pemikiran modernitas Nasr, seperti halnya Lyotard, Griffin, mengandaikan
adanya sesuatu yang lain yang harus dipertimbangkan dalam rangka kehadiran
wacana konseptual untuk membangun ide-ide modernitas itu. Yaitu,
tradisionalitas, metanarasi, grand narasi yang nantinya modernitas tidak
kehilangan orientasinya sebagi bangunan yang akan memberi ruang public
kehidupan demi tercapainya kenyamanan dan keharmonisan dalam hidup, bukan
justru sebaliknya, modernitas tidak akan menjadi sebuah ancaman yang mematikan
kreatifitaas kemanusian dan menjadi himpunan pengerbirian atas adanya bangunan
konsep modernitas itu sendiri.
Kecendrungan
disorientasi dalam bangunan wacana modernitas atas sesuatu yang metafisis,
sakralitas, agamis dapat memberi ruang baru untuk bersemainya jamur-jamur gatal
yang beracun dan melapukkan kulit-kulit keharmonisan yang melindungi setiap individu
yang hidup di era modern. Sehingga bangunan ini diupayakan untuk dirobohkan,
dikonstruksi, direkonstruksi bahkan didekonstruksi yang dalam batas tertentu
melampaui batas-batas kejenuhan pemikiran wacana modernitas itu sendiri.
Akhirnya sekelompok orang berkeyakinan modernitas harus disingkirkan, diabaikan
dan sebagai gantinya kembalilah kealam tradisionalitas, yang diupayakan sebagi
tameng kehidupan, sehingga akan lahir upaya-upaya perbaikan dari pengrusakan
dan kehancuran peradaban modern.
Akan tetapi
bagi Nasr, modernitas adalah sebuah bangunan ide dengan kehendak menatap dunia world
view dengan konponen yang lengkap, menyediakan berbagai kebutuhan manusia,
namun juga komponen modernitas merupakan sebuah ruang yang menyediakan kemelaratan
hidup manusia, apakah itu sains, teknologi, maupun filsafat, yang didalamnya
terdapat suatu instrument spekulatif yang dapat dielaborasikan dengan bangunan
ide-ide lokalitas yang relevan dan sesuai dengan krakter dasar sebelum konponen
itu dioperasikan sebagai bagian dari masyarakat yang akan memdiami dalam
bangunan itu. Ruang esoteric menjadi pilihan utama dimana bagian ini melampaui
berbagai sekte dan pragmentasi manusia dengan satu kesatuan ide menuju the
Divine of Nature[159]
yang dalam pandangan masyarakat yang agamis merupakan perwujudan tuhan itu
sendiri. Itulah yang melampaui ruang perbedaan manusia yag muncul akibat dari
proses interpretasi teologi dan kehendak hukum interpretasi manusia yang
terekam dalam madhab-madhab fikih.
B.
Pemikiran Tradisionalitas Islam Nasr Sebagi Upaya Membendung Arus
Pemikiran Modernitas
1.
Hakikat Tradisionalitas Nasr
Dalam sebuah
bangunan krangka moderinitas menyisakan persoalan kemanusian yang tidak
terslesaikan dalam pandangan masyarakat modern. Sehingga konsep modernitas bergulir
iBarat sebuah bencana yang melanda seluruh kehidupan masyarakat modern.
Gelombang besar modernitas ini juga menyentuh apa yang disebut sebagai da<rul
Isla>m. Ia datang membawa serta berbagai trend baru pada masyarakat Muslim
yang selama ini bersikukuh dengan upaya tradisi-tradisi yang dianggap telah
mapan, dan bersamanya pula membawa konsep keilmuan baru, astronomi, filsafat,
pendidikan dan sosio cultural baru yang dapat menggoncang kemapanan tradisi
Islami itu.
Nasr memetakan
modernitas sebagi gelombang yang melanda belahan dunia Islam dengan berbagai
warna tradisionalitasnya. Menjangkau ekonomi, astronomi dan seluruh persoalan
hidup ummat Islam dipertaruhkan disini.[160]
Sehingga dalam segmentasi perubahan radikal akibat arus modernitas, ummat islam
diseluruh dunia ketiga berada dalam kegelisahan dan kekacauan materialism dan
humanism yang digagas sebagi landasan utama modernitas. Maka mau ataupun tidak,
pandangan atas kekokohan iman sedikit demi demi sedikit mulai hilang dan
tergerus bersama munculnya modernitas sebagi trend kehidupan.
Akan tetapi
persoalan terbesar yang tidak terselesaikan dengan baik dalam sepektrum
modernitas adalah, terpisahnya alam fisik dari yang metafisik, spiritual dari
yang material. Sehingga gagasan pandangan dunia manusia modern adalah bagaimana
mengunggulkan materialitas sebagi ganti dari yang spiritualitas. Dampaknya
perjalanan hidup manusia modern selalu bersinggungan dengan ide-ide materialistic
yang berakibat atas diabaikannya sesuatu yang bersifat ghaib, dan
Sacred. Dalam titik ini, manusia lebih terfokus perhatiannya kepada hal-hal
yang bersifat temporal, dan menghilangkan unsure-unsur dimensional yang
semestinya menjadi perhatian utama sebelum beranjak perhatiaanya atas yang
material. dalam pandangan Nasr sesuatu yang harus diperhitungkan dengan seksama
adalah bagaimana menyatukan dua sudut pandang yang dikhotomis ini. Sehingga
cirri utama modernitas yang materialistic adalah bagaimana manusia modern harus
kembali kepada tindakan yang memberinya ruang kebudaan yang memberinya sebuah
kemapanan dan kenyamanan.
Untuk itulah dalam segmen pemikiran yang juga
harus terbangun menyertai bangunan konsep modernitas itu adalah upaya
menghidupkan kembali keyakinan sepiritual dan mengindahkan berbagai pesan
sakralitas segala sesuatu. Bangunan sakralitas atas segala saesuatu yang
dirujuk sebagai komponen modernitas, bermuara atas sebuah keyakinan truth dan
respon atas yang maha Suci the response to the sacred yang tertanam
dalam alpha dan omega
manusia yang tertata dalam suatu keyakinan yang dapat memberi ruang penciptaan
kesempurnaan pemikiran dan kebijaksanaan manusia modern itu.[161]
Sebagai contoh,
ketika sains diasumsikan sebagai sesuatu yang tidak sakral dan tidak dalam
bingkai ketuhanan, maka sains itu akan memberi suatu dorongan yang membahayakan
hidup manusia. Untuk itulah, dia harus
dibingkai dalam koridor sakralitas dan kesucian. Dan apabila sains kehilangan
kesakralannya maka dia akan kehilangan hakikat saintificnya. Dan menurut Nasr,
sains telah terpisah dari manusia, dan akan menjadi sesuatu yang dapat
memabukan dan dapat membuai kemanusian manusia yang pada akhirnya sains dapat
memberi petaka untuk manusia.[162]
Dan dalam poin
tradisionalitas Nasr, tradisi adalah sebuah jalan yang terbagun sebagi landasan
kebijaksanaan seseorang yang hidup dalam konsep modernitas, sehingga taradisi
lebih dari sekedar pengetahuan dan episteminya, namun juga segala sesuatu yang
berangkat dari kerangka fikir yang mengurai kerusakan sistem bangunan
modernitas dan dengan tradisi manusia yang mampu kembali pulang ketika telah
berjalan jauh melanglang buana di area modernitas.[163]
Trdisionalitas
adalah pengandaian terciptanya kebijaksanaan yang sacral the sacred wisdom yang
memberi respon fositif atas laju kembangnya arus mdernitas yang dalam beberapa
sisi dapat merusak alam fikir manusia. Karena tradisionalitas adalah sebuah
bangunan konsep yang darinya bersumber segala sesuatu yang menciptakan kebaikan
dan kearifan, sebab tradisionalitas itu adalah iBarat sebuah pohon yang akarnya
wahyu dari alam Tuhan Devine Nature yang merangkum seluruh cabang dan ranting
kehindupan setiap zaman. Dan akan memberi berkah serta mamfaat bagi siapa saja
yang bernaung dibawahnya. Dan tradisionlaitas adalah sebuah bangunan konsep
pepohonan yang tertanam dalam koridor keyakinan atas yang suci.
Tradition, therefore, is like a tree, the roots of which are sunk
through revelation in the Divine Nature and from which the trunk and branches
have grown over the ages. At the heart of the tree of tradition resides
religion, and its sap consists of that grace or barakah which,
originating with the revelation, makes possible the continuity of the life of
the tree. Tradition implies the sacred, the eternal, the immutable Truth; the
perennial wisdom, as well as the continuous application of its immutable
principles to various conditions of space and time.[164]
Dalam
segmentasi gagasan radisionalitas, Nasr beranggapan kemungkinan manusia kembali
kepada sakralitas yang tertera dalam metaphisika klasik, yang juga disebut
sebagi bangunan tradisionalitas, adalah
bagaimana manusia modern dengan kekuatan filosofi alamnya memahamai sakralitas
dan transesdensi alam ini. Dan baginya satu-satunya jalan yang bisa diambil
sebagai sebuah langkah untuk mewujudkan filsafat alam ini, dengan kembali pada
pembangunan filsafat prenialisme. [165]
Kepercayaan
Nasr, bahwa sebagai akibat dari hilangnya dimensi kebenaran dan
pengakuan manusia atas agama di Barat,
dikombinasikan dengan sikap dan kecerdasan filosofis yang terpisah dari iman, telah terjadi pada setiap diri manusia yang mengklaim
modern. Maka akibatnya menjadi sebuah alasan bercerai berainya akal dan wahyu dan sebagai dampak filsafat di Barat,
selanjutnya, dikembangkan sebagai buah dari penggunaan akal sebagai sebuah
hasil dari penyatuan pengalaman empiris eksternal, yang mengarah ke berbagai
filosofi yang bisa direduksi namun tetap terdapat penyangkalan abadi filsafat
dan metafisika atas tradisionalitas di hati masyrakat Barat yang merupakan buah
dari pemikiran atau keriuhan pemikiran mereka. Disinilah filsafat prennis
diperlukan.
Pengetahuan masyarakat modern telah menjadi
pemisah antara manusia dari kebahagiannya dengan ciri utama
hilangnya kesatuan the unity pengetahuan dan manusia itu sendiri. Pengetahuan telah menjadi hampir sepenuhnya diexternalisasi dan
desacralisasi, terutama bagi mereka yang dengan segmentasi rasial manusia yang telah diubah oleh proses modernisasi, dan bahwa
kebahagiaan yang merupakan buah dari persatuan dengan Yang Satu dan sacral
dalam satu aspek dari proses penghidupan yang suci hampir tidak dapat terjangkau
dengan nalar manusia. Akibatnya adalah, pemahaman
manusia atas dunia
modern yang dengan tanpa mengindahkan sakralitas itu sendiri.
Knowledge has become separated from being and the bliss or ecstasy
which characterizes the union of knowledge and being. Knowledge has become
nearly completely externalized and desacralized, especially among those
segments of the human race which have become transformed by the process of
modernization, and that bliss which is the fruit of union with the One and an
aspect of the perfume of the sacred has become well-nigh unattainable and
beyond the grasp of the vast majority of those who walk upon the earth.[166]
Nasr beranggapan
bahwa manusia Barat modern telah jatuh dan berada diluar batas diri dan berada diluar
eksistensinya. Sehingga, dalam segment
ini masyarakat Barat perlu meniru orang-orang timur dan berbuat
di luar proses
gambaran yang mengantarkan
kejatuhan masyarakatnya kedalam arus
modernitas yang meresahkan itu dengan menpertahankan konsep modernitas dan
dengan kekuatan agama sebagai imunitas budayanya.
Dia melihat kesempatan untuk mengembalikan citra modernitas yang sudah diklaim sebagai dajjal dunia, yaitu dengan mengikuti jejak Timur di mana ajaran tradisi masih tetap utuh dan tidak hancur oleh serangan peradaban modern. Untuk itulah Nasr telah mencoba untuk
membuktikan klaim nya itu dengan beberapa pengandaian, untuk melukiskan gambar peradaban tentang
bangunan ide modernitas dia melihat perkembangan peradaban manusia
modern itu yang menurutnya telah memasuki ruang materialisme dan sekularisme
yang akibatnya gagasan tradisionalitas yang bersumber dari spiritualitas hilang
bersama munculnya materialism itu. Padahal, pada hakikatnya menghidupkan kembali tradisionalitas
bukanlah kehendak untuk menghilangkan unsure-unsur fositif pada dunia modern,
akan tetapi selubung misterius dari virus modernitas yang harus diwaspadai
dengan pola bertahan dengan tradisionalitas yang juga tidak boleh diabaikan dan
akan meberi jalan keselamatan dari hantaman modernitas yang fositifistik itu.[167]
Sebagian Orang menurut Nasr bisa saja mengatakan bahwa dunia tradisional
pada dasarnya jahat, karena ia dapat membelenggu kreatifitas
mansusia, dengan jalan kembali kepada masa lalu. Sehingga konsep waktu yang
dimiliki tidak lebih dari sebuah kemandegan dan pengembalian atas masa lalu
sejrah. Dan modern pada dasarnya kebaikan karena memiliki waktunya yang relevan dengan konsep kekinian
manusia. Akan tetapi, tradisionalitas
dalam pandangan Nasr, pada dasarnya bukan untuk menentang modernitas melainkan
tradisionalitas sebagai bingkai dunia modern dalam rangka menciptakan yang normal dan harmonis. Dan juga bukan bertujuan untuk menghancurkan apa yang menjadi sesuatu
yang positif dari modernitas itu,
akan tetapi untuk menghapus selubung
ilusi yang memungkinkan munculnya sesutu yang tidak nyata, dan negatif sebagai filter
dari kepalsuan modernitas yang telah dibenarkan dalam pandangan modernitas itu
itu sendiri.
Dari titik inilah
pandangan sejarah manusia selama lima abad terakhir adalah anomali atas
bangunan sejarah panjang umat manusia baik di Timur dan Barat. Dan dalam penentangan
atas modernitas adalah membangun kembali prinsip yang
secara tegas
dapat terjangkau manusia modern dimana, pandangan tradisional yang telah melahirkan kemapanan budaya
sebelumnya yang hilang tergerus arus modernitas itu.
Selain itu, tradisionalitas bukanlah sebuah
konsep disintegrasi keyakinan atas sunnah dan al-qur’an. Melainkan ia merupakan
sebuah upaya merangkul seluruh segmen kehidupan ummat Islam dari jeratan ilusi
modernitas yang negative, selain itu ia merupakan filter kerusakan akibat tidak
berlakunya system imunitas etika agama dan mencoba menghilangkan sekat pemisah
yang muncul akibat salah tafsir dari bangunan modernitas itu. Sehingga tradisionalitas
dalam pandangan Nasr lebih kepada sebuah jalan untuk menunjukan konsep wahyu revealation.
2.
Landasan Utama
Tradisionalitas Nasr
Apabila Nasr
berkeyakinan bahwa untuk membangun sebuah kemapanan kebudayaan modern haruslah
merangkul dua sudut pandang dunia sekaligus, yaitu sakralitas dan materialitas,
artinya ada ruang sakralitas dalam diri materialitas yang harus
dipertimbangkan.[168]
Akan tetapi bagi nasr, modern berarti merusak tatanan sakralitas untuk
mengungulkan yang materi, sehingga ruang metafisis dalam fisik tidak bisa
dihadirkan sebagi ruh dan sepirit dari keberaan materi-materi yang ada di
dunia.[169]
Bangunan materialism menurut Nasr kemudia adalah hasil introduksi pemikiran filsafat
Descartes yang beranggapan bahwa manusia adalah pusat segala sesuatu, sehingga
manusia mampu membentuk dan menciptakan diri dan dunianya tampa bantuan
kekuatan manapun.[170]
Cogito ergo sum adalah sebuah diksi materialism Descartes yang dia gunakan
untuk menyerang keyakinan metafisis material dan ruang mistik kemanusian. Dalam
diksinya ini, Descartes berkeyakinan bahwa I think therefore I am saya berfikir lalu saya
ada. Dalam segmentasi pemikrannya ini, mengandaikan terciptanya hukum-hukum
manusia pada setiap ruang kehidupan manusia itu.[171]
Konsep dan
gagasan ini, sedikit demi sedikit menurut Nasr masuk kedalam ruang berfikirnya
manusia modern di Barat terutama. Dan dengan pelan-pelan gagasan
tradisionalitas makin tersingkirkan. Dimana, gagasan tradisionalitas Nasr
merupakan hasil pencarian dari berbagai taradisi filosofis tidak saja dari satu
pandangan keagamaan saja, melainkan juga dari agama-agama. Dalam hal ini, Nasr
melihat bagaimana pada abad pertengahan, filosofi ummat kristiani, yang kemudian
dia sebut sebagai taradisi kristiani, mulai runtuh bersamaan munculnya ide-ide
materialism yang telah dibangun mula-mula oleh berdirinya teori Copernican dan
Galelio.
Selain
itu kecendrungan homosentrisme manusia modern, merubah pandangan manusia atas
alam dan diri kemanusiaanya, sehingga dampaknya pandangan atas keunggulan
manusia melibihi segala sesuatu, terwujud dengan bias materialism yang kemudian
berdampak pula atas sifat-sifat yang berujung atas keserakahan manusia untuk
memenuhi kebutuhan hidup kemanusiaannya itu. Dari sinilah awal mula munculnya
petaka manusia modern, selain adanya konsep pemisahan antara ruang materi dan
immateri. Nasr meyakini, bahwa sesungguhnya dalam diri setiap materi ada ruang
materi yang belum teruraikan oleh manusia modern sehingga materi itu seringkali
kehilangan orientasinya. Apakah materi itu, sains, teknologi dan bahkan agam
itu sendiri.[172]
Untuk itulah
pentingnya gagasan tradisionalitas Nasr yang menyandarkan diri atas al-Qur’an
ingin merangkum dan menegaskan kebenaran keabadian ajaran Islam untuk menjawab
persoalan modern, yang tetntu baginya, sangat membutuhkan bahasa kontemporer
yang dapat dicerna dan diuraikan dengan baik oleh setiap masyarakat, utamanya
yang belum bersentuhan dengan pelajaran tradisionalitas, yang tertuang dalam
kitab-kitab klasik berbahasa arab, yang telah disusun oleh para sarjana Muslim
terdahulu.
BAB V
KESIMPULAN
1.
Modernitas selama kurang lebih dari dua abad
lamanya telah melanda kawasan Islam dan menancapkan kuku peradaban sekularistik
dan materialistiknya dengan merasuki kedalaman spiritualitas Islam dari
berbagai sisi kehidupan pemeluknya. Sehingga dampak realistik yang sangat
terasa adalah semakin terkikisnya identitas keislaman yang juga telah lama dipertahankan,
dan Islam mengalami keruntuhan bangunan sebuah peradaban yang unggul, kuat dan
mendominasi setidaknya, dari tahun 661 masa awal pemerintahan bani Umayyah dan
berakhir pada pemerintahan bani Abbasiyah pada tahun 1258.[173]
Dan ummat Islam lambat laun menjadi sekelompok orang yang telah kehilangan jati
dirinya sebagai ummat yang dulu pernah mencapai puncak kejayaannya ketika ummat
lain lemah dan tidak berdaya. Sehingga modernitas dalam segmentasi kehidupan
kini, menjadi ancaman yang serius bagi kemapanan peradaban Islam ini.
2.
Seiring dengan memudarnya jati diri keislaman
dan mulai runtuhnya bangunan peradaban
Islam, hal ini juga bersamaan dengan proses interaksi ummat Islam dengan
peradaban modern ini yang sebagian besar terjadi dalam lingkungan dengan
krakter lokalitasnya yang telah membentuk sebuah tradisi tertentu yang sudah
mapan, namun pengaruh modernitas sekalipun dalam konteks local ummat Islam ini,
mampu meruntuhkan tatanan tradisi dan
dampaknya adalah ummat islam ini, menjadi seorang yang asing dalam
lingkungannya. Sementara yang lain berhadapan langsung dengan modernitas dengan
pergi ke Negara-negara Barat, Eropa dengan berbagai cara, apakah pendidikan,
bisnis dan atau dengan sekedar menikmati suasana gelamoritas materialisik yang
berhasil kemudian, merubah pandangannya atas dunia dan bahkan agamanya.
Disinilah pentingnya ummat Islam hari ini untuk memikirkan ulang kondisi
eksistensinya sebagai sebuah komonitas yang memiliki pegangan yang kuat untuk
membangun dunia yang bersumber dari dua sumber utama wahyu dan hadis.
Harapannya adalah Islam dapat diartikulasikan ditengah-tengah perubahan zaman
sehingga ia tidak usang sekalipun peradaban materialistic Barat menyerang dar
al- Islam itu.
3.
Untuk itulah dalam gagasan tradisionalitasnya,
Nasr mengandaikan terciptanya sebuah dunia yang progresif untuk menghadirkan sebuah
kesadaran tertinggi dan pemikiran atas yang Absolut dan Mutlak. Maka kritik
modernitas Nasr berakar atas tradisionalitas dimana, hiruk pikuk pemikiran manusia modern dengan
segenap potensi materialistiknya telah memberikan ruang kealfaan atas kesadaran
manusia modern itu atas yang sacral. Sehingga wujud materi dan anggapan atas
segala sesuatu yang tertera di alam adalah sesuatu yang profane dan tidak
terkait dengan sesuatu yang spiritual. Disinilah Nasr yakin bahwa manusia
modern harus hidup dengan gagasan ide filosofi prenialnya yang menyambungkan
segala sesuatu kealam yang sacral. Kebaikan modernitas menurut Nasr ternodai
atas proses keyakinan manusia yang tidak menghiraukan segala sesuatu yang
sacral, yang darinya mala petaka terjadi dalam kehidupan manusia modern,
sehingga krisis ekologi, lingkungan dan krisis kemanusian modern juga terjadi
yang akibatnya modernitas itu merupakan sebuah kecendrungan berfikir manusia
untuk melihat segala sesuatu dalam ruang permukaan yang sebenarnya semu.
Maka,
Nasr pun tidak pernah lelah ingin mengembalikan manusia modern kepada sesuatu yang
sacral dan menyelamatkannya dari anasir kerusakan modernitas akibat gagasan
materialismenye orang-orang modern ini. Wlaupun proyek pembangunan ide
tradisionalitas di tengah-tengah modernitas Nasr belum usai dan masih mencari
momentum dimana kesadaran manusia terbangun untuk tidak mengabaikan sesuatu
yang sacral dalam setiap pemahaman atas yang metrial itu.
BIBLIOGRAFI
Adam, Charles.
J. The Autority of Propetthic Hadis
in the Ayes of some Modernism Muslim. English: Oxford University Press, 1981.
Brown, Daniel. Rethinking
Tradition in Modern Islamic Thought. England: Cambridge university press,
1996.
Bugin, Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif:
Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003.
Butler,
Christopher. Postmodernism a Very
Short Introduction. English: Oxpord University
Press.
Calark, JJ. The Enlighten of Modernity. New York: Columbia
University Press 2009.
Cilliers,
Paul. Complexity and postmodernism Understanding complex systems. New York: Routledge Publisher, 1998.
Dema, Sunarwoto. Islam Agama Sekuler Penelusuran agama-agama
sekuler dunia. Terj. Jogjakarta:
Blukar Budaya, 2003.
Daftari, Farhad. Intlectual Traditions in Islam. London: Tauris,
2001.
Hadi, Aryanto. Atlas dan Peta Dunia dalam Juklak Pembelajaran
Geografi Tingkat SMA. Surabaya:
Bina Ilmu, 1996.
Hahn, E. Lewis. ed. et al. The
Philosophy Seyyed Hossein Nasr. Chicago: The Library of Living Philosopher
, 2001.
Hadi,
Sutrisno. Metodology Research, Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, Holes, Clive Dialect
Culture And Society In Eastern
Arabia. Leiden: Brill, 2005.
Hitty, K. Phylip. History of the Arab from the Earliest time to
present. New York: palgrave
Macmillan, 1970.
Holes, Clive. Dialect Culture and Society in eastern Arabia
Netherlands. Library of Congress, 2005.
Heriyanto, Husain. Pemetaan hubungan sains dan agama dalam
perspektif kemanusian.
Makalah dalam workshop agama dan sain di malang 12-16 Agustus 2003.
Hartono, Dick. Orientasi di Alam Filsafat. terj.
Jakarta: Gramedia Press, 1980.
John, Voll, Obert. Eighteenth Century Renewal and Reform in
Islam. New York: Syracus University
Press 1987.
Khiabany, Gholam. Iranian Media The Paradox of Modernity. New York: Routledge
2010.
Lafrai, Najibullah. Revolutionary Ideology and Islamic Militancy
the Iranian Revolution and
Interpretetion of the Qur’an. New
York: Routledge 2009.
Moleong, J. Lexy. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosda, 2005.
May, Todd. The Moral Theory of
Poststructuralism. The Pennsylvania State University Press University Park, Permsylvania 1955.
Nasr, Seyyed Hossein. The Essential. Canada: World Wisdom, 2007.
---------.The
Pilight of Modern Man. New York:
Sunny Press, 1989.
--------. Man and Nature the Spiritual Crisis of Modern
Man. New York: Sunny Press
1998/
--------. The plight of
Modern Man. New York: Sunny Press,
1989.
--------. Knowledge and the sacred. New York: Sunny press 1997.
--------. Traditional Islam in The Modern World. New York:
Columbia University
Press 1997.
--------. In Search of Sacred. USA: Praeger, 2010.
-------. The Heart Of Islam Enduring Values For Humanity. USA: Sunny Press 1981.
-------. Islamic Life and Thought, USA: State
University of New York 1981.
Nawawi, Hadari. Metode penelitian sosial. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1985.
Noerlambang, A. Herbhayu. fundamintalisme pertautan sikap
keberagaman dan modernitas. terj.
Jakarta: Erlangga, 2003.
Quasem, Abul. The Ethics of al-Ghazali; A Composite Ethics in
Islam. Selangor: Petaling Jaya, 1975.
RJ, Hollingdel. Twilight of Idol
and The anti Christ. New York: Pinguin Books,
1968.
Robbie, Mc. Angela. Shut up and Dance: Youth Culture in
Postmodernsm. London:
Micmillan, 1991.
______,. Post Modernism
and Popular Culture. London: routledge, 1994.
Sardar, Zia>udin. A Islam
and Posmodernism and Other Futures. London: 2003.
Santoso, Listiyono dkk. Epistimologi Kiri. Jogjakarta:
Ar-ruzz Media, 2007.
Wahono, Arif. Dunia Timur-Tengah dalam Percaturan Politik
Barat-Eropa Yogyakarta: PT.
Kartika Press, 1996.
Wibowo, Arif. Menalar Arus Modernitas Belahan Dunia Barat. Jakarta:
Bina Setia, 1998.
Zahro, Ahmad. Tradisi Intelektual NU . Yogjakarta : LKiS, 2004.
[1] Seyyed Hossein Nasr, The
Essential (Canada: World Wisdom, 2007), 43.
[2] Fazlurrahman, Islam and
Scularism as Muslim Mind Set (Lahore: Maso>diq Publication, 1981), 12.
Dalam hal ini fazlurrahman berkeyakinan bahwa tatanan kemapanan peradaban
dibangun atas dasar keimanan yang kuat dikalangan para shabat dan nabi sendiri,
ketika melakukan berbagai futuha>t diberbagai kota penaklukan. Dia juga
memaknai keimanan adalah sebagai salah satu pilar utama atas kekuatan, dan
tetntu saja iman itu dalam segmentasi pemikiran rahman adalah pembentukan rasa
percaya diri dan memiliki krakter khas tegas dan berani. Inilah yang menurytnya
telah hilang dari kalangan ummat Islam diera modern.
[3]
Menyebut modernitas sebagai bentuk gerakan gelombang melebihi dari sekedar
keyakinan atas tatanan yang melahirkan kemaslahatan dan keharmonisan manusia. Nasr membedakan antara
modernitas dan modernisme, dimana modernism adalah sebuah keyakinan manusia
atas seting kebudayaan tertentu.
[4] A. Jainuri dan Syafiq Mughni, Islam
dan Dunia Modern (Surabaya: Usana Ofset Printing, 1998), 40.
[5] Mehdi Agita Hidayat, Pengantar ke Post-strukturalism dan Post-modernism, terjemahan (Jogjakarta:
Jalasutra, 2011), 141.
[6] Seyyed Hossein Nasr, The
Pilight of Modern Man (New York: Sunny Press, 1989), 18.
[7] Seyyed Hossein Nasr, Man and
Nature the Spiritual Crisis of Modern Man (New York: Sunny Press,
1998), 19.
[8] Dalam The Plight of Modern
Man, Nasr menguraikan betatpun manusia memiliki ruang pluralitas pemahaman
atas agama maka konsep ketuhanan haruslah tetap merupakan sebuah wujud
pengakuan atas realitas mutlak yang tertinggi, maha mengatur dan memberi
petunjuk kehidupan dan dapat menjadi barometer utama untuk menciptakan konsep
jenis kehidupan apapun
[9] Nasr, The plight of Modern Man, 78.
[11] Ali M Ansari, Supremasi Iran Poros Setan Atau Supremasi
Baru terjemahan (Jakarta: Azahro,
2008), 76.
[12] William
C. Chittick, The Conversation
on Seyyed Hossein Nasr thought (London: world Wisdom, 2007), 16.
[13] Syamsul Huda, Alam Dan
Manusia Gagasan Filsafat Natural Seyyed Hossein Nasr (Tesis UIN Sunan
Kalijaga, 2000), 34.
[14] Seyyed Hoseien Nasr, Man and
Nature The Spritual crisis of Modern Man (London: Unwin Paperback, 1990),
17.
[15] Hadari Nawawi. Metode penelitian
sosial (Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1985), h. 63.
[16] Sutrisno Hadi, Metodology
research (Yogyakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Gajah Mada, 1987), 12.
[17] Lexy J. Moleong, Metodologi
penelitian kualitatif (Bandung:
Remaja Rosda, 2005 ), 267.
[18]
Burhan Bugin, Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan
Metodologis ke arah Penguasaan Model Aplikasi (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2003), 214.
[23] Barat terutama Amerika, terdiri
dari daerah yang bersalju dan memiliki struktur alam yang bersinggungan dengan
katulistiwa pada bujur sangkar bumi yang kemiringannya terletak pada sisi 90
derajat celcius. Sehingga biasanya dalam analisis peta kekayaan alam biasanya
posisi letak daerah geografis seperti ini tidaklah seproduktif Negara yang
garis bujur sangkarya tepat berada pada garis katulistiwa. Yang juga akan
mengahisilkan daerah yang tropis dengan corak hujuan normal.
[24] Najibullah Lafrai, Revolutionary
Ideology and Islamic Militancy the Iranian Revolution and Interpretetion of the
Qur’an (New York: Routledge 2009), xii.
[25] Ayatullah Khomaini, menjadi
orang yang kemudian bersebrangan pendapat dengan konsep bangunan demokraasi
yang salah satunya dipelopori oleh ayahnya Nasr dikemudian hari. Sehingga
ketika resesi gelombang revolusi Iran pada tahun 1979 Nasr terpaksa lari ke
Ingris untuk menghindari kejaran kelompok Islam garis keras yang di pelopori
Ayatullah Khomaini ini.
[27]Arif Wahono, Dunia
Timur-Tengah dalam Percaturan Politik Barat-Eropa (Yogyakarta: PT. Kartika
Press, 1996), 32.
[28]Aryanto Hadi Atlas dan Peta
Dunia dalam Juklak Pembelajaran Geografi Tingkat SMA (Surabaya: Bina Ilmu,
1996), 117.
[29] Ibid., 119
[31]
Ibid., 50.
[32] Lewis E. Hahn, The
Phyilosophy Seyyed Hossein The library of Living Philosopher Volume.
XXVIII,(London: Roughtlok, 1998), 5.
[33] Dalam sebuah wawancara dengan
William C. Chitick dalam an intlectual biography of Nasr yang dimana dia
menguraikan resensi politik yang berujung atas perubahan besar pada masyarakat
Iran, dan Iran dalam kurun waktu tertentu mampu menjadi masayrakat yang Automic
power. Sehingga gagasan modernism yang menyimmpang bergulir menyertai hasrat
penguasa yang hegemoni atas rakyatnya
[34] Pada tahun-tahun berikutnya
ketika Nasr telah menyelasiakan desertasi doktoralnya dengan melihat pola hidup
Barat Nasr pun manulis buku yang menjelaskan bagaimana manusia Barat bertarung
berebut kuasa atas alam. Sehingga alam bagi masyarakat Barat tidak ubahnya
objek yang dikembangkan bukan dipelihara. Kajiannya ini ditulis dengan judul Man
and Nature: the Spritual Crisis of Modern Man.
[35] Seyyed Hossein Nasr, In the serch of the Secred (USA: Santa Barbara, 2010), h. 14.
[36] Ibid.,15.
[37] Ibid.,17.
[38]
Ibid., 30.
[39] Dalam hal ini, menurut Nasr
merupakan sebuah anomaly Barat atas kependudukan imperialnya di Iran dan
mencoba membangun pola pencitraan atas pandangan modern dengan bentuk perubahan
atas teknologinya, dan dengan demikian maka Nasr pun beranggapan bahwa sejak
sat itu kira-kira th. 1941-1943, dimana Nasr kecil sangat menikmati betul
perubahan dalam teknologi ini yang juga merubah pola kehidupannya.
[40] Ibid., 36.
[41] Agama sebagaimana sebuah
hegemoni yang melahirkan pandangan sektarian dan pluralitas yang mengusung
ide-ide aristokratik, telah menghilangkan dimensi batin agama itu sendiri. Maka
pandangan masyarakat Iran yang aritokratik mampu mengkooptasi kehidupan sosial
dengan kekuatan agama yang lagi-lagi bernada hegemoni atas manusia dan alam
seluruhnya.
[42] Nasr, In the serch of The sacred, 13.
[43] Nasr, In the serch ofof the Sacred, 6.
[44]Ibid., 30.
[45] Ibid., 31.
[46] Nasr, Man
and Nature The Spritual crisis of Modern Man, 17.
[47] Ansari Comfronting
Iran, 106.
[48] Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the sacred, (New York:
Sunny press 1997), 37
[49] Seyyed Hossein
Nasr, Traditional Islam in The Modern
World (New York: Columbia University Press 1997),13.
[50] Al-Qura>n, 41 (Fushshilat):
9-11.
[51] Arif Wibowo, Menalar Arus
Modernitas Belahan Dunia Barat Studi Konten Analisis Gaya Hidup Popular Amerika
(Jakarta: Bina Pelajar, 1996), 78.
[52] Nasr, Man and Nature The
Spritual crisis of Modern Man, 23
[53] Ibid., 26.
[54] Ibid., 26.
[55] Ibid., 3.
[56] Ibid., 32.
[57] Nasr, In the serch of the Sacred,
32.
[58] Ibid., 23.
[59] Ibid., 39.
[60] Ibid., 13.
[61] Seorang ahli sejarah sastra
arab dan budaya agama-agama Timur tengah dan juga ahli ilmu perbandingan
agama-agama klasik
[62] Nasr, Man and Naturethe Spritual Crisis of Modern Man, 36.
[63] Nasr, In the serch of the Sacred, 15.
[64] Nasr, Man and Nature The
Spritual crisis of Modern Man, 47.
[65] Nasr, In the serch of the Sacred, 95.
[66] Nasr, In Serch of the Secred,
81.
[67] Ibid., 80.
[68] Ibid., 24
[69] Ibid,. 105.
[70] Seorang sufi Persia yang focus
atas persoalan tradisionalitas dan filsuf yang membuat buku kritik al-qur’an
yang terdiri dari 27 volume. Dia bersama Nasr dan Corbin ahli filsafat Islam
dari Francis mengkaji tradisionalitas dan system tasawuf klasik seperti kajian
sufisme Zuhrawardi dan Mulla Sadra.
[71] Nasr, In serch of the Secred,. 186.
[72] Ibid., 183.
[73] Nasr, In the serch of the Secred, 184.
[74] Ibid., 185.
[75] Ibid.,186.
[76]
Nasr ke Amerika untuk yang kedua karena proses gelombang resesi politik
Iran mengancam nyawanya karena pada bulan Februari 1979 Iran bergolak revolusi
terjadi dan meletus dimana-mana yang dipimpin oleh Ayatullah Homaini, dinasti
Syah tumbang.
[77] Dalam kesempatan lain, Nasr
meyakini bahwa hakikat pertarungan manusia modern dengan ide-ide humanism
rasonalisme ini adalah bagai mana sesungguhnya dia bisa menerapkan ajaran Islam
yang bersumber dari al-Qur’an dan mengurai ide-ide modernitas kedalam tindakan
mereka yang modern ini dengan landasan tradisionalitas Islami.
[78] Nasr, In t serch of the Secred,181.
[79] Ibid., 182.
[80] Ibid., 181.
[81] Jainuri dan Mughni, Islam
dan Modernisme, 27.
[82] Nasr, In the serch of the Secred,180.
[83] Jainuri dan Mughni, Islam
dan Modernisme, 29.
[84] Nasr, In the serch of the Secred, 180.
[85] Ibid., 186.
[86] William Chittick, the conversation
on Nasr Life and Thought, (New York: Sunny Press, 2005), Xxi.
[87] Herbhayu A. Noerlambang, fundamintalisme
pertautan sikap keberagaman dan modernitas. terjemahan (Jakarta:
Erlangga, 2003), 23.
[88] Clive
Holes, Dialect
Culture and Society in eastern Arabia (Netherlands:
Library of Congress, 2005), 76.
[89] Herbhayu A. Noerlambang, fundamintalisme
pertautan sikap keberagaman dan modernitas. terj., (Jakarta:
Erlangga,2003), 27 .
[90] Nasr, Man and Nature the Spritual
Crisis of Modern Man, 3.
[91] JJ. Calark, The Enlighten of
Modernity (New York: Columbia
University Press, 2009), 43.
[92] JJ. Calark, The Oriental
Study (New York: Sunny Press, 1997),
50.
[93] Christopher Butler, Postmodernism
A Very Short Introduction (English: Oxpord University Press), 1-5.
[96] Kuntowijoyo, Mesjid Atau
Budaya Pasar: Akar ketegangan Budaya Dimasa Pembangunan dalam Budaya dan
Masyrakat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1987), h. 100.
[97] Fran Wahono Nitiprawiro, Teologi
pembebasan (Yogyakarta: LKiS
2008), Viii.
[98] Paul Cilliers, Complexity and
postmodernism Understanding complex systems (New York: Routledge Publisher, 1998), 3.
[99] Todd May TheMoral Theory of Poststructuralism ( The Pennsylvania State University Press University Park,
Permsylvania 1955), 15.
[101] JJ. Clarck, The Enghlighten
of Modernism In Chrishtion world (England: Oxpord University Press, 1989),
67-69. Dalam hal ini Clarck menguraikan bahwa dampak dari hegemoni greja abad
pertengahan masyarakat Barat Kristen menjadi sangat terbelakang dan mereka
mengandaikan terciptanya dinamika kehidupan sosial yang rasional dan
progressif. Sehingga dampaknya greja dianggap mengkungkung kreatifitas manusia
dan tidak memberikan ruang produktif untuk bertindak atas nama kemanusiannya.
[102] Listiyono Santoso,ed.
Epistimologi Kiri (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2007), 70.
[104] Nasr, Man and Nature the
Spritual Crisis of Modern Man, 17.
[108] Kuntowijoyo, Mesjid Atau
Budaya Pasar: Aka, 105.
[109] Phylip K Hitty, History of
the Arabfrom the Earliest time to present ,(New York:palgrave Macmillan, 1970),
127.
[110] Charles J Adam, The Autority
of Propetthic Hadis in the Ayes of some Modernism Muslim, (English: Oxpord
University Press, 1981), 76.
[111] Daniel Brown, Rethinking
Tradition in Modern Islamic Thought, (Cambridge university press, 1996), 2.
[112] Daniel Brown, Rethinking
Tradition in Modern Islam, 6.
[113] Ibid., 7.
[114] Ibid., 10.
[115]Sunarwoto Dema, Islam Agama
Sekuler Penelusuran agama-agama sekuler dunia. Terjemahan (Jogjakarta:
Blukar Budaya, 2003), 3.
[116] Abul Quasem, The Ethics of
al-Ghazali; A Composite Ethics in Islam, (Selangor: Petaling Jaya, 1975),
42.
[117] Kalim kebenaran tindakan dalam
konsep modernitas adalah tindakan atas nama agama dengan sekehndak hati
melakukan pengrusakan dan kekerasan juga atas nama agma. Kebenaran tindakan ini
dipandang bersumber dari agam islam dengan berbagai tujuan yang berbeda-beda
[118] Husain Heriyanto, “Pemetaan hubungan sains dan agama dalam
perspektif kemanusian”. Makalah dalam workshop agama dan sain di malang
(12-16 Agustus 2003), 19.
[119] Dick Hartono, Orientasi
dialam filsafat terjemahan (Jakarta: Gramedia Press, 1980) , 17.
[120] A Zia>udin Sardar Islam
and Posmodernism and Other Futures (London: Cambridge, 2003), 40.
[121] Ibid., 53.
[122] John Obert Voll, Eighteenth
Century Renewal and Reform in Islam (New York: Syracus University Press
1987), 7-8.
[123] Ibid., 8.
[124] Sardar, Islam and Posmodernism
and Other Futures, 35.
[125] Kunto Wijoyo, Sejarah
Peradaban Dunia Perspektif Teologis (Jakarta: Mizan 1999), 34.
[126] Ibid,. 36.
[127] Kuntowijoyo, Sejarah
Peradaban Dunia Perspektif, 60.
[128] Obert Voll, Eighteenth
Century Renewal and Reform in Islam, 12.
[129] Ibid,. 23.
[130] Nasr, In Search of the Sacred, 70.
[131] Stave Bruce menguraikan bahwa
dasar-dasar modernitas yang dibangun diBarat adalah sebuah tuntutan bagi
sekelompok orang yang jalan hidupnya dihegemoni kekuasaan. Sehingga dalam
segmen kehidupan orang-orang kulit putih merasa bertanggung jawab untuk membangun
dan menyelamatkan kebudaan ras-ras bangsa yang lain dari cengkraman kekuasaan.
[132] Seyyed Hossein Nasr, In Search
of………………ibid. h. 85
[133] Ibid., 96.
[134] Ibid.,102.
[135] Angelina Mc Robbie, post
modernism and popular culture (London: routledge, 1994), 63
[136] Ibid., 70.
[137] Jean Fracois Lyotard, The
Report on Knowledge (New York: Harvard University Press), 49.
[138] Nasr, Man and Nature The
Spritual Crisis of Modern Man, 50.
[139] Wibowo Menalar Arus
Modernitas Belahan Dunia Barat, 78.
[140] Nasr, Man and Nature The
Spritual Crisis of Modern Man, 30.
[141] Ibid., 40.
[142] Ibid., 28
[143] Ibid., 26
[144] The philosophy Seyyed Hossein
Nasr, edited by Lewis Edwin Hahn, Randal E. Auxers, Lucian W. Stone, Jr.
(Chicago The Library of Living Philosopher, 2001), 170.
[145] Ibid., 178.
[146] Nasr, Man and Nature The
Spritual Crisis of Modern Man, 180.
[147] Ibid., 90.
[148] Seyyed Hossein Nasr, Traditional
Islam in The Modern World, (New York: Columbia University Press, 1990),
75-76.
[149] Hollingdel. RJ, Twilight of
Idol and The anti Christ (New York:Pinguin Books,1968), 535.
[150] Nasr, in Search of Sacred, 31.
[151] Jacqueline
M. Moore. At all. To Ask for an Equal Chance The African Americans in the Great Depression (USA: Littlefield Publisher, 2009), h. 32. Dalam hal ini
Jacqueline yakin bahwa pembersihan ras kulit putih terjadi akbat arus
modernitas. “African Americans, freed from bondage but subject
to segregation, discrimination, and violence, had nevertheless managed to find
a foothold in the American economy and civic life by the 1920s. Black farmers
tilled the soil, black teachers educated the children. Some who labored
succeeded in joining existing trade unions; others formed their own. Black
property and business
ownership
grew steadily. But this become different when enourmous life of modernity
accure to this element of society,
however, all life become swipt by dominated one”.
[152] RJ, Twilight of Idol and The
anti Christ, 176.
[153] Nasr, In Search ofSacred, 40.
[154] Nasr, Man and Nature The
Spritual Crisis of Modern Man, 32.
[155] Ibid., 42.
[156] The philosophy Seyyed Hossein
Nasr, 107.
[157] Robbie, Shut up and Dance: Youth Culture in Postmodernsm, 16-35.
[158] Ibid.,32.
[159] Dalam bukunya The philosophy
Seyyed Hossein Nasr, edited by Lewis Edwin Hahn, Randal E. Auxers, Lucian W.
Nasr menguraikan bahwa Devine of Nature adalah keyakinan ketuhanan yang
melintasi berbagai ruanng symbol-simbol agama, dimana hakikat pemahaman tuhan
adalah sebagai yang kosmis. Dan kosmoslah titah dari ketuhanan, sehingga dia
Divine of natural of everythings.
[160] Seyyed Hossein Nasr, Traditional Islam in The Modern World,
(New York: Columbia University Press 1987), 12.
[161] The philosophy of Seyyed
Hossein Nasr, 254.
[162] Nasr, Traditional Islam in The Modern World, 14.
[163] Ibid., 23.
[164] Nasr, Tradisional Islam in
the Modern World, 13.
[165] Ibid., 15.
[166] Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and The Sacred, (Albany: State University of New York
Press), 1.
[167] Nasr, Knowledge and The Sacred,
30.
[168] Nasr, Knowledge and The Sacred,
30.
[169] Nasr, In Search ofSacred,
184.
[170] Ibid. 180.
[171] Ibid., 185.
[172] Seyyed Hossein Nasr, In
Search of …………. Ibid. h. 185
[173] Farhad Daftari , Intlectual
Traditions in Islam, (London: Tauris 2001), 27.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar