Kita tidak dapat
membawa damai tanpa kasih terhadap Allah dan manusia
Menuju sebuah perdamayan kita sangat menbutuhkan yang namanya perdamayan, karena di Indonesia tidak pernah ada yang namanya perdamayan,karena itu indonesia selalu terjadi yang namanya konflik, samapai kapan Negara kita ini terbebas denngan masalah.
Seorang pembawa damai harus memiliki hubungan yang baik dengan
kedua pihak. Tidak ada orang yang akan menerima kalian sebagai mediator
(perantara) jika kalian tidak memiliki hubungan yang baik dengan kedua
pihak. Ini merupakan syarat yang paling penting: seorang mediator, atau
pembawa damai memiliki hubungan yang baik dengan kedua pihak. Tetapi
lebih dari itu, dia bukan saja harus memiliki hubungan yang baik, dia
juga harus mengasihi kedua pihak. Mengapa anda ingin membawa damai di
antara dua orang? Mengapa mengambil risiko melakukannya? Membawa damai
adalah pekerjaan yang paling merbahaya. Mungkin sekali anda dikritik
oleh kedua pihak. Anda mungkin saja ditembak oleh kedua pihak. Hal
tersebut sering terjadi kepada para mediator - merekalah orang-orang
yang sering ditengking oleh kedua pihak dalam usaha mereka untuk membawa
damai kepada kedua pihak. Lihatlah apa yang terjadi kepada Carter. Dia
berusaha untuk memperdamaikan orang Arab dan orang Yahudi dan akhirnya
dia dimarahi oleh kedua pihak. Dia masih berharap usahanya akan
membuahkan hasil. Sebenarnya sangat sulit karena sementara anda membawa
damai, satu pihak akan berkata, "Kamu berpihak kepada mereka." Jika anda
berunding dengan pihak Arab, pihak Yahudi akan menuduh anda berpihak
kepada Arab. Jika anda berunding dengan pihak Yahudi, pihak Arab akan
menuduh anda berpihak kepada Yahudi. Jadi di mana dia? Terperangkap di
tengah-tengah. Hanya kasih yang sejati dapat menjadikan kita pembawa
damai yang ikhlas.
Catatkan prinsip rohani yang timbul dari sini. Anda tidak dapat menjadi
seorang pembawa damai menurut pengertian Tuhan kecuali anda benar-benar
mengasihi Allah dan benar-benar mengasihi manusia, dan karena itu anda
berhasrat untuk mendamaikan keduanya. Ini merupakan sesuatu yang sangat
sulit. Ini menunjukkan betapa tingginya panggilan kita sebagai pembawa
damai. Membawa damai tidak segampang mengibarkan sepanduk dan berarak
di jalan. Kita dapat melakukan semua itu demi kepentingan politik.
Tidak segampang berdiri di situ dan membuat pidato politik. Ia harus
lahir dari kasih yang sejati terhadap Allah dan terhadap manusia.
Mengasihi Allah - dapatkah kita mengatakan bahwa kita benar-benar
mengasihi Allah sehingga kita rindu untuk menjadi seorang pembawa damai,
untuk memperdamaikan Allah dan manusia? Dapatkah kita mengatakan bahwa
kita sungguh-sungguh mengasihi manusia sehingga kita ingin menjadi
seorang yang membawa damai? Pikirkan saja konflik pribadi anda sejenak,
andaikata anda menganggap hal tersebut mudah. Pikirkan saja hubungan
anda dengan kawan sekamar, hubungan anda dengan orangtua,
sahabat-sahabat; atau kita kembali kepada hubungan antara suami dan
istri, atau dengan anak-anak. Membawa damai - ah, betapa sulitnya. Kita
bisa melihat bahwa kasih terhadap Allah dan terhadap manusia seperti
itu harus datang dari regenerasi (kelahiran kembali). Roma 5:5
mengatakan, "......kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita."
Tanpa kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita terlebih dulu, semua
yang telah kita bahaskan tadi tentang membawa damai adalah mustahil. Ia
tidak dapat dilakukan. Ia adalah satu mimpi kosong - kecuali jika kita
diubahkan. Saya telah menekankan hal ini berulang-ulang kali, bahwa
keselamatan bergantung kepada suatu transformasi yang terjadi kepada
diri kita. Dapatkah anda mengatakan bahwa anda telah diubahkan
sedemikian rupa sehingga anda mengasihi Allah dengan segenap hati dan
mengasihi manusia, meskipun dia adalah musuh anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar