Rabu, 09 Mei 2012

Kita tidak dapat membawa damai tanpa kasih terhadap Allah dan manusia

Kita tidak dapat membawa damai tanpa kasih terhadap Allah dan manusia
Menuju sebuah perdamayan kita sangat menbutuhkan yang namanya perdamayan, karena di Indonesia tidak pernah ada yang namanya perdamayan,karena itu indonesia selalu terjadi yang namanya konflik, samapai kapan Negara kita ini terbebas denngan masalah.
Seorang pembawa damai harus memiliki hubungan yang baik dengan kedua pihak. Tidak ada orang yang akan menerima kalian sebagai mediator (perantara) jika kalian tidak memiliki hubungan yang baik dengan kedua pihak. Ini merupakan syarat yang paling penting: seorang mediator, atau pembawa damai  memiliki hubungan yang baik dengan kedua pihak. Tetapi lebih dari itu, dia bukan saja harus memiliki hubungan yang baik, dia juga harus mengasihi kedua pihak. Mengapa anda ingin membawa damai di antara dua orang? Mengapa mengambil risiko melakukannya? Membawa damai adalah pekerjaan yang paling merbahaya. Mungkin sekali anda dikritik oleh kedua pihak. Anda mungkin saja ditembak oleh kedua pihak. Hal tersebut sering terjadi kepada para mediator - merekalah orang-orang yang sering ditengking oleh kedua pihak dalam usaha mereka untuk membawa damai kepada kedua pihak. Lihatlah apa yang terjadi kepada Carter. Dia berusaha untuk memperdamaikan orang Arab dan orang Yahudi dan akhirnya dia dimarahi oleh kedua pihak. Dia masih berharap usahanya akan membuahkan hasil. Sebenarnya sangat sulit karena sementara anda membawa damai, satu pihak akan berkata, "Kamu berpihak kepada mereka." Jika anda berunding dengan pihak Arab, pihak Yahudi akan menuduh anda berpihak kepada Arab. Jika anda berunding dengan pihak Yahudi, pihak Arab akan menuduh anda berpihak kepada Yahudi. Jadi di mana dia? Terperangkap di tengah-tengah. Hanya kasih yang sejati dapat  menjadikan kita pembawa damai yang ikhlas.
Catatkan prinsip rohani yang timbul dari sini. Anda tidak dapat menjadi seorang pembawa damai menurut pengertian Tuhan kecuali anda benar-benar mengasihi Allah dan benar-benar mengasihi manusia, dan karena itu anda berhasrat untuk mendamaikan keduanya. Ini merupakan sesuatu yang sangat sulit. Ini menunjukkan betapa tingginya panggilan kita sebagai pembawa damai. Membawa damai tidak segampang mengibarkan sepanduk dan berarak di  jalan. Kita dapat melakukan semua itu demi kepentingan politik. Tidak segampang berdiri di situ dan membuat pidato politik. Ia harus lahir dari kasih yang sejati terhadap Allah dan terhadap manusia. Mengasihi Allah - dapatkah kita mengatakan bahwa kita benar-benar mengasihi Allah sehingga kita rindu untuk menjadi seorang pembawa damai, untuk memperdamaikan Allah dan manusia? Dapatkah kita mengatakan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi manusia sehingga kita ingin menjadi seorang yang membawa damai? Pikirkan saja konflik pribadi anda sejenak, andaikata anda menganggap hal tersebut mudah. Pikirkan saja hubungan anda dengan kawan sekamar, hubungan anda dengan orangtua, sahabat-sahabat; atau kita kembali kepada hubungan antara suami dan istri, atau dengan anak-anak. Membawa damai - ah, betapa sulitnya. Kita bisa melihat bahwa  kasih terhadap Allah dan terhadap manusia seperti itu harus datang dari regenerasi (kelahiran kembali). Roma 5:5 mengatakan, "......kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita." Tanpa kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita terlebih dulu, semua yang telah kita bahaskan tadi tentang membawa damai adalah mustahil. Ia tidak dapat dilakukan. Ia adalah satu mimpi kosong - kecuali jika kita diubahkan.  Saya telah menekankan  hal ini berulang-ulang kali, bahwa keselamatan bergantung kepada suatu transformasi yang terjadi kepada diri kita. Dapatkah anda mengatakan bahwa anda telah diubahkan sedemikian rupa sehingga anda mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi manusia, meskipun dia adalah musuh anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar