Rabu, 16 Mei 2012

psikology


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu konsep yang selalu ditekankan negara terhadap masyarakat adalah anak sebagai generasi muda calon penerus bangsa. Generasi bangsa yang berkualitas adalah mereka yang memiliki kompetensi baik untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Oleh karena  itu mereka membutuhkan pendidikan baik secara formal atau informal termasuk mereka yang memiliki ketunaan atau penyandang cacat untuk mencapai prestasi dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Pada kenyataannya, kita melihat bahwa tidak semua manusia yang ada di dunia ini terlahir sebagai manusia normal. Ada yang sejak lahir mengalami kecacatan atau pada masa perkembangan mengalami kecacatan atau ketunaan. Ketidaksempurnaan ini menjadi masalah bagi orang-orang yang mengalaminya.
Menurut Survey Sosial Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa penyandang cacat sebanyak 1.492.080 orang dan 197.080 adalah cacat netra. Dari total penyandang cacat netra tersebut hanya 1% saja atau 2.046 dari total 197.080 orang belajar di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB) dan pendidikan terpadu (www.mitranetra.com).
   1
 
Indra penglihatan adalah sumber informasi yang vital bagi manusia, karena sebagian besar informasi berasal dari visual. Bila seseorang mengalami gangguan penglihatan, maka kemampuan aktifitasnya menjadi sangat terbatas karena informasi yang diperoleh jauh berkurang dari orang normal. Hal ini jika tidak ditangani akan menimbulkan kendala psikologis, seperti perasaan inferior, depresi atau hilangnya makna hidup. Orang tunanetra memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitasnya.
Istilah tunanetra sendiri mulai populer dalam dunia pedidikan yang dirasa cukup tepat menggambarkan keadaan penderita yang mengalami kelainan indra penglihatan. Sedangkan istilah ”buta” melukiskan keadaan mata yang rusak baik sebelah maupun keseluruhan sehingga mata tidak lagi dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tunanetra dapat terjadi karena berbagai akibat yaitu ada yang bawaan sejak lahir, akibat kecelakaan, ataupun terkena virus dan penyakit lainnya. Butuh waktu bagi tunanetra untuk menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan lingkungannya, karena mereka tidak dapat mengandalkan indra visualnya dan dengan telinga mereka melihat dunianya. (http://www.babebengong.net)
Sebagian orang menempatkan ketakutan pada kebutaan pada rangking tetinggi. Ketakutan personal mungkin diungkapkan dengan cara menghindari atau merasa tidak nyaman berada dengan orang buta. Lowenfeld menjelaskan sikap-sikap terhadap orang-orang yang buta, secara historis berkembang dari bentuk-bentuk yang sangat negatife berupa pemisahan (annihilation), sampai ke usaha-usaha yang lebih “memanusiawi” dalam memberi perlindungan yang mengisolasi ke dalam sekolah berasrama, dan akhirnya bergerak ke arah integrasi orang-orang yang berkelainan peglihatan ke dalam masyarakat (Smith, 2006: 233).
Karena ketakutan tersebut seseorang sering merasa malu bila mendapati keluarganya dan bahkan dirinya sendiri dalam keadaan berpenglihatan buruk ataupun tunanetra. Mereka juga merasa sulit melakukan berbagai aktivitas terutama dalam interaksi sosial dan pendidikan sehingga merasa tidak mampu untuk mencapai prestasi. Sebagaimana kisah Jon Joven (2006: 255) berikut ini:
“John dinyatakan menderita retinitas pigmentosa saat berusia 8 tahun 10 bulan. Dia kehilangan penglihatannya, berkurang sebagian demi sebagian dimulai sejak bayi dan tidak terdeteksi. Dia tidak menyadari akan penglihatannya yang berbeda dengan orang lain. Dia hanya memiliki 40 derajat penglihatan pada tiap-tiap matanya. Penglihatannya sangat buruk terutama di tempat yang bercahaya redup. Dokter memperkirakan Jon akan buta total sebelum menyelesaikan pendidikan lanjutannya….
Nyonya Joven berkata, beberapa teman Jon mulai mengetahui kondisi penglihatannya dan rupanya dia menjadi sangat sensitive terhadap hal itu serta merasa malu. Kondisi penglihatanyya menjadi symbol bagi Jon bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya yaitu bahwa dia seorang yang cacat. Nyonya Joven merasa  kemampuan akademis Jon yang kurang memuaskan menjadikan sekolah menjadi hal yang sangat sulit dan tidak disukainya. Dia tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan mudah merasa gagal. Dia berpendapat sangat sulit meraih keberhasilan yang kecil sekalipun untuk orang buta seperti dirinya. (Smith. 2006:255-256)
  
Sama halnya dengan manusia normal, tunanetra juga memerlukan pendidikan, sekolah, bimbingan, pelatihan dan lain-lain. Wujudnya dalam bentuk formal, informal dan nonformal yang berguna bagi perkembangan pengetahuan mental mereka. Bagi mereka yang memiliki kemampuan tentu dapat melanjutkan pendidikannya dengan mudah. Namun pada kenyataannya masih banyak orang yang memiliki kesulitan untuk menempuh pendidikan karena alasan-alasan tertentu seperti kurangnya biaya maupun kondisi fisik dan psikis yang tidak sempurna. Padahal untuk mereka yang memiliki keterbatasan kondisi fisik dapat menempuh pendidikan di sekolah khusus sehingga kemampuan mereka dapat dioptimalkan. Tidak menutup kemungkinan juga bagi tunanetra untuk belajar dengan layak dan mencapai prestasi.
Berdasarkan UUD 45 ayat (1) dikatakan bahwa “Setiap warga berhak mendapat pendidikan dan pengajaran”, dan pada ayat (2) dinyatakan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarkan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang”. Berdasarkan UUD 45 tersebut, maka pada hakikatnya tidak terdapat perbedaan antara warga negara yang normal dengan mereka yang mengalami kebutuhan khusus (tunanetra) untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Bertolak dari undang-undang 1945 pasal 31 maka disusunlah undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional atau yang dikenal dengan USPN. Dalam USPN pasal 8 ayat (1) dinyatakan bahwa “Warga Negara yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental berhak memperoleh pendidikan” dan pada ayat (2) dinyatakan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dalam undang-undang. Undang-undang ini semakin mempertegas hak untuk mengenyam pendidikan bagi semua lapisan masyarakat, karena setiap orang berpotensi untuk berprestasi dalam dunia pendidikan. (http://www.ditplb.or.id)
Pada dasarnya, tunanetra memiliki tingkat inteligensi yang memadai dan bahkan ada yang di atas rata-rata anak normal, tinggal bagaimana kemampuan mereka mengelola diri dan mengoptimalkan apa yang telah dimilikinya melalui pendidikan di sekolah. Seperti halnya peserta didik yang lain tunanetra juga dituntut untuk mendapatkan nilai dan prestasi yang baik. Dalam memenuhi tuntutan untuk berprestasi tunanetra harus belajar giat dan dapat mengatur waktu dan cara belajarnya dengan baik meskipun dihadapi kendala-kendala yang berhubungan dengan fisik maupun fasilitas yang kurang mendukung dalam belajar. Karena ketidakmampuan mengatur diri tidak sedikit tunanetra yang gagal dalam pengembangan kognitifnya.
Penyandang tunanetra perlu pengaturan diri (self-regulation) yang baik dalam menjalanka pendidikannya. Ia harus belajar bagaimana mengatur proses belajarnya sehingga ia dapat memahami apa yang telah diberikan oleh guru dalam proses pebelajaran. Selain itu dalam pebelajaran tunanetra perlu adanya keyakinan untuk dapat mencapai apa yang diinginkan sehingga memiliki tujuan atau orentasi yang jelas dalam pendidikan. Untuk mencapai self-regulation learning yang baik perlu menumbuhkan keyakinan (self-efficacy) dan motivasi yang berpengaruh penting dalam pengembangan potensi atau kemampuan diri. Motivasi itu tidak sebatas dari dirinya sendiri tetapi juga orang tua, keluarga dan lingkungannya yang baik secara langsung maupun tidak langsung turut memberikan andil bagi keberhasilannya. Dengan motivasi dan keyakinan yang dimiliki seseorang dapat menentukan tujuan yang ingin dicapai.
Tidak hanya pendidikan, keterampilan juga merupakan hal yang penting bagi tunanetra. Dengan keterampilan yang dimiliki beberapa tunanetra dapat mencapai prestasi, seperti yang dijumpai pada festival Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menampilkan anak-anak tunanetra dengan keahliannya yang menakjubkan seperti bernyanyi, memainkan alat musik dan bahkan ada pula yang pandai memprogram komputer yang orang normal saja tidak semua dapat melakukannya. Salah satu anak tnanetra yang menunukkan prestasinya adalah Basyir. Ia mahasiswa Pndidikan Luar Biasa (PLB) Unesa yang baru saja lulus dan pernah mengikuti ajang pemilihan bakat di salah satu stasiun televisi swasta yaitu program IMB (Indonesia Memilih Bakat) dan berhasil masuk 15 besar karena keterampilan bernyanyi dan memainkan musiknya yang bagus. Walaupun tidak menjadi juara, setidaknya ia telah menunjukkan bahwa tunanetra juga mampu berprestasi jika ia dapat mengembangkan kemampuannya. Untuk mengembangkan keahliannya mereka memerlukan wadah sebagai tempat bimbingan yaitu sekolah. Walaupun tidak semua tunanetra yang sekolah dapat mencapai prestasi, namun sekolah dirasa begitu penting dalam pengembangan diri penyandang cacat mata. Berikut pengakuan seorang penyandang tunanetra yang mencapai prestasi (www.tempointeraktif.com):
Tunanetra kerap dicap sebagai tukang pijat dan pemain musik. Saya tertantang untuk berkarya di kalangan orang-orang normal. Saya menderita Retinitas Pigmentosa sejak berusia 10 tahun dan ketika duduk di kelas VI SD saya tidak dapat bersekolah lagi karena tidak dapat menulis di buku. Pada usia 17 tahun saya mengalami kebutaan total dan rasa iri muncul karena kakak dan adik saya pergi ke rsekolah. Akhirnya saya menempuh pendidikan di Sekolah Tunagrahita Bakti Luhur Malang. Saat dokter memberi tahu bahwa penyakit saya tidak dapat disembuhkan saya mengisolasi diri dari dunia luar selama satu bulan. Namun orang tua dan keluarga semakin terpacu untuk memberi dukungan melalui konsultasi panjang dengan psikolog. Saya bangkit setelah membandingkan kondisi teman-teman tunagrahita, mereka punya mata dan kuping tapi tidak pernah dipakai secara baik. Saya melanjutkan sekolah hingga selesai sarjana di IKIP Santa Dharma Jogja dan mengambil Master Of Sains di Universitas Indonesia. Karena nilai-nilai saya yang bagus, saya memperoleh beasiswa dari British Counsil dan melanjutkan kuliah kedoktorannya di Faculty of Earth and Life Sciences Universitas of Amsterdam di Belanda. Bagi saya belajar itu mengasyikkan dan orang tunanetra harus bisa menyimak dengan baik untuk memperoleh dan memahami informasi. Kini saya menjadi dosen di Universitas Indonesia.
“Dra. Mimi Mariana Lusi, M.Si.,M.A.”
Kisah lain muncul dari Eko Ramaditya Adikarya yang biasa dipanggil Rama dan sekarang bekerja di detik.com (http://www.ramaditya.com). Ia berusaha menembus keterbatasan visual yang membatasi dirinya. Lulusan Fakultas Sastra Universitas Darma Persada ini terlahir tunanetra, meskipun demikian dukungan dan semangat dari keluarga membuat ia menjadi pemuda yang pantang menyerah. Saat ini beberapa profesi sekaligus digelutinya mulai dari game, komposer musik, blogger, motivator, penulis, wartawan, dan terakhir editor. Walaupun sudah tunanetra sejak lahir Rama mampu melakukan pekerjaan yang sudah biasa dilakukan orang yang berpenglihatan.
Kisah hidup Rama kian menarik ketika kesukaannya pada games membawanya terlibat dalam penataan musik Nintendo untuk video games Super Smash Brothers Browl yang dirilis 10 Februari 2008, sejak itu dia rajin menggugah musik. Karya komposisi musik yang sudah dibuatnya lebih dari seratus buah. Tiga diantaranya dipakai untuk tema lagu permainan Final Fantasy VII, sebuah permainan buatan Jepang yang sangat terkenal di kalangan pencinta games komputer, termasuk Indonesia. Pada tahun 2003 ia membuat blog dan didesain sendiri serta dilengkapi musik latar yang juga digubahnya sendiri.
”saya meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi. Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan normal” (www.ramaditya.com)

Rama adalah salah satu contoh sukses seorang tunanetra yang berhasil membuktikan bahwa kebutaan bukanlah suatu hal yang membatasi seseorang untuk meraih kesuksesan dan mengukir prestasi dalam hidupnya. Pada usianya yang terbilang muda (kelahiran Semarang, 3 Februari 1981)  ia telah menerbitkan dua buah buku dalam bentuk awas hasil karyanya sendiri. Buku-buku yang ia tulis lebih banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya serta bagaimana ia mengambil pelajaran dari setiap kejadian dalam hidupnya. Buku yang diberi judul ”Blind Power: Berdamai dengan kegelapan” ini telah menjadi motivasi bagi banyak orang tidak hanya tunanetra saja. Keberhasilannya juga tidak terlepas dari usaha belajarnya selama ia duduk di bangku PLB.
Kelangsungan akan pendidikan tunanetra sering tergantung pada PLB (Pendidikan Luar Biasa) sehingga untuk dapat mewujudkan prestasi mereka harus mempersiapkan diri dengan pembekalan yang diperoleh dari PLB untuk masa yang akan datang sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri bagi dirinya dengan bakat yang telah dianugrahkan tuhan kepadanya dan mencapai prestasi sebagaimana anak tanpa cacat mata. Untuk mewujudkan kesemuanya itu seseorang harus memiliki kemampuan self regulation learning yang baik dalam upaya mencapai prestasi yang diinginkan. Dengan dapat mengatur dirinya dalam proses pebelajaran baik dalam mengorganisasi penggalian informasi maupun menajemen dirinya sendiri dalam menghadapi berbagai situasi belajar, tunanetra dapat menentukan tujuan pebelajaran secara jelas sehingga dapat direalisasikan apa yang menjadi tujuan utamanya. Terutama bagi tunanetra yang dalam menjalani hidupnya harus menggunakan perasaan bukan visual.
Penelitian terdahulu oleh Marsono Welfry Marsel Sitohang (2009) tentang Makna Sekolah Bagi Tunanetra, menunjukkan bahwa tunanetra juga menginginkan kemajuan hidup, kelayakan, dan kemandirian sehingga untuk mendapatkannya tunanetra mengikuti pendidikan formal yang memberikan berbagai keterampilan, pelatihan ntuk mengembangkan bakat dan memaksimalkan potensi kognitif yang dimiliki melalui belajar ntuk mencapai prestasi.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Mujidin Ahmad Dhuhri Nur Shidiq (2008) tentang Perbedaan Self Regulation Learning Antara Siswa Underchiever dan Siswa Overachievers Pada Kelas 3 SMP Negeri 6 Yogyakarta, menunjukkan bahwa self regulation learning memiliki peran yang cukup penting dalam proses belajar dan pencapaian prestasi belajar sehingga usaha siswa untuk memanfaatkan kemampuan yang dimiliki atau potensi diri dengan baik serta kemampuan mengelolah proses belajarnya dalam kegiatan belajar sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah sangat menentukan keberhasilan pendidikan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada kenyataannya tunanetra juga memiliki keinginan untuk brprestasi dan dapat mengembangkan potensinya untuk mencapai prestasi dengan usaha-usaha belajar yang berbeda pada setiap individu karena pada hakikatnya setiap individu memiliki cara belajar yang berbeda. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana tunanetra mengatur dirinya dalam pebelajaran dan pendidikan sehingga memperoleh prestasi yang memuaskan, peneliti juga ingin melihat bagaimana kehidupan sosial tunanetra berdasarkan sosial-budaya, ekonomi, dan jenis tunanetra yang berbeda yang secara langsung atau tidak langsung ikut mempengaruhi perjalanan hidupnya dalam mencapai prestasi. Untuk itu penulis merumuskan kedalam penelitian yang berjudul “Self Regulation Learning Pada Tunanetra Berprestasi”.
B.     Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti menentukan fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk self-regulation learning pada tunanetra berprestasi.
C.    Tujuan Penelitian
Dari fokus penelitian yang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk self-regulation learning pada tunanetra berprestasi.

D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini meliputi:
1.      Manfaat Teoritis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai baan kajian dan pendalaman terkait dengan mata kuliah program studi psikologi, khususnya pendidikan, serta dapat dijadikan sebagai bahan koreksi yang konstruktif untuk mengembangkan dan menambah pemahaman.
2.      Manfaat Praktis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat untuk memahami penderita cacat mata dan peduli dengan pendidikannya, serta memahami informasi bagaimana sebenarnya cara pengaturan diri penyandang cacat mata sehingga dapat mencapai prestasi yang tinggi dengan keterbatasan yang dimiliki. Selain itu juga diharapkan hasil penelitian ini dapat memberi masukan bagi peningkatan kualitas pendidikan tunanetra di YPAB Surabaya.
E.     Sistmatika Pembahasan
Laporan penelitian dalam skripsi ini akan teruji dalam lima bab, yaitu:
BAB I: PENDAHULUAN
            Peneliti menulis beberapa hal yang berkaitan dengan perncanaan yang akan dilakukan, atau disebut dengan proposal pnelitian. Dalam bab ini meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah atau focus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dn sistematika pembahasan.
BAB II:   KAJIAN PUSTAKA
            Kajian pustaka pada bagian ini, peneliti akan membahas mengenai tiga hal, yang pertama adalah tunanetra, yang meliputi: pengertian tunanetra, karakter dan ciri-ciri  tunanetra, penggolongan tunanetra, faktor-faktor penyebab munculnya tunanetra dan penanganannya serta alat bantu yang digunakan untuk tunanetra. Pembahasan yang kedua adalah prestasi, yang meliputi: pengertian prestasi, macam-macam prestasi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi tercapainya prestasi. Sedangkan pembahasan yang ketiga adalah self regulation learning, yang meliputi: pengertian self regulation learning, unsur-unsur self regulation learning, faktor-faktor yang mempengaruhi self regulation learning, karakteristik self regulation learning, fase-fase self regulation learning dan strategi self regulation learning.
BAB III: METODE PENELITIAN
            Bab ini menegaskan beberapa konsep penlitian yang dilakukan, disini  peneliti membahas mengenai: pendekatan dan jenis penelitian, subyek penelitian, jenis dan sumber data, tahap-tahap penelitian, tehnik pengumpulan data dan tehnik analisis data.
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
            Bab ini akan membahas empat hal, yang pertama, yakni pelaksanaan penelitian yang meliputi: prosedur pelaksanaan dan persiapan penelitian serta pemilihan subyek penelitian. Hal yang kedua, yakni penjabaran mengenai gambaran setting penelitian, yang meliputi: letak geografis, kondisi pendidikan, perekonomian, dan sosialisasi dalam keluarga. Yang ketiga, yakni penyajian data, yang didalamnya mendeskripsikan secara detail hasil yang diperoleh dari penelitian, yang berupa hasil wawancara, observasi dan didukung dengan dokumentasi. Dan yang keempat dalam pembahasan ini adalah analisis data dan pembahasan tiap kasus penelitian.
BAB V: PENUTUP
            Bab ini merupakan bab akhir dalam penelitian, yang berisi tentang kesimpulan dan saran.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar